KAPTEN SHINDY, MUSLIMAH PENJAGA TOLERANSI DI AL AUSTRALIA

JIC – Kapten Mona Shindy merupakan salah satu petinggi di lingkungan Angkatan Laut Australia. Muslimah yang juga seorang teknisi senjata, penasihat budaya, dan kepala bagian bisnis di Royal Autralian Navy, ini meraih penghargaan Telstra NSW Bussiness of the Year 2015. Penghargaan diberikan lantaran dia sukses merawat nilai-nilai keragaman dan inklusi di lingkungan AL.

“Saya suka menginspirasi orang untuk berinovasi dan keluar dari zona nyaman untuk melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda,” ujar Kapten Shindy yang menjabat sebagai Direktur Bagian Aktivitas Tepi Laut dan Dukungan Maritim Royal Australian Navy.

“Saya ingin orang-orang yakin pada diri mereka sendiri tanpa rasa takut atau diskriminasi dan menghormati pandangan serta kontribusi mereka,” lanjut Shindy.

Kapten Shindy bergabung dalam armada AL Australia sejak 26 tahun lalu. Saat dia berusia 23 tahun setelah lulus dari jurusan rekayasa blok dan naik kapal HMAS Canberra untuk menguji peluru kendali di Pasifik.

Sepanjang karirnya di AL Australia, dia punya banyak pengalaman seperti mewakili negaranya dalam Australian Air Warfare Destroyer Program di Washington DC, Amerika Serikat. Saat ini bertanggung jawab pada akuisisi aset pertahanan utama Australia. Sebagai muslimah, menjadi perwira militer bukan merupakan hal mudah bagi Shindy. Dia harus bekerja sedikit lebih keras agar kemampuannya diakui.

“Kebanyakan insinyur perempuan di pelbagai lingkungan kerja, Anda harus bekerja sedikit lebih keras untuk membuktikan kemampuan Anda, untuk menunjukkan kompetensi Anda agar dapat diterima sebagai anggota terhormat seutuhnya dan berkontribusi pada tim,” ungkap dia.

Kapten Shindy juga berhasil menjembatani kesenjangan antara komunitas muslim dan non-muslim di lingkungan militer. Dia kini dipercaya memegang amanah sebagai Kepala Penasehat Strategis Urusan Kebudayaan Islam Angkatan Laut Australia dan mendapat penghargaan Service Cross dalam perayaan Australia Day. Dia ingin mendorong lebih banyak muslim untuk bergabung dalam kekuatan pertahanan. Sejauh ini, terdapat 100 dari 45.000 tentara adalah muslim dan 27 di antaranya berada di kesatuan AL.

“Banyak muslim Autralia merasa sakit hati akibat kampanye militer sebelumnya yang menyatakan kekuatan pertahanan kami yang saya kira menyulitkan dan membuat tidak nyaman,” kata dia. Militer Australia sempat menuduh komunitas muslim sebagai teroris, yang mengakibatkan banyak orang Islam merasa tersudutkan. Hal itu juga menjadi penghambat masyarakat muslim Australia untuk bisa bergabung menjadi tentara. [Dream.co.id]

Sumber: onislam.net

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

YUK ISTIQOMAH MEMBANGKITKAN UMAT

Read Next

YAKHSYALLAH MANSUR: DUNIA BERKACA PADA PERKEMBANGAN ISLAM INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 5 =