JK DIDAULAT JADI KETUM DMI UNTUK KEDUA KALINYA

JIC, JAKARTA — Usai membuka secara resmi Muktamar ke 7 Dewan Masjid Indonesia (DMI), Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) didaulat oleh para ketua DMI tingkat provinsi se-Indonesia, untuk menjabat sebagai Ketua Umum DMI periode kedua kalinya. Pertemuan JK dengan para ketua DMI Provinsi itu sendiri dilakukan atas inisiatif para ketua Pimpinan Wilayah (PW), Atau setingkat provinsi.

JK yang saat ini masih menjabat sebagai ketua umum DMI diminta oleh ketujuh ketua ketua DMI Provinsi yang mewakili para ketua se-Indonesia untuk menjabat sebagai Ketum DMI pada periode kedua kalinya. Ketujuh ketua tersebut berasal dari ketua DMI Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Papua, Sulut, Bangka Belitung, dan Jawa Barat.

“Mewakili DMI Se Jatim, saya memohon kesediaan Pak JK untuk memimpin kembali DMI lima tahun kedepan,” kata Ketua DMI Jawa Timur, Mohammad Roziqi di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Ahad (11/11).

Sementara itu, Ketua DMI Kalimantan Barat A Munir Hamid mengatakan, bahwa kepemimpinan Jk sudah teruji dan terbukti mampu memimpin DMI. “Di tangan bapak (JK), DMI dikenal dan maju. Kami ingin bapak melanjutkan kembali,” katanya.

Ketua DMI Provinsi Bali, KH Bambang Santoso, juga memuji kepemimpinan JK selama menjadi Ketum DMI. Menurutnya, wajib hukumnya JK memimpin kembali Dewan Masjid, dan saat ini ia meminta jawaban pasti dari Pak JK agar menjabat kembali sebagai Ketum DMI.

Karena seluruh ketua DMI provinsi se-Indonesia yang secara aklamasi mendaulat JK memimpin DMI lima tahun lagi, JK mengatakan, bila dirinya dikehendaki, insya Allah bersedia memimpin lagi Dewan Masjid. “Ini panggilan pengabdian. Ini pengabdian ketiga saya setelah di dunia pendidikan, kemanusiaan (PMI), dan sekarang DMI,” kata JK.

Untuk itu, JK meminta dukungan dan doa kepada semua ketua maupun anggotan DMI se-Indonesia, agar segalanya berjalan lancar dan kedepan DMI semakin baik dan maju.

Muhammad Jusuf Kalla juga menyatakan bahwa mengurus masjid di Indonesia merupakan suatu mewajiban. Apalagi, Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dan negara yang paling banyak masjidnya.

“Kita negara berpenduduk Muslim terbesar, sehingga wajar jumlah masjid juga kita terbanyak di dunia. Karena itu lah, maka mengurus masjid di Indonesia merupakan suatu kewajiban yang baik bagi kita semua,” ujarnya, Sabtu (11/11).

Ia menuturkan, jumlah penduduk muslim Indonesia berjumlah sekitar 220 juta. Sedangkan jumlah masjid dan mushalla ada lebih dari 800 ribu. Karena itu, menurut dia, rata-rata setiap 250 orang muslim mempunyai satu masjid.

“Jadi itu jumlah yang sangat besar sehigga perlu kerja sama yang baik dan juga suatu upaya yang melibatkan seluruh masyarakat,” ucapnya.

Selain itu, JK juga mengungkapkan, bahwa hanya ada dua negara di dunia yang mempunyai kesamaan dalam hal pembangunan masjid, yaitu Indonesia dan Pakistan. Karena, masjid di dua negara ini banyak yang dibangun oleh umat Muslim sendiri.

“Negara besar lain juga tentu ada, tapi yang paling besar hanya Indonesia dan Pakistan, yang masjidnya dibangun masyarakat, dikelola masyarakat, dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Kalau di Malaysia, di Brunei, Timur Tengah, di Afrika, masjid kan dibangun oleh pemerintah,” katanya.

Bahkan, tambah dia, di negara selain Indonesia dan Pakistan itu takmirnya juga diatur oleh pemerintah, marbotnya juga diangkat sebagai pegawai negeri. Hal ini, menurut dia, sangat berbeda dengan di Indonesia.

“Kita semua masyarakat membangunnya dan menjalankannya, karena itu begitu penting upaya bersama ini dijalankan. Di banyak daerah kadang-kadang daerahnya tidak terlalu maju, tapi masjidnya pasti bagus. Seperti rakyat Jawa Timur, Madura NTB, atau di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Salah satu program untuk memakmurkan masjid yaitu dengan memanfaatkan masjid sebagai tempat pendidikan anak. Karena itu, DMI membentuk ribuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di berbagai daerah di Indonesia.

“Hal yang kedua pendidikan, maka dibentuk ribuan PAUD kerja sama dengan Kemendikbud,” ujarnya.

JK menuturkan, pendidikan PAUD sangat penting diadakan di masjid untuk memanfaatkan waktu lowong mulai pagi hari hingga siang. Selain itu, jika sejak usia dini anak-anak didekatkan ke masjid, maka akan mencintai masjid dan memiliki karakter Islami.

“Penting masjid itu karena justru masjid di pagi hari lengang sampai jam 12 siang. Nah di situ dipergunakan untuk anak-anak yang belum sekolah, memanfaatkan ruang yang ada dan juga penting untuk generasi kita yang akan datang,” ucapnya.

JK juga menyampaikan bahwa fungsi masjid pada zaman Nabi Muhammad SAW sangat luas. Selain sebagai rumah ibadah, juga berfungsi untuk tempat bermusyawarah, pusat pemerintahan, pengadilan, dan tempat mengatur strategi perang.

Menurut JK, jumlah penduduk muslim Indonesia terbesar di dunia dengan berjumlah sekitar 220 juta, sedangkan jumlah masjid dan mushalla ada lebih dari 800 ribu. Karena itu, ia berharap masjid-masjid benar-benar dapat dimaksimalkan. “Ini merupakan kekuatan yang luar biasa,” katanya.

Sumber ; republika.co.id

Write a Reply or Comment