JIC : KISAH DIBALIK PELUNCURAN BUKU TELLING ISLAM TO THE WORLD

JIC – Gerakan menyebarkan Islam ke seluruh dunia (Telling Islam to the World) telah resmi diluncurkan di Jakarta pada tanggal 18 Desember 2015 lalu. Akan tetapi implementasi dan pergerakan utamanya akan digenjot dari kota New York, Amerika Serikat. Peluncuran inisiatif “Telling Islam to the World” dilakukan di Jakarta, ibukota Indonesia, karena Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tentu disadari atau tidak, Indonesia memiliki tanggung jawab besar dalam menyebarkan Islam yang sesungguhnya. Islam yang berwajah alternatif dari wajah-wajah Islam yang sedang dipropagandakan oleh dunia Barat saat ini.

Dialog bersama Imam Shamsi Ali telah berlangsung pada 14 Juli lalu di Jakarta Islamic Centre (JIC). Pada kesempatan tersebut, Imam Shamsi Ali memperkenalkan buku yang berjudul “Telling Islam to The World” sekaligus mengkisahkan tantangan dan peluang dakwah di sentral negara adidaya. Imam Shamsi Ali telah meninggalkan Indonesia lebih dari 30 tahun, 21 tahun di Amerika Serikat, beliau mencoba membuka komunikasi, kanal-kanal untuk bekerjasama, lintas agama, lintas budaya, dan lintas etnis. Islam di Amerika Serikat hari ini tidak lebih dari 1% artinya 21 tahun yang lalu jauh lebih sedikit lagi, maka ketika Imam Shamsi Ali tiba di sana, beliau harus memikirkan bukan hanya menyampaikan tetapi juga menampilkan.

Nusantara Foundation sebagai eksekutor gerakan ini berpusat di kota New York Amerika Serikat. Kota yang sering kali dijuluki sebagai jantung dunia atau ibukota dunia. New York adalah rumah bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Wall Street. Dan New York pula adalah kota yang menjadi “target” serangan anti peradaban (terorisme) tahun 2001.

Dengan menampilkan Islam yang berkarakter Indonesia dari kota New York dimaksudkan, antara lain:

  1. Bahwa Islam itu memang benar-benar agama dunia (global).
  2. Menghadirkan Islam yang secara langsung menjadi jawaban terhadap tuduhan jika Islam adalah inspirasi serangan 9/11.

Gerakan-gerakan yang Imam Shamsi Ali lakukan ini lebih kepada implementation atau makna mengamalkan tentang apa yang diajarkan dalam Islam dan ini ditunjukkan kepada masyarakat non-muslim di sana. Singkat cerita pada pemaparan di JIC, dalam kurun puluhan tahun tersebut secara personal positioning Imam Shamsi Ali menjadi seorang tokoh agama yang baik dan berpengaruh di sana. Tetapi yang lebih penting bukan tentang dirinya, namun apa yang dihasilkan dari gerakan-gerakan tersebut, sebagai contoh kerjasama yang terjalin dengan sangat baik, dengan komunitas Yahudi di sana dan dengan komunitas non-muslim lainnya kemudian juga pemahaman dan pengertian yang lebih lagi terhadap Islam.

Cita-cita gerakan ini terus menyampaikan Islam yang Rahmatan Lil’alamin dengan meneruskan perjuangan seperti kelas-kelas khusus non-muslim yang ingin tahu tentang Islam, event besar tahunan. Selain itu, pada level akademisi bicara tentang Islam dan akhirnya mendirikan sebuah Muslim Centre New York yang punya kekhususan bagi mualaf. Oleh karena itu, gerakan telling Islam to the world adalah gerakan yang akan mempertemukan antara Jakarta dan New York (connecting Jakarta to New York) dengan sinar Islam. Bahwa Islam yang sejati adalah yang berkarakter rahmatan lil-alamin. Dan Islam yang seperti itu yang dirindukan oleh dunia kita saat ini. Dan cahaya ini pulalah yang digerakkan dari jantung dunia global kita (New York), Amerika Serikat.

Gerakan ini adalah mimpi. Mimpi besar yang tampaknya jauh dalam pandangan kasat mata. Akan tetapi mimpi bagi orang-orang beriman adalah kekuatan dahsyat. Mimpi di saat terjaga itu adalah mimpi besar dalam kenyataan. Rasulullah SAW, itu adalah pemimpi besar. Dan mimpi besar Rasulullah itulah yang membawa Islam ke seluruh penjuru dunia, hingga ke bumi persada Nusantara. Dan dengan mimpi ini pula kita beranjak dari tidur panjang, menyingsingkan lengan baju, memulai langkah menuju seluruh pelosok dunia dalam membawa cahaya Islam yang damai.

Write a Reply or Comment