INILAH CARA BENTENGI DIRI DAN KELUARGA DARI API NERAKA (PART II)

Ini cara bentengi diri dan keluarga dari api neraka

JIC – Mentarbiyah (membina) keluarga dengan pembinaan yang terpadu dan berkelanjutan. Ketika menafsirkan ayat di atas, Sayyidina Ali bin Abu Thalib RA mengatakan: “Didiklah dan ajarilah mereka” (Tafsir Ibnu Katsir V/112).

Menyiapkan sandang, pangan, dan papan keluarga dengan cara yang halal. Sebab, sandang, pangan, dan papan yang haram atau didapat dari cara yang haram justru menjerumuskan mereka ke dalam neraka. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Setiap daging yang tumbuh (dalam tubuh manusia) dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih berhak untuk (tempat tinggal)nya” (HR. Ath-Thabrani).

Kedahsyatan Api Neraka

Ayat di atas secara eksplisit juga menggambarkan kuatnya tarikan dan kedahsyatan api neraka dengan 4 (empat) hal:Pertama, penggunaan lafazQuu” (peliharalah) dalam ayat tersebut menunjukkan bahwa “taring-taring” neraka menyebar di mana-mana siap menerkam diri kita dan keluarga. Oleh karenanya, kita harus selalu menjaga dan memelihara diri kita dan keluarga agar selamat dari “jilatan” api neraka. Hal ini jelas berbeda konteks maknanya jika menggunakan perintah “Ibta’iduu” (jauhilah neraka), misalnya.

Kedua, disebutnya neraka dengan redaksi “Naaran”—bukan “An Naar”—dalam bentuk nakirah (umum) yang berarti Li’t Ta’zhim (untuk pengagungan/pembesaran).Ketiga, penyebutan “yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” menunjukkan betapa hinanya manusia yang tidak beriman kepada Allah SWT sehingga ia dan batu sama di dalam neraka. Yaitu sama-sama menjadi bahan bakar. Ada yang berpendapat (Tafsir Ibnu ‘Aasyur XXVIII/327), bahwa batu di situ adalah berhala-berhala yang disembah sebagaimana firman Allah SWT, “Sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kamu pasti masuk ke dalamnya” (QS. Al-Anbiyaa’ (21): 98).

Mengenai perbandingan batu neraka Jahanam dengan batu di dunia, Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (V/113) meriwayatkan sebuah hadis yang dikomentarinya sebagai hadis mursal gharib; “Bahwasanya Rasulullah SAW membaca ayat di atas, di sisinya ada beberapa orang sahabat, di antara mereka ada seorang yang sudah tua bertanya; ‘Ya Rasulullah, apakah batu Jahanam seperti batu dunia?’ Lalu Nabi SAW menjawab; ‘Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh sebuah batu neraka Jahanam lebih agung dan besar dari pegunungan dunia seluruhnya’.Orang tua tadi langsung pinsan. Kemudian Nabi SAW menaruh tangannya di dadanya, didapatinya orang tua tersebut masih hidup, maka beliau SAW bersabda;‘Wahai orang tua, katakanlah Laa Ilaaha illallah (tiada tuhan selain Allah)’. Lalu ia mengucapkannya, maka ia diberi berita gembira dengan surga. Para sahabat bertanya; ‘Ya Rasulullah, apa ia termasuk golongan kita (Islam)?’ Beliau SAW menjawab; ‘Ya. Allah Taala berfirman; ‘Yang demikian itu (adalah untuk) orang-orang yang takut (akan menghadap) kehadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku)’ (QS. Ibrahim (14): 14).

Keempat, kalimat “penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras” melengkapi kengerian dan kedahsyatan api neraka. Tabiat para malaikat itu sesuai dengan tabiat azab yang ditimpakan kepada mereka. Ditambah lagi bahwa para malaikat itu bukanlah tipe pembangkang, melainkan “tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” Ini berarti mereka tidak bisa dilobi, dipengaruhi, apalagi sampai dibeli.

Oleh karena itu, seorang mukmin wajib selalu membentengi diri dan keluarganya dari api neraka sebelum hilang kesempatan dan tidak bermanfaatnya uzur seperti yang dilakukan orang-orang kafir sebagaimana firman Allah SWT,“Hai orang-orang kafir, janganlah kamu mengemukakan uzur pada hari ini. Sesungguhnya kamu hanya diberi balasan menurut apa yang kamu kerjakan”. (QS. At-Tahrim (66): 7).

Semoga kita sekeluarga diselamatkan oleh Allah dari api neraka. Amin …

Sumber: Ummi Online

Write a Reply or Comment

10 − 6 =