Islamisasi Mesti Menyentuh Ranah Sosial

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA–Islamisasi ranah publik di bidang akidah dan ibadah semestinya dibarengi dengan Islamisasi di lini sosial, ekonomi, pendidikan dan politik. Islamisasi yang ada saat ini lebih menekankan pada kedua aspek tersebut.

Hal ini penting diwujudkan karena menurut Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Malik Madani, tujuan dan muara utama di balik tuntuan akidah dan ritual ibadah adalah pembentukan moralitas baik mencakup moral individu dan sosial. “Itulah misi pokok ajaran Islam berada,” kata dia kepada Republika di Jakarta, Rabu (1/12)

NU, dikatakan Malik, menekankan pembentukan moralitas tersebut melalui berbagai ritual istighatsah sebagai bentuk penempaan diri. Selain itu, NU memaksimalkan peran Islamisasi dengan jalur pendidikan baik di lembaga maarif ataupun pondok pesantren yang merupakan aset penting pembentukan karakter generasi Bangsa ke depan.

Meskipun diakui, keberadaan lembaga-lembaga yang dikolal NU tersebut masih perlu ditingkatkan dan dikembangkan. Dalam pengentasan kemiskinan, NU mencoba mendirikan Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) dalam waktu dekat.

Lebih lanjut dikatakan Malik, lambannya proses Islamisasi lintas aspek dikarenakan ketidaksiapan umat Islam itu sendiri. Umat masih berpandangan agama Islam hanya menyentuh ranah akidah dan ibadah.

Kata dia, masyarakat Muslim Indonesia mayoritas dari segi kuantitas tapi dari segi kualitas kesalehan sosial masih rendah. Oleh karena itu, ke depan perlu langkah penyadaran dan pemahaman yang intensif tentang hakikat ajaran Islam.

Red: irf
Rep: nashih nasrullah/Republika

Write a Reply or Comment

20 − fifteen =