INI PELAJARAN DARI KISAH ISTRI NABI ISMAIL AS

JIC – Sakinah adalah tujuan dalam sebuah pernikahan.Untuk mendapatkan hidup sakinah sebagaimana kita dambakan perlu kita perhatikan bahwa hidup sakinah adalah berawal dari budi bahasa yang baik. Kita awali dari sebuah kisah yang ditulis didalam sebuah kitab al-Kissatul fil Qur’an oleh seorang ulama al-Azhar beliau bercerita kepada kita bahwa suatu ketika nabi Ibrahim AS rindu kepada nabi Ismail AS yang sudah menikiah dan kerinduannya membawa kakinya melangkah dari Syam ke Makkah untuk menemui Nabi Ismail AS, ketika tiba di Makkah nabi Ibrahim tidak bertemu dengan putranya akan tetapi bertemu dengan istri nabi Ismail AS.

Saat itu, yang didapati dari menantunya adalah budi bahasa yang tidak baik untuk diucapkan kepada mertua. Nabi Ibrahim melihat hal yang tidak baik terdapat pada diri menantunya. Nabi Ibrahim pun pamit, dan menitipkan pesan agar merubah palang pintunya. Sementara istri nabi Ismail AS tidak mengetahui bahwa yang datang tadi adalah mertuanya. Kemudian datanglah Nabi Ismail AS dan istinya menyampaikan pesan dari Nabi Ibrahim AS. Kemudian Nabi Ismail memberitahukan bahwa yang datang adalah ayahnya.

Beberapa tahun kemudian Nabi Ibrahim merasa rindu kepada Nabi Ismail, akhirnya Nabi Ibrahim AS kembali berkunjung ke rumah Nabi Ismail AS. Dan yang didapati adalah sangat jauh berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Kali ini kedatangan Nabi Ibrahim AS disambut dengan budi bahasa yang baik. Dan Nabi Ibrahim menyadari bahwa wanita itu adalah istri putranya. Dan nabi Ibrahim AS berpesan agar palang pintunya ditegakan, artinya agar menjadi istri hingga akhir hayatnya.

Dari kisah di atas, pelajaran yang menarik untuk dipetik adalah bahwasannya hidup sakinah berawal dari budi bahasa yang baik. Kita pahami bahwa budi bahasa ini memiliki kaidah dan hal yang boleh dan tidak boleh. Seorang Muslim untuk meraih kehidupan yang sakinah wajib memahami dengan benar bagaimana ia berbicara, apa yang ia bicarakan, dengan siapa ia berbicara dan kapan seharusnya ia berbicara, semua itu harus diperhatikan dengan baik.

Hidup sakinah dapat berawal dari bahasa yang baik, maka sangat tepat ketika Rasulullah SAW berpesan kepada umatnya dengan mengatakan “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia berkata yang baik atau lebih baik diam”. [[email protected]@]

Sumber: Program Sakinah Corner http://radio.islamic-center.or.id/

Write a Reply or Comment

6 + 1 =