Hj. SITI ZUBAIDAH

Di Betawi, ada beberapa sosok ulama perempuan atau mubalighah yang fenomenal. Seperti Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS yang dengan BKMT-nya yang sabtu kemarin genap berusia 30 tahun dan mampu mematahkan dominasi kaum pria dalam urusan dakwah; baik di tanah Betawi, di Jakarta, bahkan sampai di tingkat nasional dan internasional. Selain dia, yang masih satu generasi, adalah Dr. Hj. Suryani Thahir dan Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi.

Di Betawi, ada beberapa sosok ulama perempuan atau mubalighah yang fenomenal. Seperti Prof. Dr. Hj. Tutty Alawiyah AS yang dengan BKMT-nya yang sabtu kemarin genap berusia 30 tahun dan mampu mematahkan dominasi kaum pria dalam urusan dakwah; baik di tanah Betawi, di Jakarta, bahkan sampai di tingkat nasional dan internasional. Selain dia, yang masih satu generasi, adalah Dr. Hj. Suryani Thahir dan Dr. Hj. Faizah Ali Syibromalisi.

Sedangkan sosok ulama Betawi perempuan mutaakhir yang bukan muballighah kondang, namun kualitas karya tulisnya tidak kalah dengan karya-karya ulama Betawi pria adalah Hj. Siti Zubaidah. Nama lengkapnya Siti Zubaidah binti H. Hasanuddin. Ia merupakan anak pertama dari sembilan saudara dari hasil perkawinan H. Hasanuddin dan Hj. Hindun. Lahir sekitar tahun 1941 atau tahun 1942 di Cipinang Kebembem, Jatinegara.

Sejak kecil sampai menikah, ia mengaji kitab kuning kepada KH. Abdul Hadi, seorang ulama Betawi di Cipinang Kebembem. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya adalah nahwu shorof, akidah, akhlak dan fiqih. Di usia sekitar 21 tahun atau Pada tahun 1962, ia dinikahi oleh KH. Hasbiyallah pendiri Perguruan Islam Al-Wathoniyah sebagai istri yang ketiga. Dari hasil perkawinannya ini, ia dikarunia dua orang anak, putra dan putri, yaitu Hj. Hilmah dan H. Saifullah Hasbiyallah. Pada tahun 1973, ia menunaikan ibadah haji yang pertama. Kemudian menunaikan ibadah haji kembali pada tahun 1978, 1994, 1995, dan tahun 1996. Seringnya ia pergi hari karena ia membuka bimbingan haji pada tahun 1994. Pada tahun 1996, bimbingan hajinya berbadan hukum yayasan dengan nama KBIH Al-Istiqamah Az-Zubaidiyyah yang kini diteruskan oleh anaknya, KH. Saifullah Hasbiyallah.

Walau sudah menikah dan kemudian mempunyai anak, ia tetap menerukan pendidikan agama non-formalnya dengan mengaji kitab kuning kepada suaminya, KH. Hasbiyallah. Ia tipe pembelajar yang tekun dan gigih. Hampir setiap hari, ia mengaji kitab kuning setiap selesai sholat dzuhur atau selesai sholat ashar, tergantung waktu yang diluangkan oleh suaminya sampai kitab-kitab yang dipelajarinya itu selesai atau khatam. Maka wajar jika ia sangat paham tentang isi kitab Alfiyah Syarah Ibnu Malik, Bulughul Maram dan Ihya `Ulumiddin.

Selain mengaji, ia juga turut mengajar di 22 majelis taklim ibu-ibu setiap bulannya. Majelis taklimnya tersebar di sekitar Klender, Tanah Koja, Kampung Bulak, Kampung Sumur, Rawa Badung, Kampung Jati, Cipinang dan Pulo Kambing. Ia juga menjadi guru tetap di majelis taklim ibu-ibu di Kelurahan Jatinegara Kecamatan Cakung, Jakarta Timur. Selain mengajar keluar, ia juga dipercaya oleh suaminya untuk mengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah. Bahkan, ia membantu suaminya untuk mencarikan dana ketika pondok pesantren tersebut dalam masa pembangunan. Cara yang dilakukannya untuk mencari dana pembangunan tersebut cukup unik bahkan terbilang cerdas pada masa itu, yaitu dengan menulis sebuah risalah berbahasa Arab Melayu yang berjudul Kaifiyah Sembahyang Tarawih dan Sholat Iedain. Risalah ini kemudian ia cetak dan diperbanyak kemudian dijual kepada murid-muridnya dan kepada murid atau jama`ah suaminya. Uang hasil penjualan risalah ini kemudian digunakan untuk membangun pondok pesantren putri tersebut. Sebenarnya, ia banyak menulis risalah, namun tidak sempat tercetak, sebagian hanya dikopikan dan dibagikan. Risalah-risalah yang masih berbentuk manuskrip itu kini hilang pada saat kediamannya dilakukan renovasi untuk pelebaran jalan raya.

Santri-santrinya yang mondok dan yang pulang pergi (santri kalong) berasal dari sekitar Klender, Bogor, Cinere, Taman Mini, dan yang terbanyak dari Bekasi. Pada tahun 1986, ia tidak lagi menerima santri yang menginap, hanya menerima santri yang pulang pergi sampai ia wafat pada tahun 1996 tepatnya pada tanggal 22 Rabi`ul Tsani dan dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga besar KH. Hasbiyallah di depan Masjid Jami` Al-Ma`mur, Klender.

Akhirul kalam, dari paparan riwayat hidup Hj. Siti Zubaidah, ada satu pelajaran yang dapat dipetik oleh para ustadzah atau muballighah, yaitu tentang penguasaan dakwah bil qalam.Terlebih di era teknologi informasi ini, para ustadzah atau muballighah tidak hanya dituntut untuk mampu mengajar dan ceramah saja, tetapi dituntut untuk mampu menulis dan melahirkan karya tulis yang berkualitas agar pesan dakwah yang disampaikan dapat tersebar secara luas dan dinikmati terus-menerus, baik di media cetak mapun di media elektronik seperti internet. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MAULID, NEVER DIES !

Read Next

Jadwal Sholat Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 3 =