IMAM SYAFI’IE, LEGENDA PENDEKAR BETAWI

Ilustrasi

JIC – Pemberitaan tentang premanisme di Jakarta tidak pernah habis di media massa. Selain kasus pembegalan yang sedang marak terjadi, kabar teranyar adalah premanisme di kawasan lokalisasi prositusi Kalijodo. Di berbagai media massa maupun elektronik, hampir tiap hari kita disuguhi  berita-berita kejahatan. Apalagi, kejahatan sekarang ini tidaklah sama dengan masa si Pitung, itu jagoan Betawi akhir abad ke-19. Si Pitung melakukannya dengan memilih-milih orang yang akan disatroninya untuk membela rakyat kecil.

Korban kejahatannya pun adalah para tuan tanah jahat dan memeras rakyat kecil (petani) dengan mengeruk sebagian besar hasil sawahnya berupa blasting (pajak). Sekarang ini, salah satu kejahatan yang membuat masyarakat risau dan merasa tidak aman adalah perampokan. Jumlah mereka semakin banyak bukan hanya di kota-kota besar, tapi sudah menjalar hingga ke desa-desa. Para penjahat atau preman ini sudah berani mengincar korbannya di tempat-tempat umum. Bahkan, di tengah-tengah keramaian pada hari siang bolong dengan menodongkan senjata api.

Kita perlu mempertanyakan bagaimana dewasa ini senjata api makin banyak jatuh ke tangan penjahat. Begitu maraknya kejahatan, hingga ada yang pernah mengusulkan agar ‘petrus’ (penembak mistrius) seperti masa Jenderal Benny Murdani dihidupkan kembali, meski dianggap melanggar HAM.

Jawara Betawi Penerus Jejak Si Pitung

Bukan hanya si Pitung yang telah melegenda, sejarah Jakarta yang panjang sejak masih bernama Betawi, penuh dengan cerita kepahlawanan para jagoannya dalam membela rakyat kecil. Sampai 1960-an, seluruh kampung di Jakarta masih memiliki seorang atau beberapa orang jagoan. Para jagoan ini yang merupakan para jago silat boleh dibilang menjadi palang dade di kampungnya masing-masing. Istilahnya, menurut tokoh Betawi H Irwan Syafi’ie, ‘tiap utan ada macannya’. Karena itu tidak heran bila terjadi perselisihan antar kampung akan beres diselesaikan oleh para jagoan.

Hubungan antara mereka sangat erat saling hormat-menghormati. Hormatnya warga terhadap para jagoannya karena mereka membela dan bahu membahu dengan rakyat. Di samping itu, kata H Irwan, mereka memegang teguh apa yang disebut ilmu padi, yaitu ‘makin berisi semakin menunduk.

Seniman dan budayawan Betawi, almarhum SM Ardan mengibaratkannya dengan cerita film-film koboi. “Bandit biasanya akan lari kucar-kucir bila kedatangan jagoan. Padahal sang jagoan kadang-kadang hanya diam saja.” Inilah yang membuat masyarakat Betawi tempo doeloe respek terhadap jagoannya. Ketika terjadi revolusi Agustus 1945, para jagoan Betawi merupakan pejuang-pejuang yang andal. Dengan bersenjatakan bambu runcing, mereka menghadapi Belanda (NICA) yang bersenjata lengkap.

Jagoan Senen Pejuang Kemerdekaan

Mungkin sekarang namanya sudah banyak dilupakan atau tidak diingat lagi. Tapi, salah satu tokoh pejuang kemerdekaan RI adalah Bang Imam Syafi’ie, yang sebelum merdeka merupakan jagoan Senen, pasar tertua di Jakarta. Di pasar inilah seluruh jawara yang kini dikenal dengan istilah preman berada di bawah pengaruhnya. Ketika Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan, Bang Pi’ie mengumpulkan para jawara itu. Mereka diajak bergabung dalam ‘Pasukan Istimewa’ yang dipimpinnya sendiri.

Berbagai pertempuran dilakukan pasukan ini di berbagai tempat di Jakarta yang tengah bergolak dan ‘demam’ revolusi. Seperti pertempuran di belakang bioskop Rex (kini pertokoan) di Kramat Bunder, bioskop Rialto (kini Gedung Wayang Orang Senen), Kwitang, Gang Sentiong, dan Paseban, Jakarta Pusat.

Setelah penyerahan kedaulatan (awal 1950), karena banyak anggotanya yang tidak mendapatkan tempat di TNI, Bang Pi’ie menghimpun para pejuang kemerdekaan ini dalam organisasi Cobra. Kala itu, ia berpangkat kapten di Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja (KMKBDR).

Disiplin organisasi ini sangat keras. Yang melakukan kejahatan ditindak tegas.

Jika setelah diingatkan masih melakukan kejahatan, biasanya dia memukulnya dengan buntut ikan pari yang berduri dan bergerigi. Putra almarhum, Asmawi Syafi’ie kepada saya pernah mengatakan, “Hukuman ini lebih baik dibandingkan bila ayah memukul dengan tangan, apalagi tangan kirinya yang merupakan pukulan maut. Tidak peduli orang sekuat apa pun, dia tidak akan tahan menghadapi pukulan tangan kiri bapak.”

Jadi Menteri Kemudian Ditahan tanpa Pengadilan

Sukses Cobra dalam membantu aparat negara menciptakan keamanan di Ibu Kota, tidak lepas dari pendekatan Bang Pi’ie. Termasuk kedekatannya dengan para ulama, yang di Betawi merupakan tokoh yang dihormati.

Begitu berpengaruhnya Bang Pi’ie, hingga banyak tempat hiburan, lebih-lebih pertokoan yang memuat foto jagoan Betawi ini. Entah untuk menakut-nakuti orang jahat, foto Imam Syafe’ie ditempatkan di belakang kasir. Foto itu seolah menjadi jaminan tempat ini tidak ada yang ganggu.

Menunjukkan para preman di Jakarta kala itu benar-benar dapat ia kendalikan dan menakutinya. Seorang yng kehilangan atau kecopetan di suatu tempat, dia dapat mengadukan kepada tokoh masyarakat setempat yang umumnya menjadi anggota Cobra. Tokoh ini kemudian menghubungi tokoh preman setempat. Biasanya, barang yang dicuri atau dicopet itu ketemu dalam beberapa hari.

Lulus Sekolah Staf Komando AD (SSKAD) 1958 dengan pangkat letkol, Syafi’ie yang memiliki 15 putra-putri sering mengawal perjalanan Presiden Soekarno yang ketika itu masih dikawal Polisi Militer. Oleh Bung Karno, ia pernah ditawari posisi komandan Cakrabirawa, tapi ia menolak.

Karena keberhasilannya dalam pengamanan Ibu Kota, pada 24 Februari 1966 oleh Bung Karno dia dilantik sebagai Menteri Keamanan Nasional dalam Kabinet Dwikora. Setelah kabinet ini dibubarkan oleh Pak Harto melalui Supersemar, Bang Pi’ie ditahan tanpa pengadilan. Ketika dibebaskan dari rumah tahanan militer, ia sakit parah dan meninggal 9 September 1982 dalam usia 59 tahun.

Sumber: Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

PENGARUH MUSIC BAGI PERADABAN ISLAM

Read Next

CINTAILAH UMMAHATUL MU’MININ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four + five =