ILMU, KEKUATAN DAN PENGALAMAN DIRI BUKAN KUNCI SUKSES IBADAH

seorang jamaah sedang melaksanakan ibadah sholat id di Masjid JIC photograph: dara

seorang jamaah sedang melaksanakan ibadah sholat id di Masjid JIC photograph: dara
seorang jamaah sedang melaksanakan ibadah sholat id di Masjid JIC
photograph: dara

JIC – Ramadhan iya bulan ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu umat muslim, hanya dalam hitungan hari kita akan memasuki bulan penuh barokah ini. Memasuki bulan ramadhan syiar kita adalah “lā haula walā quwata illā billāh”, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan dari Allāh SWT.

Dalam ibadah kita tidak bisa mengandalkan kemampuan kita saja, juga tidak bisa mengandalkan ilmu apalagi mengandalkan pengalaman. Ibadah itu merupakan taufiq dari Allāh SWT oleh karena itu kita butuh pertolongan Allah SWT.

Dalam beribadah kita tidak hanya butuh teori. Beribadahlah dengan bertumpu kepada Allah SWT karena kita sebagai hamba Allah yang tidak mempunyai kekuatan melainkan atas izin Allah. Artinya kita bisa beribadah atas pertolongan Allah dan izin Allah tanpa pertolongan dan kuasa-Nya mustahil kita bisa beribadah.

Masih ingatkah apa yang terjadi di perang Hunain, ketika fase pertama, umat muslim kalah oleh musuh? Dan Allāh berfirman dalam surat At Taubah ayat 25:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ

“Allāh telah menolong kalian di berbagai macam peperangan (Allāh yang tolong kalian, kata Allāh). Dan ingatlah, apa yang terjadi di perang Hunain, ketika sebagan kalian (segelintir kalian) ujub, mengandalkan banyaknya pasukan kalian (mengandalkan kekuatan militer kalian lupa bahwa selama ini anda ditolong oleh Allāh).”

Padahal di dalam pasukan itu pakar-pakar perang semua, di dalam pasukan tersebut ada Rasullullāh SAW, panglima perang nomer satu di dunia. Ada Abu Bakar Ash Shdidiq, ‘Umar bin Khatbab, ‘Ustman bin Affan dan ada ‘Ali bin Abi Thalib, namun gara-gara segelintir yang ujub, bukan Nabi yang ujub, maka satu pasukan kalah, padahal mereka adalah pakar.

Begitu pula dengan ibadah yang akan dilaksanakan pada bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang. Dalam beribadah kita tahu dan menyadari bahwa kita bukanlah pakar puasa, bukan pakar tahajud, bukan pula pakar baca al-Qur’an. Oleh sebab itu kita perlu meminta kepada Allah agar diberikan kekuatan dalam beribadah khususnya di bulan ramadhan mendatang ini. Bukan dengan kemampuan kita tapi kemampuan Allah SWT.

Nabi mendidik kita agar membaca doa:

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ

“Wahai Allāh yang maha hidup dan mengatur kehidupan seluruh alam semesta ini, dengan rahmat-Mu aku meminta keselamatan, perbaiki segala urusanku (shalatku, dzikirku, puasaku dan seterusnya) dan jangan biarkan aku bertumpu pada diriku walaupun sekejap mata.”

Nabi sendiri yang membaca ini menunjukkan betapa beliau tidak ingin bertumpuh pada dirinya sendiri melainkan Nabi Saw bertumpu pada Allahu Rabbi. Lalu kita mengandalkan kemampuan sendiri betapa sombongnya kita yang tidak melibatkan Allah dalam beribadah.

Rasulullah yang melaksanakan shalat tahajjud hingga bengkak kakinya beliau butuh pertolongan Allah SWT apalagi kita. Begitu pula dengan ilmu dan pengalaman, meskipun kita memilki ilmu dan pengalaman puluhan tahun tapi hendaklah kita seperti pertama kali melakukan ibadah dan timbulkanlah dihati bahwa kita adalah makhluk lemah dan tiada daya melainkan atas bimbingan Allah SWT.

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MUSLIM WASHINGTON SEBAR PESAN DAMAI LEWAT MAWAR

Read Next

BPIH TURUN, KEMENAG PASTIKAN BERIKAN PELAYANAN TERBAIK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 + 16 =