KEGEMPARAN SAAT USKUP AGUNG UGANDA UMUMKAN MEMELUK ISLAM (2)

JIC,— Kala itu, yang terlintas dalam imajinasinya adalah misinya dan hartanya, seperti mobilnya. Dia berpikir dirinya tidak bisa memeluk Islam dan selama satu tahun lamanya dia melupakannya.

Namun kemudian, mimpi menghantuinya, ayat-ayat Alquran terus muncul, orang-orang berpakaian putih terus berdatangan, terutama pada hari Jumat, hingga dia tidak tahan lagi. Hingga akhirnya, pada 22 Desember 1986, dia secara resmi memeluk Islam. Mimpi-mimpi itu yang membimbingnya untuk masuk Islam. Mwaipopo meyakini bahwa mimpi bukan takhayul.

“Tidak, saya tidak percaya bahwa semua mimpi itu buruk. Ada yang memandu Anda ke arah yang benar dan yang tidak, dan mimpi-mimpi ini, khususnya, membimbing saya ke arah yang benar, kepada Islam,” katanya.

Karena keputusannya memeluk Islam itulah, gereja menyita rumahnya dan mobilnya. Istrinya pun harus mengepak pakaiannya, mengambil anak-anaknya dan pergi. Mwaipopo menjamin sang istri tidak diwajibkan untuk menjadi seorang Muslim.

Ketika Mwaipopo pergi kepada orang tuanya, mereka juga telah mendengar cerita tentang langkahnya itu. Kala itu, sang ayah justru memintanya mencela Islam. Sementara sang ibu mengatakan dia tidak ingin mendengar omong kosong dari Mwaipopo.

Namun begitu, Mwaipopo mengungkapkan perasaannya bahwa dia telah memaafkan orang tuanya. Sebab, dia akhirnya bisa menemukan waktu untuk berdamai dengan ayahnya sebelum sang ayah meninggal.

“Mereka hanya orang tua yang tidak tahu. Mereka bahkan tidak bisa membaca Alkitab, yang mereka tahu hanyalah apa yang mereka dengar dari pendeta yang membaca,” ungkapnya.

Setelah meminta untuk menginap satu malam, pada hari berikutnya, ia memulai perjalanannya ke tempat asal keluarganya, Kyela, di dekat perbatasan antara Tanzania dan Malawi. Orang tuanya telah menetap di Kilosa, Morogoro.

Selama perjalanannya, dia terdampar di Busale di rumah satu keluarga yang menjual bir buatan rumah. Di sanalah ia bertemu calon istrinya, seorang biarawati Katolik, dengan nama Suster Gertrude Kibweya, yang sekarang dikenal sebagai Suster Zainab.

Bersama biarawati itulah, Mwaipopo pergi ke Kyela. Di sana, ia bertemu lelaku tua yang memberinya tempat berteduh malam sebelumnya. Lelaki tua itu juga yang mengatakan kepadanya bahwa di situlah dia akan menemukan Muslim lainnya.

Kala itu, yang terlintas dalam imajinasinya adalah misinya dan hartanya, seperti mobilnya. Dia berpikir dirinya tidak bisa memeluk Islam dan selama satu tahun lamanya dia melupakannya.

Namun kemudian, mimpi menghantuinya, ayat-ayat Alquran terus muncul, orang-orang berpakaian putih terus berdatangan, terutama pada hari Jumat, hingga dia tidak tahan lagi. Hingga akhirnya, pada 22 Desember 1986, dia secara resmi memeluk Islam. Mimpi-mimpi itu yang membimbingnya untuk masuk Islam. Mwaipopo meyakini bahwa mimpi bukan takhayul.

“Tidak, saya tidak percaya bahwa semua mimpi itu buruk. Ada yang memandu Anda ke arah yang benar dan yang tidak, dan mimpi-mimpi ini, khususnya, membimbing saya ke arah yang benar, kepada Islam,” katanya.

Karena keputusannya memeluk Islam itulah, gereja menyita rumahnya dan mobilnya. Istrinya pun harus mengepak pakaiannya, mengambil anak-anaknya dan pergi. Mwaipopo menjamin sang istri tidak diwajibkan untuk menjadi seorang Muslim.

Ketika Mwaipopo pergi kepada orang tuanya, mereka juga telah mendengar cerita tentang langkahnya itu. Kala itu, sang ayah justru memintanya mencela Islam. Sementara sang ibu mengatakan dia tidak ingin mendengar omong kosong dari Mwaipopo.

Namun begitu, Mwaipopo mengungkapkan perasaannya bahwa dia telah memaafkan orang tuanya. Sebab, dia akhirnya bisa menemukan waktu untuk berdamai dengan ayahnya sebelum sang ayah meninggal.

“Mereka hanya orang tua yang tidak tahu. Mereka bahkan tidak bisa membaca Alkitab, yang mereka tahu hanyalah apa yang mereka dengar dari pendeta yang membaca,” ungkapnya.

Setelah meminta untuk menginap satu malam, pada hari berikutnya, ia memulai perjalanannya ke tempat asal keluarganya, Kyela, di dekat perbatasan antara Tanzania dan Malawi. Orang tuanya telah menetap di Kilosa, Morogoro.

Selama perjalanannya, dia terdampar di Busale di rumah satu keluarga yang menjual bir buatan rumah. Di sanalah ia bertemu calon istrinya, seorang biarawati Katolik, dengan nama Suster Gertrude Kibweya, yang sekarang dikenal sebagai Suster Zainab.

Bersama biarawati itulah, Mwaipopo pergi ke Kyela. Di sana, ia bertemu lelaku tua yang memberinya tempat berteduh malam sebelumnya. Lelaki tua itu juga yang mengatakan kepadanya bahwa di situlah dia akan menemukan Muslim lainnya.

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

KEGEMPARAN SAAT USKUP AGUNG UGANDA UMUMKAN MEMELUK ISLAM (1)

Read Next

JAKARTA-SELATAN-SEGERA-MILIKI-JALAN-LAYANG-YANG-INSTAGRAMABLE

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 + seven =