HIKMAH DI BALIK KISAH ANTARA NABI SULAIMAN DAN BALQIS

JIC – Berbagai kisah di masa lalu dapat menjadi hikmah di masa sekarang. Misalnya pada kisah Ratu Balqis dan Nabi Sulaiman, ‘alaihissalam. Setidaknya ada lima hikmah yang bisa kita petik dari kisah-kisah itu.

Pertama, hikmah tentang rasa hormat-menghormati dan menjauhi sikap sombong. Allah SWT berfirman:

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ إِنِّي أُلْقِيَ إِلَيَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ إِنَّهُ مِنْ سُلَيْمَانَ وَإِنَّهُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ أَلَّا تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Dia (Balqis) berkata, “Wahai para pembesar! Sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.”

Sesungguhnya (surat) itu dari Sulaiman yang isinya, “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, janganlah engkau berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS An-Naml: 29-31)

Kedua, adalah hikmah bermusyawarah bagi orang-orang yang memiliki jabatan sebagai pimpinan. Hal ini sekaligus sebagai bentuk penolakan terhadap prinsip kediktatoran dalam pemerintahan.

Nabi Sulaiman pun selama memimpin kerajaan telah menghasilkan perubahan di berbagai hal salah satunya menjadikan kerajaannya berdaulat. Allah SWT berfirman:

قَالُوا نَحْنُ أُولُو قُوَّةٍ وَأُولُو بَأْسٍ شَدِيدٍ وَالْأَمْرُ إِلَيْكِ فَانْظُرِي مَاذَا تَأْمُرِينَ

“Mereka menjawab, ‘Kita memiliki kekuatan dan keberanian yang luar biasa (untuk berperang), tetapi keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan engkau perintahkan.'” (QS An-Naml: 33)

Ketiga, hikmahnya adalah kita menjadi tahu soal pengetahuan tentang sejarah bangsa-bangsa terdahulu, raja, dan para penakluk. Allah SWT berfirman:

قَالَتْ إِنَّ الْمُلُوكَ إِذَا دَخَلُوا قَرْيَةً أَفْسَدُوهَا وَجَعَلُوا أَعِزَّةَ أَهْلِهَا أَذِلَّةً ۖ وَكَذَٰلِكَ يَفْعَلُونَ

“Dia (Balqis) berkata, ‘Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.'” (QS An-Naml: 34).

Keempat, hikmahnya ialah mengevaluasi kondisi politik dan militer. Jika Nabi Sulaiman dikirimi hadiah dari salah satu raja di dunia ini maka dia akan senang dan menerima demi meredakan ketegangan antarkedua kerajaan.

Namun utusan kerajaan lain datang menemui, maka Nabi Sulaiman akan menolaknya kecuali dengan menyatakan ketauhidannya. Dengan begitu, utusan tersebut akan membawa kabar tentang Nabi Sulaiman, kerajaannya, dan tentaranya. Bahkan utusan kerajaan lain sampai menyiapkan hadiah untuk Nabi Sulaiman.

فَلَمَّا جَاءَ سُلَيْمَانَ قَالَ أَتُمِدُّونَنِ بِمَالٍ فَمَا آتَانِيَ اللَّهُ خَيْرٌ مِمَّا آتَاكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُونَ

“Maka ketika para (utusan itu) sampai kepada Sulaiman, dia (Sulaiman) berkata, “Apakah kamu akan memberi harta kepadaku? Apa yang Allah berikan kepadaku lebih baik daripada apa yang Allah berikan kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.”

ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ

“Kembalilah kepada mereka! Sungguh, Kami pasti akan mendatangi mereka dengan bala tentara yang mereka tidak mampu melawannya, dan akan kami usir mereka dari negeri itu (Saba’) secara terhina dan mereka akan menjadi (tawanan) yang hina dina.” (QS An-Naml: 36-37)

Hikmah kelima adalah tentang kecerdasan dan ketajaman. Perjalanan dari Saba dan Yaman ke Yerusalem, tempat tinggal Nabi Sulaiman, memakan waktu tiga bulan.

Sulaiman ingin menguji kecerdasan Balqis dengan menunjukkan kepadanya rahmat Allah SWT atas dirinya dan kerajaannya yang tidak boleh dimiliki siapapun.  Allah SWT berfirman:

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ قَالَ عِفْرِيتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

“Dia (Sulaiman) berkata, “Wahai para pembesar! Siapakah di antara kamu yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku menyerahkan diri?” Lalu ‘Ifrit dari golongan jin berkata, “Akulah yang akan membawanya kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; dan sungguh, aku kuat melakukannya dan dapat dipercaya.” (QS. An-Naml: 38-39)

Sumber : republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

TIGA KUNCI KEBERKAHAN

Read Next

MENUJU RAMADHAN, KENALI MANA YANG SYARIAT DENGAN TRADISI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

seventeen + 15 =