IBRAH MEMILIH JODOH DARI UMMU SULAIM

CIVILITA.COM – Sahabat, meski tidak ada yang bisa melarang kita menikah dengan wanita pilihan kita. Tapi ingatlah bahwa pernikahan membutuhkan kesepahaman (mindset) tentang hidup. Mindset kita dan pasangan tentang kehidupan. Sedangkan tidak ada yang bisa memberikan cara pandang yang benar dan utuh kecuali iman. Ibarat sekoci yang diisi dua pendayung, keduanya harus sepakat tentang tujuan pelayaran agar tidak ada yang celaka di tengah lautan. Jangan sampai kesabaran menanti sang pujaan hati terkikis oleh keinginan untuk menyegerakan menikah sehingga mengabaikan faktor agama. Apalagi dalam rumah tangga, pria adalah pemegang kekuasaan. Andai suami tidak paham agama, bukan kebahagiaan yang akan diraih, tapi duka nestapa. Jika memang berkeinginan untuk menikah dengan orang yang masih awam agama, maka jatuhkan pilihan pada orang yang cenderung pada kehanifan.

Baiknya kita bercermin pada kisah Rumaisha’ binti Milhan r.a. manakala beliau mendapatkan lamaran dari Abu Thalhah seorang pria kaya raya. Rumaisha berkata kepada Abu Thalhah yang masa itu belum beriman “Aku suka kepadamu dan orang seperti engkau tidaklah pantas untuk ditolak. tetapi kau lelaki kafir, sedang aku wanita muslim. Jika kau masuk Islam, itulah maharku dan aku tidak meminta selain itu darimu….”. Abu Thalhah berpikir sejenak. Ternyata hidayah datang kepadanya. Lalu ia mendatangi Nabi saw. untuk menyatakan keislamannya.

Kepada para sahabat, Nabi saw. berkata, “Telah datang kepadamu Abu Thalhah dan cahaya Islam ada di hadapannya.” Salah seorang yang hadir berkata, “Aku belum pernah mendengar adanya mahar yang lebih besar daripada itu. Ia rela Islam sebagai maharnya” Maka Abu Thalhah pun menikahi Rumaisha’ binti Milhan yang kemudian dikenal sebagai Ummu Sulaim.

Plihan Ummu Sulaim tidak salah, karena kemudian Abu Thalhah terbukti sebagai pejuang Islam sejati dan berjiwa pemurah. Darinya lahir anak-anak yang saleh.

Selain berikhtiar, tentu saja “teman” dari orang yang sedang ikhtiar mencari jodoh adalah sabar. Sabar dibutuhkan karena mungkin proses pencarian tidak cocok, mungkin ditolak, terkena tertipu pacarnya yang mengajak menikah, tapi kemudian pergi tanpa pesan.

Meskipun untuk sabar memerlukan pengorbanan yang tidak kalah hebatnya dengan pengorbanan saat berusaha kembali bangkit selesai ditolak. Bukan berarti tidak ada jodoh buat kita. Insya Allah ada, entah itu siapa dan kapan. Karena masalah sebenarnya ini jodoh yang merupakan rahasia Allah. Sebab ada perempuan, akhwat yang normal, sholihah, kajian Islamnya juga baik, tapi ternyata urusan jodoh bisa juga kena uji. Berarti memang masalahnya bukan di personal, tapi mungkin Allah lagi menguji kesabaran kita. Mungkin di antara ada yang diuji kesabarannya memilih separoh jiwanya, akhirnya bingung dan berkata dalam hatinya “sebenernya saya ini jodohnya siapa?”.

Kalau sudah bertanya begitu, maka tetap sabar dan tawakal. Karena biasanya kalau sudah begitu berlanjut keputusasaan dan akan mencari pasangan sekenanya atau seketemunya. Mentoknya jodoh, tidak boleh menggadaikan idealisme agama kita untuk memilih jodoh yang mengutamakan agama. Ummu sulaim mengajari kita bagaimana menomorsekiankan fisikly Abu Thalhah, dan baru akan menikah dengannya jika Abu Thalhah, menjadi muslim.

Sahabatku, tetap istiqomah, jadikan Allah sebagai pegangan. Positif thinking dengan semakin banyak yang menolak, akan semakin mendekatkan kepada yang lebih baik.

Write a Reply or Comment

4 × 2 =