INI BUKTINYA KITA PERLU BERHATI-HATI MEMILIH KATA

Orang-tua-mendidik-anak

JIC – Kata-kata. Ternyata memang seperti sebilah pedang. Kadang berguna, kadang membuat berdarah-darah. Berguna kalau kita pintar mengolah kata-kata. Berdarah kalau kita hanya mengumbar kata berdasarkan emosi sesaat yang akhirnya kita sesali.

Pasangan kita, anak-anak kita, orangtua kita, para sahabat, pembantu, siapapun, sangat menyukai kata-kata yang hangat, lembut dan akrab walaupun kadang kita menggunakan dengan tegas. Tapi bayangkan kalau kita selalu kasar, tanpa pikir dan perasaan kepada pasangan kita, anak-anak, orang tua, sahabat, pembantu, atau siapa saja, dijamin kita akan dijauhi mereka alias kita mengambil pilihan mau hidup sendiri.

Kadang saya dibuat miris melihat atau mendengar orang yang kalau ada maunya saja bisa bermain kata. Tapi, dengan orang yang dia gaji atau yang hanya kenal lewat, ia acuh tak acuh. Malah sekarang ada tayangan TV ’Terima Kasih’ hanya karena jarangnya kita mengucapkan kata itu pada Satpam di mall, tukang parkir, abang tukang ojek atau pembantu kita di rumah.

Masih sering kita dapati anak umur 6-7 tahun suka melempar barangnya pada pengasuhnya. Boro-boro mengucapkan terima kasih, penghargaan yang layak, berupa perlakuan yang baik pun tidak pernah ia tunjukkan. Orangtuanya yang melihat pun tidak  menegur anaknya. Seolah–olah hal itu sudah biasa atau tidak perlu ditegur. Tapi kalau pengasuhnya punya kesalahan sedikit saja, kata–kata pedas akan berhamburan, baik dari mulut si nyonya maupun mulut si kecil.

Dua orang manusia bisa disatukan atau dicerai-beraikan oleh kata-kata. Kata-kata itu adalah akad nikah dan talaq. Intinya, kata-kata bisa membahagiakan, dapat pula menyengsarakan. Tergantung pada kita, apakah kita mau belajar menggunakan kata-kata yang hangat, bersahaja, santun atau tidak?

Yang pasti, kita mau bahagia dunia akhirat, kan ?

Kalau begitu, mulai saat ini kita harus pandai memilah kata–kata. Kita harus berjanji bahwa yang keluar dari mulut kita harus perkataan yang baik saja. Kita harus berani mengatakan ‘good bye’ pada kata–kata pedas, yang pasti akan membuat kita dan orang–orang yang kita sayangi menjadi sengsara.

Kita harus punya stok kata–kata manis dan sopan buat orang – orang di sekeliling kita, walaupun orang itu baru kita kenal. Kita juga harus punya hati dan jiwa pemaaf. Rasulullah saw, teladan kita, selalu berkata baik pada musuh, apalagi pada sesama muslim dan orang–orang terdekat, para sahabat juga keluarga. Jadi, selamat tinggal perkataan buruk dan selamat datang kata – kata yang menyejukkan…

Sumber ; ummi-online.com/Anneke Puteri G. Wathon

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

KEUTUHAN BANGSA JADI FOKUS MUKTAMAR WAHDAH ISLAMIYAH

Read Next

PEMERINTAH INDONESIA TAWARKAN BEASISWA UNTUK WARGA SURIAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five × three =