JARIR BIN ABDULLAH AL-BAJALI SANG TENTARA PILIHAN (PART II)

Jarir bin Abdullah Al- Bajali

JIC – Ketika tentara muslim kalah telak dalam Perang Jembatan (Jisr), sekitar 4.000 prajurit gugur bersama Panglima Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi, Khalifah Umar bin Khathab segera mengirim bala bantuan, yang dipimpin Mundzir bin Haritsah Asy-Syaibani. Di antara pasukan bantuan itu tergabung Kabilah Bajilah, pimpinan Jarir bin Abdullah.

Kepada kabilahnya, Jarir berpesan agar mereka tidak mendahulukan Ghanimah(rampasan perang) meski khalifah telah menjanjikan 4/5 bagian, “Karena kalian sesungguhnya sedang menunggu di antara dua kebaikan; mati syahid lalu masuk syurga, atau ghanimah beserta surga.” Perang ini disebut perang Buwaib karena meletus di kota yang terletak di seberang barat sungai Eufrat itu.

Ternyata motivasi yang ditanamkan Jarir itu manjur. Semua anggota Kabilah Bajilah selamat. Dan ketika tentara muslimin bergerak ke Dzi Qar, mereka ditugasi di garis pertahanan melindungi kekuatan inti militer muslimin dari tekanan pasukan elite Persia.

Dalam perang Qadisiyah, Kabilah Bajilah, yang menjadi tulang punggung tentara muslim, nyaris kalah menghadapi serbuan tentara Gajah Persia. Kekuatan pasukan kavaleri Bajilah porak poranda karena kuda-kuda mereka lari ketakutan melihat gajah hingga banyak anggota pasukan yang gugur sebagai syahid. Ya mereka memang menjadi saran tembak musuh.

Untung segera tiba bantuan yang dikirim Panglima Saad bin Abi Waqash, yaitu tentara Bani Asad, di bawah pimpinan Thulaihah Khuwailid. Meski dalam keadaan sakit, Saad tidak menginginkan pasukannya mengkhawatirkan dirinya, malah sebaliknya. Kemudian dikirim lagi pasukan Bani Rabi’ah, di bawah pimpinan Asy’ab bin Qais. Mereka berhasil menaklukkan tentara gajah dan tentara Persia.

Tepat pada malam keempat pertempuran Qadisiyah, tentara muslimin melancarkan serangan mematikan terhadap kekuatan Persia. Malam itu mereka namai Lailatul Harir (Malam Pembebasan). Perjuangan Jarir terus berlanjut. Bersama kabilahnya, dia kemudian terlibat dalam perang pembebasan Madain, Ibu kota Persia, yang disebut Perang Jalula. Perang ini dimenangkan tentara muslimin.

Begitu pula dalam Perang Nawahand, Jarir tidak ketinggalan melibatkan diri. Malah dalam pesannya kepada Panglima Nu’man bin Muqrin Al-Mazani, Khalifah Umar memerintahkan, “ Bila terjadi sesuatu pada dirimu, kepemimpinan diteruskan oleh Huzaifah bin Al-Yaman. Bila Hudzaifah gugur kepemimpinan dipegang oleh Jarir bin Abdullah Al-Bajali.”

Di hari tuanya,Jarir memilih tinggal di Kuffah, yang menjadi kota garnizun militer, tempat tinggal para prajurit dari wilayah Gurun Arabia. Di sana dia membangun rumah diwilayah yang khusus diberikan untuk Bani Bajilah, hingga wafat pada tahun 51 H/671 M. Semoga Allah senantiasa memberikan rahmatNya kepada Jarir Al-Banjali. Aamiin

Sumber: alkisah

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

JARIR BIN ABDULLAH AL-BAJALI SANG TENTARA PILIHAN (PART I)

Read Next

BELAJAR JADI ISTRI TELADAN DARI KHADIJAH BINTI KHUWAILID

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + fifteen =