JEJAK CAHAYA PERADABAN ISLAM DI KAWASAN BEKAS KRAMAT TUNGGAK

Oleh : Saryono Jahidi

JIC – MASIH ingat Lokalisasi Kramat Tunggak? Ia berlokasi di Kecamatan Koja Jakarta Utara dekat Pelabuhan Tanjung Priok, sebuah kawasan terisolir pada saat itu. Namun delapan belas tahun yang lalu, kawasan itu begitu terkenal. Bukan hanya di Indonesia, tapi sampai ke mancanegara. Ia dikenal sebagai kawasan prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Mengalahkan popularitas tim kesebelasan sepak bola PSSI, yang hampir selalu kalah kalau bertarung di tingkat internasional. Maka tak heran kalau Kramat Tunggak mampu menghipnotis para lelaki  hidung belang yang doyan “perempuan jajanan”, untuk datang, tanding dan keok, sementara jutuaan uang pasti melayang, di tangan para wanita penghibur.

Namun itu dulu sekitar tahun tujuh puluhan sampai akhir tahun 2000-an. Karena sekarang tempat itu telah berubah menjadi pusat kegiatan keislaman (Jakarta Islamic Centre). Lokasinya pun berubah nama jadi Kramat Jaya.

Berkat nyali dari sang Jenderal Angkatan Darat, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso pada saat itu-tentunya didukung oleh para stake holder seperti para tokoh ulama, habaib, tokoh masyarakat, dan para aktifis pemuda serta mahasiswa idealis, akhirnya Kramat Tunggak yang begitu perkasa, akhirnya roboh, dan kawasan itu ditutup untuk selamanya.
Lantas untuk tujuan apa lokasi itu ditutup? Tarik menarik berbagai kepentingan pasti muncul di situ. Ada yang menginginkan lokasi seluas sepuluh hektar lebih itu sebagai kawasan bisnis, kawasan perumahan, lapangan olah raga, tempat rekreasi dan lain-lain. Namun akhirnya Gubernur Sutiyoso memutuskana kawasan itu menjadi kawasan religious bagi umat Islam.  Setelah melalui berbagai kajian mendalam dan studi banding ke b erbagai manca Negara, seperti ke Mesir, Turki, Arab Saudi, Yaman, Eropa, maka berdilrilah kemudian sebauah kawasan baru yang sekarang dikenal dengan Jakarta Islamic Centre (JIC).

Visi dan misi dari JIC adalah untuk menjadi pusat peradaban Islam yang dapat menginspirasi Indonesia bahkan  dunia. Tentu perlu perjuangan, pengorbanan dan biaya yang besar untuk membangun sebuah lembaga peradaban ke-Islam-an. Namun Pemprov DKI Jakarta, tidak menyerah, dengan semangat gelora reformasi pada tahun 1997, yang mengakibatkan runtuhnya rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan soeharto, pada akhirnya JIC berahasil didirikan dan diresmikan penggunaannya pada 4 Maret 2003.

Sesuai dengan desain arsitek yang dibuat oleh Ir. Ahmad Nukman,  lulusan ITB, maka JIC memiliki tiga bagian gedung berupa masjid raya, gedung sosial budaya dan gedung bisnis (hotel syariah dan perkantoran). Masjid mampu menampung jamaah sebanyak 15 ribu orang. Sedangkan gedung sosial budaya, merupakan gedung untuk kegiatan penididikan dan pelatihan, berlantai tiga dan memiliki puluhan kelas untuk diklat,  ruang perustakaan dan ruang mosium serta ruang teater.

Adapun gedung bisnis berupa hotel syariah berbintang empat dengan kapasitas kamar tidur sebanyak 11 lantai, dan 150 kamar tidur. Ditambah rung bisnis tiga lantai dan ruang convention hall. Boleh dibilang saat ini gedung JIC merupakan gedung yang paling megah dibandingkan dengan Islamic Center di wilayah lain di Indonesia.
Apalah artinya kemegahan gedung  kalau tidak diisi dengan aktifitas yang bermanfaat bagi kemajuan umat. Untuk itu telah dibentuk sebuah lembaga pengelola yang bernama Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (PPPIJ) melalui  sebuah Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta. Artinya, Pemprov DKI Jakarta, tidak main-main membangun JIC. Ia bukan sekedar bangunan mati, tapi benar benar ditumbuh-kambangkan, walau  harus mengeluarkan  biaya APBD yang besar. Lembaga ini berfungsi untuk melakukan berbagai kajian ke-Islam-an dan keumatan dengan didukung oleh SDM yang mumpuni dalam berbagai bidang keilmuannya, profesional serta berdedikasi tinggi    terhadap masalah – masalah keumatan.

