KALIJODO, ISLAM DAN TERTIB HUNIAN

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre

JIC – Penertiban kawasan Kalijodo oleh Pemprov. DKI Jakarta memang harus dilakukan. Semua pihak, terutama warga Jakarta, harus mendukung. Bukan karena di Kalijodo terdapat tempat prostitusi saja, melainkan terjadi pelanggaran ketertiban, tertib hunian, dengan menjadikan lahan milik Negara sebagai tempat hunian. Bukan hanya di Kalijodo saja, tetapi juga di tempat-tempat sejenisnya.

Dikarenakan persoalan-persoalan di Jakarta dapat diselesaikan, utamanya, jika semua warganya bisa tertib. Banjir tidak akan terjadi jika warganya tertib buang sampah, buang sampah pada tempatnya, bukan di selokan, got, kali atau sungai, Juga tertib hunian, tidak membangun rumah di pinggir dan bantaran sungai atau kali, menguruk sungai dan kali untuk hunian atau membangun rumah di atas lahan milik Negara. Kemacetan bisa dikurangi bahkan tidak terjadi lagi jika warganya tidak menjadikan jalur hijau, sempadan jalan atau trotoar dan pinggir jalan sebagai tempat jualan dan warganya juga tertib berlalulintas. Aspirasi warga juga dapat diterima dengan baik oleh pemerintah maupun pihak terkait jika warganya juga tertib dalam berdemonstrasi.

Sebagai Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta, Jakarta Islamic Centre pada tahun 2015 telah melakukan kajian terhadap program 5T Pemprov. DKI Jakarta, yaitu: Tertib Lalu Lintas, Tertib Pedagang Kaki Lima (PKL), Tertib Hunian, Tertib Sampah, dan Tertib Demonstrasi. Kajiannya berupa serangkaian kegiatan penelitian kualitatif dalam bentuk studi pustaka yang mengaitkan ajaran Islam dengan program 5T tersebut dengan melibatkan beberapa orang dai yang telah didik oleh Jakarta Islamic Centre sebagai peneliti dengan pembimbing Dr. Farid F. Saenong dan Rakhmad Zailani Kiki selaku Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre yang hasilnya telah diseminarkan dengan tema ”Kampanye Islam dan 5T” di Ruang Audio Visual Jakarta Islamic Centre, Senin, 28 Desember 2015.

Khusus mengenai tertib hunian, hasil kajiannya adalah bahwa salah satu persoalan di DKI Jakarta adalah keberadaan permukiman liar (Squatter). Pemukiman liar menempati lahan di daerah yang tidak diperkenankan untuk didirikan bangunan, khususnya bangunan untuk tempat tinggal, seperti di pinggir atau di bantaran sungai dan kali, di lahan jalur hijau atau di atas lahan milik Negara. Selain dinilai membahayakan bagi penghuninya, juga akan mengganggu program-program penataan kota.

Dalam kaitan dengan tertib hunian ini, Islam telah memberikan pedoman, panduan, mengenai hunian yang layak untuk ditempati. Di dalam Al-Quran Surat An-Nahl Ayat 80-81, Allah SWT berfirman: “Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu). Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu dari apa yang telah Dia ciptakan, Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung, dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dari peperangan. Demikian Allah menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya).”

Imam Ibnu Katsir menafsirkan dua ayat tersebut bahwa Allah mengingatkan akan kesempurnaan nikmat yang Dia curahkan atas para hamba-Nya, berupa rumah tempat tinggal yang berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi mereka. Mereka bisa berteduh (dari panas dan hujan) dan berlindung (dari segala macam bahaya) di dalamnya.  Juga bisa mendapatkan sekian banyak manfaat lainnya.

Dengan demikian, hunian yang baik menurut ajaran Islam utamanya adalah hunian yang memberikan ketenangan dan tidak membahayakan. Hal ini sesuai dengan sebuah kaidah Ushul Fikih:”Laa dharara wa laa dhiraar, tidak berbahaya dan tidak membahayakan.” Maka jelas, membangun hunian di pinggir dan bantaran sungai atau kali membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Selain itu, hunian yang baik menurut ajaran Islam adalah tidak merampas dan atau menempati lahan milik orang lain atau milik Negara. Hukuman bagi perampas lahan orang lain dalam Islam sangatlah keras. Di tulisan ini, ada empat hadits yang saya cantumkan yang menyatakan hukuman yang sangat keras bagi perampas lahan orang lain, yaitu: Pertama, hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:“Barang siapa yang berbuat zhalim (dengan mengambil) sejengkal tanah maka dia akan dikalungi (dengan tanah) dari tujuh lapis bumi.” (Muttafaqun ‘Alaih).

Kedua, hadits yang diriwayatkan dari Ya’la bin Murrah r.a. berkata telah bersabda Rasulullah SAW:“Siapa saja orang yang menzhalimi (dengan) mengambil sejengkal tanah (orang lain), niscaya Allah akan membebaninya hingga hari kiamat dari tujuh lapis bumi, lalu Allah akan mengalungkannya (di lehernya) pada hari kiamat sampai seluruh manusia diadili.”( HR. Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).

Ketiga, hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Tsabit r.a., ia berkata:” aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,’Barangsiapa yang mengambil tanah tanpa ada haknya, maka dia akan dibebani dengan membawa tanahnya (yang dia rampas) sampai ke padang mahsyar.’ “(HR. Imam Ahmad).

Keempat, hadits yang diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. dia berkata bahwa bersabda Rasulullah SAW:“Barang siapa yang mengambil tanah (meskipun) sedikit tanpa haknya maka dia akan ditenggelamkan dengan tanahnya pada hari kiamat sampai ke dasar tujuh lapis bumi.”(HR. Imam Bukhari).

Akhir kalam, sedangkan untuk persoalan prostitusi di Kalijodo, MUI (Majelis Ulama Indonesia) Provinsi DKI Jakarta telah mengeluarkan seruan tertanggal 16 Februari 2016, yaitu agar masyarakat Muslim di Jakarta mendukung upaya penutupan lokalisasi Kalijodo dan tempat sejenis oleh pemerintah bersama para ulama sesuai dengan kaidah hokum positif dan hokum Islam, yang selanjutnya dilakukan pembinaan terhadapnya.***

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

POLDA ACEH GELAR SHALAT SHUBUH BERJAMAAH DAN DZIKIR AKBAR

Read Next

MASJID INI BUKTI AWAL PERADABAN ISLAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 15 =