ISRAEL DENGAN SEMENA-MENA GUSUR RUMAH WARGA PALESTINA

JIC, YERUSALEM — Konflik antara Israel dan Palestina telah menyebabkan banyak warga Palestina kehilangan tempat tinggal mereka. Menurut kelompok hak asasi Israel, B’tselem pada tahun ini, pasukan Israel telah menghancurkan 39 rumah warga Palestina di Yerusalem Timur yang diduduki dan menggusur 140 orang.

Thaer Siyam, seorang warga yang menjadi korban penggusuran menuturkan kisahnya kepada Aljazirah. Menurut Thaer Siyam, tentara Israel tiba di rumahnya yang baru dibangun di Beit Hanina pada pukul lima pagi. Dengan menggunakan buldozer, pasukan Israel meratakan rumah miliknya.

Ismaeel Siyam, ayah Thaer, mengatakan ia telah membangun rumah dari kayu. Ia berharap otoritas pendudukan Israel tidak akan menghancurkannya. Rumah seluas 40 meter persegi itu memang tidak berpenghuni dan ditujukan buat Thaer yang diharap pindah sebelum menikah. Sebuah taman yang dibangun di sekitar rumah juga rusak.

“Ini rumah keempat di keluargaku yang dibongkar. Rumah saya sendiri hancur pada Oktober yang lalu. Rumah milik anak perempuan saya dan anak laki-laki saya yang lain juga telah dibongkar pada masa lalu,” ujar Siyam.

Menurut Siyam, baik dia maupun Thaer tidak menerima surat perintah pembongkaran dari kota Yerusalem yang dikuasai Israel. Ini menyebakan ia tidak diberi kesempatan untuk menyerahkan dokumen atau mencari pengacara untuk mengajukan banding atas perintah pembongkaran.

“Tadi malam, tentara Israel mengatakan kepada kami bahwa kami tidak memiliki izin mendirikan bangunan untuk rumah baru tersebut, dan bangunan akan dibongkar. Mereka tidak memberi tahu kami kapan. Kami terbangun untuk mengetahui bahwa rumah tersebut telah hancur,” katanya.

Di Jabal al-Mukabbir, yang terletak di sebelah tenggara Yerusalem Timur, rumah Hamza Shaloudi juga dihancurkan. Menurut Shaloudi, 20 tentara Israel dan petugas polisi datang menerobos pintu depan rumahnya pada pukul sembilan pagi dengan membawa anjing mereka. “Saya hanya bisa menghentikan mereka masuk ke kamar tidur anak perempuan saya yang masih tidur,” katanya.

Salah satu dari kedua putrinya berusia delapan tahun dan menderita kelumpuhan parsial. Pasukan tersebut memaksa Shaloudi, istri dan kedua putrinya untuk duduk di mobil. Shaloudi meminta kepada pasukan Israel untuk menunggu sampai ia bisa berbicara dengan pengacaranya. Namun pasukan Isarael tidak menggubris hal tersebut. Mereka segera mulai menghancurkan rumah beserta barang-barang dan perabotan yang masih ada di dalam rumah.

Pengacara Shaloudi berhasil mendapatkan perintah untuk menghentikan pembongkaran. Namun saat ia menunjukkan salinannya kepada tentara Israel, hanya ada dua dinding yang tersisa dari rumah Shaloudi.

Shaloudi mengatakan sebelumnya perintah pembongkaran di rumahnya telah berakhir pada Juni 2016 dan tidak ada perintah pembongkaran lagi setelah itu. Namun pasukan Israel tiba tanpa peringatan sebelumnya. “Ini adalah harga yang harus dibayar warga Palestina di Yerusalem untuk tinggal di kota ini,” katanya.

Sumber ; umatuna.com

Write a Reply or Comment