HIKMAH KH HASYIM MUZADI: KALAU KITA DIPENGGAL WAKTU

Ilustrasi Remaja Laki laki tidur dengan menggunakan Beker ; Jam ; Foto : Musiron / Republika ; 19 April 2007 ;

Ungkapan kita dipenggal waktu merupakan refleksi dari vitalnya masa. Ilustrasi waktu.       Foto: Republika/Musiron

Ungkapan kita dipenggal waktu merupakan refleksi dari vitalnya masa.

JIC,— Konon, Allah SWT jarang sekali bersumpah atas nama sesuatu kalau memang tidak memiliki maksud-maksud khusus dan istimewa.

Dalam banyak ayat di Alquran, Allah hanya memilih hal-hal tertentu yang digunakan untuk melontarkan sumpah. Misalnya, bersumpah dengan menyebutkan penciptaan langit, bumi, bulan, matahari serta hal-hal yang susah dijangkau melalui pengetahuan biasa manusia.

Tetapi ada sebuah makhluk-Nya yang juga Dia jadikan alat untuk sebuah sumpah; yakni waktu. Siapa yang menciptakan waktu? Jawabannya tunggal: Allah SWT. Rahasia waktu juga hanya milik Allah, tetapi rangkaian serta makna dan implikasinya amat kuat dalam kehidupan manusia. Hanya waktu yang mengawali kehidupan manusia dan juga hanya waktu yang menandai berakhirnya hidup seorang anak Adam.

Dalam sebuah surat amat terkenal dan biasa dikumandangkan para dai atau qari, yakni surah al-Ashri, Allah menuntun kita untuk pandai-pandai memaknai waktu. Allah bersumpah “Demi Waktu [Masa]!” Wal Ashri. Hanya waktu yang menentukan kapan seseorang akan naik jabatan dan hanya waktu pula yang menentukan seseorang akan terjungkal dari kekuasaannya.

Cuma waktu yang dengan segala rahasianya mampu menggenggam nyawa seseorang dan cuma waktu yang mampu menanam nyawa seseorang dengan izin Allah. Waktu berkelabat dengan cepat seperti tak ada kekuatan lain yang mampu menandinginya termasuk kekuatan cahaya, suara apalagi kekuatan supersonik.

Begitu berpengaruhnya waktu bagi kehidupan anak manusia, sampai-sampai khalifah Umar Bin Khattab memandang waktu sebagai sesuatu yang sangat mengerikan.

“Al-Waqtu kassaifi inlam taqtho’hu qotho’aka” [waktu ibarat pedang, kalau tidak segera kau memenggalnya, maka ia akan memenggalmu]. Demikian Sayyidina Umar mengingatkan kita soal waktu. Bisakah waktu ditaklukkan? Tantu saja bisa, seperti Allah sudah menuntun kita dalam lanjutan surah al-Ashr tadi. Hanya orang-orang beriman dan beramal saleh saja yang akan mengambil keuntungan besar dari penciptaan waktu.

Sekarang mari kita pejamkan mata sejenak saja. Lantas kita berpikir, seandainya kita terus berada dalam kegelapan, bagaimana kita membayangkan kehidupan ini? Coba kita tutup telinga kita sampai tak terdengar sedikit pun suara berdesir di sekitar kita.

Lantas kita bayangkan seandainya kita tidak bisa mendengar selamanya. Sekarang mari kita tutup mulut kita sampai tak ada sesuatu pun yang bisa keluar dan masuk ke dalam mulut kita.

Coba kita tahan tangan kita sekitar beberapa menit untuk tidak bergerak, lantas kita bayangkan betapa beratnya hidup ini tanpa tangan yang berfungsi dengan baik. Coba kita berdiri dengan satu kaki, lantas kita bayangkan betapa susahnya menjalani hidup hanya dengan satu kaki.

Yang paling menyiksa adalah kalau kita mencoba menahan napas walau hanya satu menit, bagaimana bisa kita membayangkan kalau napas kita tertahan lebih lama lagi.

Hanya waktu yang membuat kita bisa membuka mata, membuat telinga mengembang, membuat mulut berfungsi dengan baik, dan membuat napas kembali mengalir lancar. Hanya waktu yang menentukan kapan kita bisa menjadi manusia-manusia beriman yang mampu melakukan amal saleh.

Tak terbayangkan, betapa besarnya karunia Allah kepada kita. Nikmat penglihatan, karunia pendengaran, anugerah tangan dan kaki serta hembusan napas, adalah “nikmat biasa” yang jarang sekali kita syukuri, padalah waktu sudah jauh memenggal jatah masa hidup kita.

Sekarang, mari kita bermuhasabah, sudah berapa detikkah waktu meninggalkan kita? Sudah berapa menitkah jatah umur kita dipenggal waktu? Sudah berapa jamkah waktu berlalu begitu saja tanpa kita sadari?

Sudah berada di bagian manakah dari waktu yang tersedia bagi kita, ketika jarum jam menunjukkan angka-angka? Sudah berapa minggu, bulan dan tahunkah kita menyia-nyiakan waktu sehingga waktu membiarkan kita tanpa amal saleh?

Sungguh, waktu telah melakukan banyak, sementara kita belum melakukan apa-apa. Jatah umur kita benar-benar sudah dipenggal oleh waktu padahal kita tidak pernah dan tidak akan pernah tahu pada angka berapakah jatah waktu kita akan habis.

 

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MENAG DORONG ANAK MUDA KEMBANGKAN DAKWAH DIGITAL

Read Next

INI HAK-HAK TETANGGA DALAM ISLAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen − fourteen =