JIC DAN KOMMEN GELAR WORKSHOP MENULIS CERPEN UNTUK MUBALLIGH

JIC – Jakarta Islamic Centre (JIC) Jakarta bekerja sama dengan Komunitas Muballigh Menulis (Kommen) menggelar workshop menulis cerita pendek (cerpen). Kegiatan yang diadakan di Ruang Audio Visual 2 JIC Jakarta, Ahad (4/3) itu diisi oleh nara sumber cerpenis, novelis, dan redaktur senior harian Republika, Irwan Kelana.

Para peserta workshop adalah para da’i dan mahasiswa, anggota Kommen maupun peserta dari luar. “Kommen dibentuk beberapa bulan lalu, seusai diklat jurnalistik untuk para muballigh yang diadakan di kantor Harian Republika Jakarta. Workshop ini merupakan kegiatan pertama Kommen sejak dibentuk beberapa bulan lalu,” kata Ketua Kommen, Fajar Feriansyah, di Jakarta, Ahad (3/3).

Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan JIC, Rakhmad Zailani Kiki mengatakan, workshop diadakan  antara lain didorong oleh masih minimnya muballigh yang menulis, khususnya menulis karya fiksi. “Di kalangan ulama Betawi zaman dahulu banyak yang merupakan penulis fiksi maupun  nonfiksi. Termasuk hikayat, pantun dan syiir. Ulama Betawi mutakhir yang sangat rajin menulis adalah Mu’allim Syafii Hadzami (alm).  Namun saat ini sudah jarang sekali ulama yang jugat giat menulis. Itulah yang mendorong kami bersama Kommen mengadakan workshop menulis cerpen  untuk para muballigh,” kata Rakhmad Zailani Kiki.

Sebelum memberikan tips cara menulis cerpen, Irwan mengemukakan pentingnya para muballigh piawai menulis, khususnya karya fiksi atau sastra.  “Sastra merupakan bagian dari dakwah bil hikmah. Pesan-pesan yang disampaikan melalui sastra dapat menggugah masyarakat luas karena keindahan bahasa yang digunakan. Sastra juga bagian dari dakwah bil qolam (dengan pena). Dengan ilmu yang dimiliki, para penulis dari kalangan ustadz  bisa melahirkan karya mencerahkan. Karya fiksi, termasuk cerita pendek, yang ditulis oleh para muballigh juga memberikan konten yang Islami yang diperlukan oleh dunia film dan televisi,” papar Irwan.

Irwan menyebutkan sejumlah ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (kontemporer) yang juga menulis karya-karya sastra. Misalnya, Ibnu Thufail (pengarang Hayy bin Yaqzhan), Imam Syafi’i, dan Buya HAMKA (pengarang roman Di Bawah Lindungan Ka’bah dan Tenggelamnya Kapal Van der Wijck).

“Belakangan banyak  penulis  berlatar belakang santri maupun non-santri yang  menulis cerpen dan novel Islami. Misalnya, Ahmadun Yosi Herfanda, Habiburrahman El Shirazy, Tere Liye, Ahmad Fuadi, Asma Nadia, Helvi Tiana Rosa, Pipiet Senja, Hanum Salsabila Rais,  dan ratusan bahkan ribuan anggota Forum Lingkar Pena maupun komunitas penulis lainnya,” tuturnya.

Ia juga menegaskan pinsip yang harus dipegang oleh seorang penulis Muslim/ muballigh dalam menulis sebuah cerpen maupun novel (juga karya sastra Islami lainnya).  “Menulislah dengan hati sesuai syariat. Niatkan menulis untuk ibadah, dakwah dan jiad dengan pena,” ujarnya.

Ia menambahkan, Islam banyak mengajarkan tentang adab dan etika. Ini juga harus diperhatikan dalam penulisan sastra. Yang harus diangkat adalah pesan-pesannya.

Irwan lalu menguraikan enam kekuatan sebuah cerpen sehingga menarik untuk dibaca dan memberikan manfaat bagi pembacanya. Pertama, ide ceritanya menarik, orisinal (belum pernah ditulis orang, atau jarang ditulis orang). Kedua, karakter tokohnya unik, menimbulkan penasaran, menimbulkan simpati dan lain-lain. Ketiga, konfliknya kuat, sehingga pembaca penasaran bagaimana akhir cerita tersebut.

Keempat, latar cerita (tempat dan waktu/zaman)-nya  sangat menarik, seakan-akan pembaca hadir di sana. Kelima, plot (alur cerita)-nya  bagus dan tidak mudah ditebak. “Keenam, solusi yang ditawarkan oleh penulis sangat baik, adil, inspiring,” paparnya.

Irwan pun mengunkapkan, pertimbangan redaktur sastra harian Republika, Erdy Nasrul,  dalam memilih cerpen yang baik dan layak muat di Republika. Pertama, yang paling utama adalah pesan dari sebuah cerpen. Apa pesan yang hendak disampaikan.

Kedua, cerpen yang terlalu detail menceritakan tentang hubungan intim atau membayangkan persetubuhan tidak akan dimuat, karena itu bukan hal yang harus diumbar kepada publik.

Ketiga, kisah yang bernuansa humanis tinggi, misalkan cerita seorang sopir angkot di ibu kota yang bersusah payah mencari uang sampai dia sakit, bahkan mati saat bekerja, dan lain-lain. Kisah pertobatan juga menarik. “Panjang tulisan 8.000-10.000 karakter,” tutur Irwan Kelana.

Sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

three × 4 =