HJ. SITI SURYANI TAHER : PENDIRI MTKIA DAN SINGA PODIUM PEREMPUAN BETAWI

Dr. Hj. Siti Suryani Taher dikenal sebagai singa podium perempuan Betawi. Ia Lahir di Jakarta, 1 Januari 1940 dari pasangan almarhum KH. M. Thohir Rohili dan almarhumah Hj. Salbiyah Ramli, keluarga yang menjalankan dengan teguh ajaran Islam dan wafat pada hari Sabtu, 5 September 2015.

Di masa kecilnya, pada 1947, Suryani saban hari ikut Sekolah Rakyat di Bukit Pasir Duri, Kebon Baru, Jakarta Selatan. Sore harinya, dia belajar agama di Madrasah Dinniyah Awwaliyah as-Syafi’iyah, Bali Matraman, Jakarta. Gadis cerdas ini mendapatkan bimbingan langsung dari KH.Abdullah Syafi’i.

Kemudian, Suryani melanjutkan sekolah di Diniyah Putri Padang Panjang, Sumatera Barat. Setelah tamat, Suryani bersama Sembilan saudaranya dikirim ke Timur Tengah. Suryani, Syauqi, Anwar Sadat, Nonon Thoyibah, dan Dardiyah melanjutkan pendidikan di Mesir. Sedangkan Ambariyah di Mekah, Khudriyah di Madinah, Darmiyah di Irak, dan A. Ghozi di Syria.

Demikianlah KH. Thohir mendidik anak-anak tanpa membedakan jenis kelamin. Baginya, laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama dalam mengemban pendidikan.

Suryani menikah dengan Drs. H. Syathiry Ahmad, seorang sarjana jebolan lAIN Sunan Kalijaga yang mendapatkan beasiswa dari Univeritas al-Azhar Kairo. Sementara itu, Suryani kuliah di Kuliyatu Ii al-Banat jurusan Dirasah Islamiyah. Pasangan tersebut tinggal di Mesir selama delapan tahun.

Sekembalinya dari Mesir, Suryani membuka ta’lim di rumahnya, yang semula hanya diikuti sekitar 12 orang. Namun, seiring berjalannya waktu, jamaahnya semakin banyak hingga tersebar di berbagai daerah di Jabodetabek.

Perkembangan yang pesat mendorong Suryani meresmikan Majelis Ta’lim Kaum Ibu Attahiriyah (MTKIA). Kemudian, dibantu suami tercintanya, Suryani mengembangkan sayap dakwah dengan mendirikan Kursus Bahasa Arab dan Agama. Agenda dakwah yang mulia tersebut mengalami perkembangan di berbagai bidang.

Di samping itu, Suryani membesarkan perguruan milik ayahnya, yakni Yayasan Addiniyah Attahiriyah bersama suaminya. Berkat pengalaman organisasinya menjadi ketua Himpunan Pemuda Pelajar Indonesia di Mesir. Beliau berhasil mengumpulkan kawan-kawannya untuk turut membesarkan Universitas Attahiriyah. Selain itu, Suryani mewadahi mereka dalam Perhimpunan Alumni Timur Tengah. Oleh karena itu, pada masa itu, universitas tersebut menjadi tujuan para tamu Negara asal Timur Tengah.

Suryani dikenal sebagai ulama perempuan yang mempelopori kesetaraan perempuan dalam status sosial mereka di masyarakat. Hal ini beliau tunjukkan dengan menjadi ketua HPPI di Kairo, pemimpin MTKIA, serta Ketua Yayasan YAA.

Kiprahnya di MTKIA paling monumental, hingga Suryani dikenal sebagai “Singa Podium Betawi.” MTKIA menjadi wadah pertama pendidikan non-formal perempuan di Jakarta, serta berhasil melahirkan da’i berkualitas yang berdakwah terutama di kalangan perempuan. Jama’ahnya tercatat kurang lebih 50 ribu orang dan mengalami peningkatan setiap tahunnya.

Suryani berhasil mengubah paradigma kultur daerah yang memandang kaum perempuan dengan posisi rendah. Suryani berhasil mendobrak kultur masyarakat yang membatasi ruang gerak mereka di dunia pendidikan menjadi perempuan yang aktif, berilmu, dan berdaya.

Selain itu, berkat MTKIA, perempuan memiliki nilai tawar (bargaining position) dalam pengumpulan dan dukungan suara.  Perempuan bisa memiliki kesempatan untuk menjadi pejabat, serta pengambil keputusan yang setara dengan kaum pria. Sehingga, perempuan bisa berkiprah dalam ranah politik berkat kekuatan MTKIA.

Suryani juga telah menciptakan kultur “perempuan majelis taklim” di negeri ini. Sehingga, ganjil rasanya bila seorang perempuan tidak pernah pergi ke mejelis taklim (pengajian). Berkat Suryani, pengajian majelis taklim kini inheren dengan perempuan, baik dari kalangan ibu rumah tangga hingga perempuan sosialita.

Bagi Suryani, dakwah adalah kontrak hidupnya di jalan Allah. Semoga menjadi inspirasi bagi kaum perempuan dan juga bagi umat manusia di Indonesia.

Sumber : Zainab/Islam Indonesia (www.islamindonesia.id)

Write a Reply or Comment

16 − 2 =