Inilah Tiga Masalah Mendasar Negara-negara Islam

Negara-negara Islam memiliki karakter dan potensi yang beragam. Sayangnya, dibalik potensi yang ada setiap negara memiliki beragam persoalan yang mendasar sehingga negara-negara Islam belum mampu berbicara banyak dalam kancah global.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Negara-negara Islam memiliki karakter dan potensi yang beragam. Sayangnya, dibalik potensi yang ada setiap negara memiliki beragam persoalan yang mendasar sehingga negara-negara Islam belum mampu berbicara banyak dalam kancah global.

Guru Besar IPB, Didin Damanhuri mengatakan ada delapan tipe dari negara-negara Islam, yakni negara yang kaya akan sumber alam (Arab Saudi), negara yang mengedepankan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iran dan Turki), negara dalam transisi demokrasi (Tunisia, Mesir, Libya), negara bekas pecahan Uni Soviet (Kazakstan, Azerbaijan, Uzbekistan, Tajikistan), negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil (Malaysia dan Indonesia), negara dengan demokrasi politiknya maju (Indonesia), negara sub saharia (Sudan), dan negara kepulauan yang miskin (Maladewa).

Dari pemetaan tersebut, Didin menjelaskan, ada tiga persoalan mendasar yang dialami negara-negara Islam. Pertama, paradigma yang menjalankan ekonomi tidak disertai nilai-nilai Islam, cenderung kapitalistik.

Kedua, sebagian negara Islam tersubordinasi, seperti Irak dan Afganistan. Ketiga, keterbelakangan dimana sumber daya manusia yang tidak produktif.

Solusinya, menurut Didin, negara-negara Islam perlu mengkedepankan nilai-nilai Islam universal seperti keadilan, keseimbangan, dan kesejahteraan yang selanjutnya ditransformasikan lewat kebijakan. “Transformasi harus dikedepankan,”kata dia saat berbincang dengan republika.co.id, Rabu (18/1).

Kedua, kelembagaaan ekonomi yang ada sewajarnya mentransformasikan kebijakan yang disesuaikan dengan karakteristik masyarakat. “Misalnya, kalau mengedepankan ilmu dan pengetahuan maka harus lebih baik lagi,” imbuh Didin.

Ketiga, merombak pemikiran ekonomi yang tidak cocok dengan masyarakat sehingga memicu kecenderungan eksploitatif. “Jangan incar GDP tetapi pikirkan kebahagiaan masyarakat. Selama ini, kesejahteraan diparameterkan dengan keuangan, yang identik dengan modal. Ini yang keliru,” kata dia.

Menurut Didin, kondisi ekonomi dunia yang melesu, membuat Asia berpeluang menjadi magnet ekonomi dunia di masa depan. Dunia Islam, mayoritas berada di Asia, tentu harus memanfaatkan momentum ini. Di dunia Islam, ada Indonesia dan Malaysia. “Kedua negara ini mampu menciptakan ekonomi yang stabil berikut dengan menyerap nilai lokal yang mampu mengubah paradigma ekonomi ala Eropa dan Amerika. Keduanya memiliki upaya membendung pakem materialistik, meski belum sepenuhnya berhasil,” kata dia.

 

Redaktur: Ramdhan Muhaimin
Reporter: Agung Sasongko

Write a Reply or Comment

19 − nine =