Setiap tahun puluhan milyar rupiah digelontorkan untuk merawat dan mengelola JIC. Tujuannya, agar JIC menjadi pusat pencerahan seluruh masyarakat khususnya di Jakarta, dan tentunya bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian Islam bisa mengangkat harkat dan martabat kemunusiaan secara kaffah. Islam dirasakan sebagai rahmatan lil alamin. Inilah tantangan bagi JIC, ia harus mampu mendalami, dan menjembatani nilai-nilai luhur ajaran Islam dalam tata kehidupan dunia secara ril dalam segenap tatanan lingkungan kehidupan manusia. Sehingga ajaran Islam tidak sekedar indah dalam teori, namun juga benar-benar indah dalam praktek nyata di dunia serta  menjadi harapan optimistic di kehidupan a khirat kelak dengan tagline do’a  yang senantiasa menggetarkan dada umat Islam: “ya Tuhan kami, berilah kami kedamaian di dunia (kini) dan kebahagiaan di akhirat (kelak)”.

Begitulahlah Al-qur’an membimbing manusia. Kini JIC sudah berusia lima belas tahun sebuah usia cukup dewasa, banyak tapak-tapak perjalanan sejarah yang telah dilangkahkan. JIC yang secara simultan melakukan  pergantian kepemimpinan yang dibentuk dan ditetapkan oleh Pemprov DKI Jakarta,  mulai dari kepemimpinan Mayjen (TNI) dr. H. Djaelani (2004-2010),  Drs. H. Efendi Anas, M.Si  (2010-2011), Drs.H. Muhayat  (2011-2013) dan kepemimpinan KH.Drs. Ahmad Shodri HM (2013-2020). Ini  membuktikan keseriusan Pemprov DKI Jakarta dalam mewujudkan JIC sebagai pusat peradaban Islam.

MEMBUMIKAN VISI  JIC

Untuk membumikan visi dan missi JIC maka JIC menyusun dan menjalankan berbagai program tahunan sesuai prinsip – prinsip manajemen organisasi modern. Melalui manajemen pengelolaan yang terstruktur dan terencana, JIC hingga saat ini terus menjalankan berbagai program pengkajian dan pendalaman keislaman, dengan didukung oleh lima divisi yaitu Divisi Takmir masjid, Divisi Pengkajian dan Pendidikan, Divisi Sosial Budaya, Divisi Informasi dan Komunikasi serta Divisi Bisnis serta Bagian Umum yang berfungsi sebagai pengelola SDM JIC. Selain itu, JIC juga didukung oleh sebuah lembaga pendukung berupa sekretariat yang semua SDM nya dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang berfugnsi sebagai pengelola anggran APBD, sehingga JIC diharapkan dalam pengelolaannya benar benar akuntabel, Transparan dan  dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa demikian? Karena bagaimanapun dana yang dikelola oleh JIC berasal dari rakyat dan umat.

Tentu sudah banyak progam kegiatan ke-Islaman yang dijalankan selama lima belas tahun JIC berdiri, baik itu program rutin harian, mingguan, bulanan dan program tahunan. Hal itu sesuai dengan kebutuhan dan hasil analis kebutuhan yang senantiasa berkembang di masyarakat baik regional maupun nasional. JIC juga senantiasa memperhatikan berbagai momentum kegiatan keislaman sebagai sarana konsolidasi dan pelaksanaan program keumatan. Seperti momentum tahun baru hijrah, maulid nabi besar Muhammad SAW, Isra Mi’raj, Bulan Suci ramadhan serta momentum sejarah hari hari besar nasional seperti Proklamasi 17 Agustus, Hari Pahlawan, Hari Santri Nasional, termasuk Tahun Baru Masehi. Hal ini demi menambah spirit perjuangan dalam menjalankan missi JIC yang selalu ingin berkontribusi terhadap perjalan bangsa dan Negara NKRI.

Berbagai isu yang selalu meliputi kehidupan masyarakat, seperti masalah pengangguran, kemiskinan, kebodohan, lingkungan hidup diperkotaan yang kotor dan macet,  terorisme, kriminalitas, kejahatan kerah putih, korupsi  dan lain-lain, maka JIC sungguh ditantang untuk terus mengembangkan programnya secara lebih tepat sasaran dan tepat metode pendekatan, maka JIC terus melakukan berbagai kajian dan pendalaman secara terukur dengan mengundang para ahalil di bidangnya masing-masing. Tak heran kalau hampir semua pakar keilmuan dan pejabat pemerintahan datang ke JIC termasuk Presiden RI Joko Widodo. Bahkan para tokoh internasional pun berkunjung ke JIC seperti Dubes Amerika Serikat, Ulama dari Mesir dan lain-lain.

(Penulis adalah Kepala Divisi Infokom JIC).

Jakarta, 17 Ramadhan 1439 H

Write a Reply or Comment

14 − eleven =