JELANG IDUL ADHA, JIC SELENGGARAKAN EDUKASI KEGIATAN PEMOTONGAN HEWAN SECARA SYAR’I

JIC – Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta (JIC) melaksanakan kegiatan edukasi “Teknik Pemotongan Hewan Secara Syar’i” (29/8) di ruang Teater Gedung Sosial Budaya JIC. Acara ini dihadiri oleh Wakil Kepala Badan Manajemen JIC, KH. Hudrin Hasbullah, MM dengan narasumber drh. Adnan Ahmad dan KH. Muhammad Faishol, MA. Selain edukasi berupa paparan, peserta juga langsung mempraktekan cara pemotongan hewan secara syar’i yang telah disampaikan oleh narasumber. Berikut ini merupakan penjelasan lebih lanjut mengenai sistem yang melengkapi cara memotong hewan dengan syar’i oleh H. Rakhmad Zailani Kiki, MA, Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan JIC.

HACCP

Dalam industri pangan, istilah Hazard Analysis Critical Control Point yang disingkat dengan HACCP sebagai sistem jaminan keamanan pangan bukanlah konsep baru. HACCP atau analisa bahaya dan pengendalian titik kritis adalah suatu pendekatan ilmiah, rasional dan sistematik untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan bahaya selama produksi, processing, manufacturing, penyiapan dan penggunaan.

Konsep HACCP awalnya digunakan dalam produksi dan penelitian pangan bagi program ruang angkasa Amerika Serikat tahun 1959. Sejak tahun 1985 HACCP direkomendasikan oleh National Academic Science (NAS) untuk industri pangan. HACCP dalam industri pangan harus melibatkan dan mendapat komitmen dari seluruh sumber daya manusia di industri tersebut. Komitmen dari top management sampai pada tingkat bawah.

Saat ini, penerapan HACCP dalam rangka keamanan pangan telah menjadi kebutuhan yang esensial. Beberapa alasan diantaranya ialah:

  1. Penyakit yang ditularkan oleh bahan pangan (foodborne disease) masih merupakan salah satumasalah kesehatan masyarakat di dunia, dan merupakan salah satu penyebab kerugian ekonomi;
  2. Meningkatnya insiden beberapa penyakit yang ditularkan bahan pangan, misalnya salmonellosis di beberapa Negara;
  3. Industrialisasi dan produksi masal pangan yang dapat mengakibatkan peningkatan resiko kontaminasi pada makanan serta besarnyajumlah konsumen yang dapat terkena wabah penyakit.

MANFAAT HACCP

Sistem HACCP memiliki banyak manfaat, diantaranya adalah dapat mengatasi beberapa keterbatasan dari pendekatan tradisional terhadap pengawasan keamanan pangan. Sistem ini juga memiliki potensi untuk mengidentifikasi semua bahaya-bahaya yang mungkin muncul, walaupun belum pernah ada sebelumnya. Namun, keberhasilan dan efektivitas dalam penerapan sistem HACCP terletak pada pendidikan dan pelatihan tim HACCP dan seluruh personal yang terlibat dalam rantai produksi pangan.

Lalu, apa kaitannya HACCP dan hewan kurban? Drh. Amir Mahmud, seorang dokter hewan yang menaruh perhatian besar terhadap higienitas hewan kurban, telah bereksperimen dalam mengadopsi sistem HACCP dalam proses pemotongan hewan kurban agar higienitas daging hewan kurban tetap terjaga. Pengadopsian ini dia lakukan karena di Indonesia, pemotongan hewan kurban umumnya tidak dilakukan di tempat Rumah Potong Hewan (RPH) tetapi di halaman masjid atau di lapangan terbuka yang dilakukan oleh para pemotong amatir atau dadakan dengan alat, perlengkapan dan pemeliharan seadanya yang sangat tidak menunjang pada higienitas hewan kurban. Meskipun menurutnya penerapan sepenuhnya sistem HACCP dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban mungkin suatu hal yang mustahil untuk kondisi saat sekarang. Namun penerapan sistem HACCP secara parsial yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan dapat diterapkan. Tidak saja bagi proses pemotongan hewan kurban yang hanya setahun sekali, sistem ini juga sangat cocok diadaptasikan dalam industri catering yang merupakan industri rumahan. Kasus-kasus keracunan makanan dari catering masih sering terjadi. Penyebabnya terutama karena kontaminasi mikroba yang berasal dari manusia. Ini menunjukkan buruknya hygiene dalam proses produksi catering.

