INILAH CARA BENTENGI DIRI DAN KELUARGA DARI API NERAKA (PART I)

Ini cara bentengi diri dan keluarga dari api neraka

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim (66): 6).

JIC – Kembali hadir ke tengah-tengah kita ayat yang secara khusus memperbincangkan keluarga. Kembali kita diingatkan betapa tinggi dan penting kedudukan keluarga dalam Islam dan betapa perhatian terhadap keluarga harus diberikan porsi yang besar, sebagaimana Alquran telah memberikan perhatian yang amat besar terhadapnya. Tidak berlebihan bila ada yang menyebut Alquran sebagai Kitab Al Usrah (Kitab Keluarga).

Standar Kesempurnaan dan Kesuksesan Seorang Mukmin

Persepsi kebanyakan orang menilai kesuksesan seseorang dengan Miqyaas Maaddi atau standar materi, seperti kekayaan, tampilan fisik, gelar dan jabatan. Sebaliknya, ayat di atas sesungguhnya memberikan pemahaman kepada kita bahwa Miqyaas Kamaal wa Najaah Al Mu’min (standar kesempurnaan dan kesuksesan seorang mukmin) adalah sejauh mana ia sukses dalam menciptakan Istiqraar Usari/’Aaili (stabilitas keluarga) setelah mampu menciptakan Istiqraar Nafsi (stabilitas diri). Oleh karenanya, ayat tersebut diawali dengan panggilan “Yaa Ayyuhalladziina Aamanu” (Hai orang-orang yang beriman).

Jadi, seorang mukmin yang sempurna dan sukses adalah seorang mukmin yang sukses dalam Ar Ri’aayah Al Usariyah (mengayomi keluarga). Mampu mengondisikan keluarganya untuk menjadi generator dan inspirator bagi dirinya dalam memproduksi beraneka macam kebajikan. Mampu mewujudkan keluarganya menjadi keluarga SAMARA (Sakinah Mawaddah wa Rahmah). Ayat di atas dibahasakan dengan kemampuannya membentengi diri dan keluarganya dari api neraka.

Bagaimana Membentengi Keluarga dari Api Neraka?

Membentengi keluarga dari api neraka dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya:

Menjadikan mereka manusia yang bertakwa kepada Allah dengan senantiasa menyeru mereka untuk menaati Allah SWT dan melarang mereka dari maksiat kepada-Nya. Ini berarti ia harus selalu mengondisikan dan memfasilitasi terwujudnya iklim yang mendorong semua anggota keluarga menjadi orang-orang yang yang bertakwa.

Dalam kajian Ibnu Katsir, dari Ibnu Abbas, saat menafsirkan ayat “Quu anfusakum wa ahliikum naaran”, beliau RA berkata: “Berbuatlah untuk taat kepada Allah dan takutlah kalian terhadap maksiat kepada Allah” (Tafsir Ibnu Katsir V/112).

Untuk itu, ketika orang tua membiasakan anak-anaknya salat, puasa, rajin membaca Alquran dan lain-lain, sesungguhnya orang tua tersebut telah membentengi mereka dari api neraka.

Sumber: Ummi Online

Write a Reply or Comment

fifteen + fifteen =