ISLAM DI KEPULAUAN SERIBU

Dalam rangka memperingati HUT Kota Jakart ke-484, pada hari Senin, 30 Mei 2011, warga Kepulauan Seribu bersama aparat pemerintahan yang dipimpin oleh Bupati Kepulauan Seribu, Achmad Ludfi, melepas 484 biota laut di Taman Miniatur Ekosistem Luat di Pulau Pramuka. Selain itu, dilakukan peresmian Taman Marlin di Pulau Harapan, Sunday Market pada Hari Gorong Royong Masyarakat, dan launching track sepeda dan acara Tidung Fun Bike di Pulau Tidung. Bupati berharap bahwa dengan acara ini dapat mengundang warga Jakarta serta para pecinta wisata bahari untuk datang menikmati potensi wisata wilayah Kepulauan Seribu yang lestari tanpa polusi dan tanpa macet.

Dalam rangka memperingati HUT Kota Jakart ke-484, pada hari Senin, 30 Mei 2011, warga Kepulauan Seribu bersama aparat pemerintahan yang dipimpin oleh Bupati Kepulauan Seribu, Achmad Ludfi, melepas 484 biota laut di Taman Miniatur Ekosistem Luat di Pulau Pramuka. Selain itu, dilakukan peresmian Taman Marlin di Pulau Harapan, Sunday Market pada Hari Gorong Royong Masyarakat, dan launching track sepeda dan acara Tidung Fun Bike di Pulau Tidung. Bupati berharap bahwa dengan acara ini dapat mengundang warga Jakarta serta para pecinta wisata bahari untuk datang menikmati potensi wisata wilayah Kepulauan Seribu yang lestari tanpa polusi dan tanpa macet.

Harapan bupati tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, masih sangat sedikit warga daratan Jakarta yang berkunjung ke Kepulauan Seribu. Hal ini tidak terlepas dari pembangunan kota Jakarta yang masih terkonsentrasi di daratan dan masih minimnya sosialisasi dan promosi yang dilakukan. Padahal, sejarah dan keberadaan Kepulauan Seribu tidak terlepas dari Jakarta. Sehingga wajar jika mayoritas warga daratan Jakarta tidak mempunyai pemahaman tentang Kepulauan Seribu, terlebih tentang sejarah dan perkembangan Islam disana.

Secara demografis, pemukiman penduduk di Kepulauan Seribu terkonsentrasi di 11 pulau, yakni, di Pulau Sebira, Pulau Harapan, Pulau Kelapa, Pulau Kelapa Dua, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Lancang, Pulau Pari, Pulau Tidung Besar, Pulau Payung, dan Pulau Untung Jawa. Para pemukim pemula di gugusan Pulau Seribu ini berasal dari berbagai suku di nusantara. Mulai dari Bugis, Makasar, Madura, Jawa, Banten, dan bahkan juga orang-orang Melayu yang juga cukup lama telah tinggal di Batavia. Mereka ini kemudian beranak-pinak di beberapa pulau di Kepulauan Seribu hingga kini. Para pendatang itu pada mulanya adalah nelayan-nelayan yang mengarungi samudra Nusantara. Letih mereka menempuh perjalanan jauh, membuat mereka awalnya sekadar singgah untuk melepas lelah.


Namun tidak sedikit orang yang kemudian menjadi pemukim tetap, mewarnai unsur baru penduduk yang bermukim di 11 pulau pemukiman yang ada di Kepulauan Seribu kini.

Adapun potret paling kontemporer penduduk Kepulauan Seribu, secara relatif tidak jauh berbeda dengan penduduk di daratan Jakarta. Beberapa galur etnis yang masih nampak nyata, meskipun sebagian besar diantaranya telah melarut adalah etnik Betawi, Bugis, Banten, Madura, dan Jawa.

Sedangkan basis norma pergaluan yang dijadikan acuan penduduk di wilayah ini adalah Islam. Tertanamnya basis norma ini tidak terlepas dari penyebaran Islam di Kepulauan Seribu tidak terlepas dari peran dan jasa ulama dan habaib, terutama yang berasal dari Betawi dan Banten. Makam-makam mereka dapat dengan mudah kita temui, seperti makam KH. Mursalin bin Nailin (wafat tahun 1972) di Pulau Karya ,Habib Ali bin Ahmad bin Zen Al Aidid di Pulau Panggang (wafat 15 Mei 1895), makam Syarif Maulana Syarifudin (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Kelapa, dan makam Sultan Mahmud Zakaria (kerabat Kesultanan Banten) di Pulau Panggang.

Ulama Betawi yang terkenal sebagai pendakwah di Kepulauan Seribu adalah KH. Mursalin bin KH. Nailin yang akrab dipanggil Ua Ain yang dakwahnya berbasis di Pulau Panggang, KH. Abdul Hamid dikenal dengan Ua Mamit yang berasal dari Kemandoran dan Mu`allim Roji`un Pekojan yang dakwah keduanya berbasis di Pulau Tidung. Walau mereka berbasis di pulaunya masing-masing, namun mereka juga melakukan dakwah ke pulau-pulau lainnya sampai ke pulau yang paling terujung yang dihuni manusia. Waktu itu yang menjadi sasaran dakwah mereka adalah menghapuskan kemusyrikan para penduduk seperti pemberian sesajen ke laut, pohon-pohon besar dan kuburan. Selain berdakwah dengan lisan, mereka juga peduli dengan pendidikan. Warisan mereka seperti madrasah dan majelis taklim dapat dengan mudah kita temukan di Pulau Panggang dan Pulau Tidung. Selain itu, mereka juga menjadi kepala keamanan yang mengamankan warga dari serbuan para perompak laut dan pemimpin pemberdaya kehidupan ekonomi umat.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap Kepulauan Seribu, JIC bekerjasama dengan Pena Inteligensia Club (PIC) akan mengadakan kegiatan Workshop Penulisan Cerpen Islami dan Lomba Menulis dan Membaca Cerpen yang mengangkat tema tentang “Megacities: Jakarta” termasuk di dalamnya tentang Kepulauan Seribu dan kegiatan Mengenal Islam di Kepulauan Seribu. Bagi yang berminat, dapat menghubungi 081314165949, 081514324474, 02199550754, 02195050889. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Presiden Kazakhstan Usulkan Dibentuk “FAO” Khusus Negara Muslim

Read Next

Konferensi Penerangan Islam Internasional Digelar di Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + nineteen =