PENERAPAN SISTEM HACCP

Menurut drh. Amir Mahmud, penerapan sistem HACCP dalam pemotongan hewan kurban dapat berjalan dengan baik bila ada komitmen dan kedisiplinan seluruh personel terutama panitia pelaksana pemotongan hewan kurban dalam mengadopsi sIstem ini. Juga, sosialisasi dan pelatihan secara rutin dan terus menerus sangat penting bagi keberhasilan penerapan sistem ini.

Untuk itu, setiap masjid atau tempat yang menyelenggarakan pemotongan hewan kurban, perlu dibentuk kader kesehatan hewan kurban. Kader-kader inilah yang nantinya melaksanakan pemeriksaan kesehatan kewan kurban (ante mortem danpos mortem) dengan mengisi formulir yang telah disediakan. Hasilnya dikonsultasikan dengan dokter hewan penanggungjawab diwilayah tersebut.

Menurutnya, pelatihan kader kesehatan hewan dan adaptasi HACCP untuk pemotongan hewan kurban harus dilakukan secara terpadu. Artinya, perlu dibentuk satu tim (3-5 orang) untuk kedua hal tersebut. Peserta pelatihan sebagai calon kader haruslah berbadan sehat (tidak mengidap penyakit menular seperti tbc, hepatitis dll), tidak buta warna dan tidak cacat, dengan pendidikan minimal setingkat SMU. Materi pelatihan meliputi teori pemeriksaan kesehatan hewan kurban, teori adaptasi HACCP untuk pemotongan hewan kurban serta praktek pelaksanaan pemotongan hewan kurban. Setiap priode pelatihan diikuti 5-10 tim dengan masa pelatihan selama 3 hari, 2 hari untuk pemahaman teori dan sehari praktek di lapangan.

Tujuan pelatihan bagi kader adalah: Pertama, membentuk kader kesehatan hewan kurban di setiap kelompok masyarakat (RT, RW, masjid atau unit-unit pemotongan hewan); kedua, mempersiapkan kader dengan bekal pengetahuan dan keterampilan teknik dan cara pemeriksaan kesehatan hewan kurban secara umum (dasar); ketiga, membantu menyeleksi dan menyiapkan hewan kurban yang layak untuk dipotong dari sisi kesehatan hewan; keempat, membantu menyeleksi dan menyiapkan daging hewan kurban yang aman, sehat dan layak untuk dibagikan dan dikonsumsi masyarakat; kelima,menanamkan kesadaran kepada masyarakat bahwa kesehatan hewan dan bahan pangan asal hewan (khususnya daging) sangat penting artinya bagi kesehatan manusia.

Dokter hewan yang terlibat dalam pemotongan hewan kurban hendaknya juga mendapatkan pelatihan khusus untuk menyamakan persepsi, standard operational procedure, sistem pelaporan serta hal-hal praktis yang mungkin terjadi di lapangan. Sosialisasi penerapan kedua hal tersebut dalam pelaksanaan pemotongan hewan kurban dilakukan sebelum pelaksanaan pelatihan. Sosialisasi ditujukan kepada beberapa tempat (masjid) yang memiliki jumlah hewan kurban terbanyak dengan mengundang seluruh panitia kurban dan takmir masjid setempat.

Write a Reply or Comment