KAYFIYAT SEMBAHYANG TARAWIH

Judul di atas diambil dari judul risalah Kayfiyat Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain. Risalah ini disusun oleh seorang ulama Betawi perempuan, Hj. Siti Zubaidah binti H. Hasanuddin. Ia adalah salah seorang istri dari ulama Betawi kharismatik asal Klender dan pendiri perguruan Islam Al-Wathoniyah, KH.Hasbiyallah. Lalu apa dan bagaimana isi risalah ini yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu? Dalam kata pengantarnya, penyusun menjelaskan tujuan disusunnya risalah ini, yaitu agar kaum muslimin dan muslimat menjadi tertib dan semangat dalam mengerjakan ibadah.

Judul di atas diambil dari judul risalah Kayfiyat Sembahyang Tarawih dan Shalat Al-`Idain. Risalah ini disusun oleh seorang ulama Betawi perempuan, Hj. Siti Zubaidah binti H. Hasanuddin. Ia adalah salah seorang istri dari ulama Betawi kharismatik asal Klender dan pendiri perguruan Islam Al-Wathoniyah, KH.Hasbiyallah.

Memang selain risalah ini, ada beberapa risalah sejenis yang ditulis oleh ulama Betawi lainnya, seperti risalah yang berjudul Shalat Tarawih yang disusun oleh Muallim KH. M. Syafi`i Hadzami. Namun risalah ini menjadi menarik untuk diulas karena paling tidak ada dua sebab, yaitu: pertama, risalah ini disusun oleh seorang ulama perempuan. Di tengah dominasi ulama pria, kemunculan-kemunculan risalah ataupun kitab fiqih dari tangan seorang ulama perempuan dapat menjadi penyadar umat yang kebanyakan masih berpahaman patriarkis dan bias gender bahwa sebuah pemahaman agama atau fiqih bisa saja lahir dari ulama perempuan yang juga memiliki nilai yang sama bahkan bisa saja lebih tinggi dari nilai yang dihasilkan oleh ulama pria; dan kedua, pilihan kata ‘sembahyang’ dari pada ‘shalat’ pada judul risalah ini menunjukkan bahwa si penyusun ingin mendekatkan fiqih yang berbahasa Arab dengan bahasa pribumi sehingga dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk memilikinya, walau di dalam isinya si penyusun juga menggunakan kata shalat. Karena memang salah satu tujuan disusun, dicetak dan diperbanyaknya risalah ini adalah untuk penggalangan dana pembangunan Pondok Pesantren Putri Al-Banatul Wathoniyah yang dipimpinnya .

Lalu apa dan bagaimana isi risalah ini yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu? Dalam kata pengantarnya, penyusun menjelaskan tujuan disusunnya risalah ini, yaitu agar kaum muslimin dan muslimat menjadi tertib dan semangat dalam mengerjakan ibadah.

Menurut penyusun, terkait dengan pembahasan kayfiyat atau tata cara sembahyang tarawih pada bulan Ramadhan, maka sembahyang yang dimaksud adalah dua puluh raka`at dengan sepuluh salam dan sembahyang witir tiga rakat. Kemudian penyusun menguraikan tentang tata caranya sejak ‘Bilal’ atau mubaligh mengucapkan seruan untuk sembahyang tarawih, imam memimpin sholat dan bacaan-bacaan shalat, seruan-seruan ‘Bilal” sesudah dan menjelang shalat, shalat witir sampai kemudian bersama-sama dengan jama`ah, imam membacakan niat berpuasa. Dalam mengakhiri pembahasan tata cara sembahyang tarawih ini penyusun memberikan suatu tanbih atau suatu peringatan kepada kaum muslimin dan muslimat mengenai bacaan-bacaan surat di raka`at pertama dan raka`at kedua di malam kelima dari bulan Ramadhan dan bacaan-bacaan surat di raka`at pertama dan kedua jika sudah sampai di malam keenam belas dari bulan Ramadhan dan membaca qunut pada shalat witir.Setelah itu, penyusun menguraikan tentang tata cara sembahyang Dua Hari Raya (`Idain). Risalah ini kemudian ditutup oleh si penyusun dengan mengucapkan hamdalah dan harapan agar isinya dapat dipahami oleh penggemar (kata penggemar dipakai si penyusun untuk menggantikan kata pelaku) ibadah tarawih.

Tentu saja, sebagai sebuah risalah fiqih, tidak semua sependapat dengan isinya, terutama bagi mereka memiliki faham yang berbeda. Namun, keberadaan risalah ini memberikan pesan yang kuat kepada umat Islam agar paham yang berbeda, terutama dalam masalah jumlah raka`at dan kayfiyat dalam shalat tarawih, tidak usah dibenturkan melalui perdebatan. Ajari umat untuk memahami perbedaan dengan kecerdasan, dengan nalar mereka, bukan dengan keributan apalagi otot karena kita adalah sebaik-baiknya umat.

Jakarta Islamic Centre (JIC) sendiri dalam kapasitasnya sebagai masjid raya provinsi sudah sejak lama mengakomodir perbedaan paham dalam kayfiyat shalat tarawih ini, terutama dalam bilangan raka`atnya. Pelaksanaan shalat tarawih di JIC dilakukan dalam dua gelombang, yaitu untuk yang menjalankan sebelas raka`at kemudian disusul untuk yang menjalankan dua puluh tiga raka`at. Jika masjid-masjid lain meniru hal ini, maka kebersamaan umat Islam tetap terjaga karena kaum muslimin, jama`ah mereka, tetap shalat dalam satu masjid yang sama, tidak usah memisahkan diri apalagi sampai membuat masjid baru yang mencerminkan kekerdilan dan kepicikan dalam melihat dan memanifestasikan perbedaan.

Akhirulkalam, pada kesempatan ini, JIC mengajak kaum muslimin dan muslimat untuk menghadiri peringatan Nuzulul Quran dengan tema Khatmul Qur`an Massal bersama Gubernur dan Masyarakat Jakarta. Selain kegiatan Khatmul Qur`an, pada kegiatan Nuzul Qur`an tersebut, ada kegiatan santunan anak yatim dan kegiatan lainnya. Selain itu, ada juga kegiatan Jambore Ramadhan yang diselenggarakan dari tanggal tanggal 13 s/d 14 Agustus 2011 yang bertujuan untuk menguatkan aqidah dan pemahaman ke-Islaman anak usia sekolah dasar atau yang sederajat. Semoga shalat tarawih kita diterima oleh Allah swt. dan setiap ayat yang dibaca mendapatkan balasan dan keberkahan yang berlimpah. Aaamiin. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

DUA HILAL DI LANGIT BETAWI (2)

Read Next

Masya Allah, Muslim Uighur Cina Dilarang Puasa Selama Ramadhan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × five =