IBU SEBAGAI PEMBENTUK KARAKTER ANAK

JIC – Keteladanan orang tua khususnya ibu merupakan bagian terpenting dalam membentuk karakter anak, karakter keluarga. Karena waktu kebersamaan ibu dengan anak lebih banyak dibandingkan dengan ayah. Dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan.

Untuk itu menjadi kewajiban kita bersama untuk memperhatikan pendidikan kaum ibu, agar mampu menjadi ibu generasi Rabbani yang mencetak generasi-generasi unggul.

Berbagai permasalahan yang muncul dewasa ini, seperti maraknya kekarasan, perilaku korupsi, perusakan lingkungan, etika yang menipis, kurangnya tanggung jawab karena tidak adanya keteladan yang diberikan oleh para pemimpin. Dan semua bermuara dari keluarga.

Dalam Islam keluarga dinilai sebagai unit sosial dasar masyarakat muslim yang menjadi bagian penting dalam tata kosmik, seperti digambarkan Allah dalam Al-Qur’an surat Ar Rum ayat 21. Kedudukannya dalam pelaksanaan moral kewajiban agama begitu penting, menjadi fokus utama identitas emosional, kultural, ekonomi bahkan politik.

Ibu adalah sosok yang sangat memiliki peran besar dalam sebuah keluarga. Menjadi ibu itu mudah, namun menjadi ibu yang bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya tidak semudah menulis atau mengucapkannya.  Seperti yang diungkapkan seorang bijak, “seorang bayi yang baru lahir ibarat kertas putih tanpa noda”. Orang yang pertama kali menulis kertas tersebut adalah orang terdekatnya, yaitu orangtua. Indah tidaknya tulisan tersebut tergantung kepada mereka.  Menjadi ibu terbaik bagi anak-anaknya bukan berarti ibu harus menjadi seperti “malaikat”.

Keteladanan orang tua khususnya ibu merupakan bagian terpenting dalam membentuk karakter anak, karakter keluarga. Karena waktu kebersamaan ibu dengan anak lebih banyak dibandingkan dengan ayah. Dimulai sejak anak masih berada di dalam kandungan. Untuk itu menjadi kewajiban kita bersama untuk memperhatikan pendidikan kaum ibu, agar mampu menjadi ibu generasi Rabbani yang mencetak generasi-generasi unggul.

Dari karakter yang kokoh itu, kita akan menuai tujuan. Semuanya sesuatu yang sangat tidak ternilai. Karena dari warna karakter itu kita akan memanennya nanti di akhirat. Imam Al-Ghazali menyatakan, meskipun ada pengecualian-pengecualian, tetapi pada umumnya baik buruknya perilaku seseorang sangat ditentukan oleh pendidikan yang diperoleh pada waktu kecil dalam keluarganya. Pembentukan karakter-karakter positif, karenanya, memang amatlah niscaya.

Muara jauh membangun dan menjaga karakter keluarga, bagi seorang Mukmin adalah memimpikan reuni keluarga besar orang-orang beriman di akhirat kelak. “Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik). (yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan dengan orang-orang yang shalih dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (sambil mengucapkan):” salamun ‘alaikum bima shobartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Sebagai orang tua kita bisa memiliki multi fungsi bagi anak-anak kita. Adakalanya kita harus menjadi seorang motivator ulung, disaat yang lain kita dituntut untuk mampu menjadi seorang dokter, untuk menganalisa dan mengobati tingkah anak sesuai dengan dosisnya, kita juga perlu menjadi komunikator yang bisa menjembatani permasalahan anak-anak kita.

Maka tidak heran kalau kata-kata hikmah diatas  sudah selayaknya menjadi motivasi kita untuk selalu memperbaiki kualitas kita sebagai seorang ibu. Ibu yang sukses bukan diukur dari banyaknya anak yang lahir, bukan diukur dari gelar-gelar yang diperpoleh anak, dan lain-lain. Namun ibu yang sukses adalah ibu mampu mengantarkan anaknya ke depan pintu gerbang surga. Selamat berkarya ibu-ibu shalihah di dalam universitas terbuka sepanjang waktu yaitu “Keluarga”.

Sumber: salimah.or.id

Write a Reply or Comment

4 − 3 =