JALIN PERSAHABATAN, SEMASA LAJANG DAN SETELAH MENIKAH (PART II)

JIC – Dalam perjalanannya, sebagaimana hubungan lain, persahabatan pun mengalami ujian. Bila tak dapat diselesaikan, maka bisa berakibat pada perpecahan.

Persoalan utama yang menyebabkan putusnya persahabatan adalah hilangnya rasa saling percaya. Kebohongan dan tidak amanah di antara sahabat mengindikasikan memudarnya nilai persahabatan. Ini akan menyebabkan rasa sakit hati dan dikhianati. Tak ada lagi yang berharga dalam persahabatan bila rasa saling percaya hilang sudah.

Berkurang atau hilangnya komunikasi antar sahabat juga bisa menggerus persahabatan. Intensitas komunikasi yang berkurang membuat satu sama lain tak tahu lagi kabar sahabat. Sebenarnya saat ini kendala komunikasi tak menjadi alasan lantaran semakin mudahnya akses komunikasi.

Penyebab lain melemahnya tali persahabatan adalah karena fokus perhatian yang berbeda. Semasa lajang, misalnya, fokus perhatian masih sama, yaitu urusan kuliah atau urusan pekerjaan. Kelekatan bisa terus terjaga. Namun, saat salah satu pihak atau keduanya sudah menikah, fokus perhatian pun teralihkan. Keluarga masing-masing kini menjadi fokus utama. Dampaknya, kelekatan antarsahabat perlahan goyah.

“Seorang sahabat sejati semestinya memaklumi jika waktu dan kesempatan berinteraksi dengan sahabatnya yang sudah menikah mulai berkurang,” kata Anna. Namun, kadang kehadiran pasangan hidup juga menjadi dilema tersendiri dalam persahabatan. Tak jarang suami membatasi istrinya agar tak terlalu dekat dengan orang lain, selain suaminya, dengan berbagai alasan.

Sebenarnya di sinilah diperlukan kebijaksanaan dan pengertian setiap pasangan hidup. Perlu kita sadari bahwa kehidupan yang kita jalani tak hanya berkutat pada urusan rumah tangga. Pasangan hidup pun punya kehidupan lain yang juga harus dijalaninya demi keseimbangan mentalnya. Kehadiran sahabat bisa mengisi kebutuhan tersebut. Selain itu, silaturrahim yang terjalin selama ini dengan sahabat tak layak untuk diputuskan begitu saja tanpa sebab.

Yang perlu diperhatikan adalah, setelah menikah, kita harus lebih bisa memilih masalah apa yang bisa dibagi dengan sahabat. Tak semua urusan rumah tangga bisa dibagi dengan sahabat, karena kini ada pasangan hidup yang juga harus dipikirkan kepentingannya. Jangan sampai apa yang kita bagi kepada sahabat malah menimbulkan perselisihan dalam rumah tangga.

Sumber: Ummi Online

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

PENA JAWA TURKI, KERATON MATARAM, DAN EKSISTENSI KERAJAAN NUSANTARA

Read Next

MENGENANG KEJATUHAN KONSTANTINOPEL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × 2 =