Jakartawi

Jakartawi berarti orang Jakarta. Istilah ini dipo pu ler kan oleh Guru Manshur Jembatan Lima. Ia merasa kata Betawi kurang pas untuk dilekatkan kepada et nik yang menjadi tuan rumah dari Batavia meskipun ia sendiri yang memopulerkan seruan “Betawi, rempug!” yang kini dijadikan nama salah satu ormas Betawi.

Jakartawi berarti orang Jakarta. Istilah ini dipo pu ler kan oleh Guru Manshur Jembatan Lima. Ia merasa kata Betawi kurang pas untuk dilekatkan kepada et nik yang menjadi tuan rumah dari Batavia meskipun ia sendiri yang memopulerkan seruan “Betawi, rempug!” yang kini dijadikan nama salah satu ormas Betawi.

Alasan dia cuma satu. Kata Betawi ia yakini berasal dari bahasa Belanda si penjajah, yaitu Batavia. Ini tentu berbeda dengan tesis Ridwan Saidi yang dengan pendekatan linguistiknya menyatakan kata Betawi bukan berasal dari Batavia, melainkan dari nama flora. Jadi, tidak ada kaitannya dengan Batavia.

Ridwan Saidi pernah menjelaskan hal tersebut pada acara Halaqah Betawi Corner di Jakarta Islamic Centre (JIC) kepada keturunan langsung Guru Manshur Jembatan Lima, KH Fatahillah Ahmadi, yang terus gigih mengampanyekan Jakartawi.

Terlepas dari tesis mana yang benar, ada hal me narik mengenai jati diri si penggagas istilah Jakartawi ini, Guru Manshur Jembatan Lima, yang akan dikaitkan dengan penyematan Jakartawi di era sekarang. Siapa pun tidak akan ada yang membantah bahwa ia adalah ulama Betawi terkemuka. Salah satu dari enam guru

Betawi yang melegenda.

Namun, leluhurnya bukanlah orang Betawi asli. Asli di sini, dalam pengertian Ridwan Saidi yang menepis teori melting pot, yaitu etnik Betawi merupakan percampuran dari berbagai kelompok etnik, seperti Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, dan Melayu.

Menurutnya, Betawi bukanlah etnik kemarin sore yang baru lahir dari pencampuran banyak etnik, melainkan sudah ada sejak dulu sebelum bangsa Belanda datang menjajah. Leluhur Guru Manshur Jembatan Lima berasal dari Mataram, Jawa, yang turut menggempur Belanda di bawah kepemimpinan Sultan Agung.

Hal ini tidak berbeda dengan kebanyakan guru atau ulama Betawi lainnya yang leluhurnya bukan Betawi asli. Sebut saja Guru Marzuqi Cipinang Muara yang dari garis bapak berasal dari Pattani, Thailand Selatan, sedangkan dari garis ibu berasal dari Madura.

Sementara itu, Mualim Rojiun Pekojan leluhurnya merupakan pendiri Masjid Al-Makmur, Tanah Abang, berasal dari Demak, Jawa Tengah, dan Guru Mahmud Romli dan KH Fathullah Harun leluhurnya adalah Tanbi Badung dari Ternate, Maluku Utara, yang turut menggempur Belanda sampai ke Batavia pada era Jean Peter Coen.

Bukan ulama Betawi saja yang kebanyakan jika dirunut asal-usulnya adalah pendatang. KH Abdullah Syafi`i dalam sebuah pidatonya, seperti diceritakan Syekh KH Saifuddin Amsir, melakukan survei dadakan dari atas mimbarnya. Ia meminta jamaah yang hadir, yang tentu saja mengaku Betawi asli, mengacungkan jarinya jika tahu nama kakeknya Semua jamaah pun mengacungkan tangannya.

Sebaliknya saat mereka diminta menyebut nama leluhurnya dari generasi setelah kakeknya kakek, nyaris tak ada yang mengacungkan tangan. Ini menunjukkan banyak orang Betawi yang mengaku Betawi asli, tetapi ternyata bisa jadi leluhurnya adalah pendatang.

Di sisi lain, ada persoalan lebih pelik, terutama bagi yang mengaku Betawi asli dan ingin melakukan identifikasi agar etnik ini terjaga kemurniannya. Tentu, mereka bakal kesulitan memasukkan satu generasi yang bapak dan ibunya adalah pendatang, yang masuk pascakemerdekaan atau pada masa Orde Lama dan Orde Baru yang mencari rezeki dan bermukim di ibu kota namun lahir di Jakarta.

Generasi ini sama seperti generasi Betawi asli. Ariarinya tertanam di bumi Betawi, sejak balita makan nasi uduk, bertutur kata dengan logat Betawi dan pas Lebaran tidak pulang kampung, setia menjaga Jakarta yang telah menjadi kampungnya sendiri. Sebagian besar mereka adalah kaum terdidik.

Bahkan, mereka juga memberikan kontribusi tidak sedikit bagi kemajuan Islam dan pembangunan Jakarta hari ini dan di masa depan, bahkan kepada etnik Betawi. Generasi ini tentu akan ditolak oleh pengusung Betawi asli sebagai Betawi baru. Istilah Betawi baru ini pernah dilontarkan Sapardi Joko Damono.

Menurut dia, orang Betawi telah mengalami sebuah fase perubahan yang pesat akibat proses asimilasi.

Namun, perubahan tersebut tidak membuat orang Betawi ataupun etnik Betawi menjadi punah, tetapi bermetamorfosis menjadi etnik atau orang Betawi baru. Betawi yang terbentuk akibat proses asimilasi dengan yang lain.

Dan ini menurut saya merupakan fase kedua terbentuknya etnik Betawi akibat perpaduan berbagai etnik yang ada. Hanya saja, dalam fase ini, perubahan dalam hal budaya dan kesenian tidak terlalu banyak berpe ngaruh.

Jika agenda pemurnian etnik Betawi ini terus dilakukan dan ge nerasi ini tidak dapat dimasukkan sebagai orang Betawi, mungkin para pakar antropologi, etnologi, dan pakar soal Betawi bisa mengembangkan tesis Guru Manshur Jembatan Lima tentang Jakartawi, seperti disebutkan di atas.

Jakartawi dapat diartikan sebagai etnik pseudo Betawi, yaitu kelompok etnik Muslim yang individu-individunya lahir di Jakarta dan berkultur Betawi, tapi bukan Betawi asli. Keberadaan mereka tidak perlu diragukan lagi, mereka benar-benar ada. Ada tiga kepentingan de ngan memunculkan istilah Jakartawi ini.

Pertama, membantu memulihkan krisis identitas etnik yang mereka alami selama ini sebab etnik asal orang tua mereka tidak dapat mengakui eksistensi mereka dan begitu pula etnik Betawi. Kedua, memudahkan elite-elite pejuang Betawi asli untuk melakukan inventarisasi sumber daya manusia, konsolidasi, pe nguatan, pemberdaya an dan pengembangan etniknya, dan ketiga, untuk kepentingan de mografi dan kepen tingan lainnya. Selamat HUT ke-484 Kota Jakarta!

Oleh Rakhmad Zailani Kiki Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Mengajarkan Kebaikan Melalui Radio Dakwah

Read Next

Ribuan Umat Islam di Yogyakarta Ikuti Konferensi Rajab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen + 14 =