KEMEGAHAN ARSITEKTUR ISLAM DI UTARA JAKARTA

JIC – Melintasi jalan bebas hambatan menuju Tanjung Priok dari kejauhan tampak kubah berwarna hijau kehitaman menyeruak di antara bangunan rapat di sekitarnya. Ya, itulah kubah Masjid Jakarta Islamic Centre (JIC) yang berdiri megah di atas lahan seluas 2,2 hektare di utara Jakarta.

Pusat Islam di bilangan Jalan Kramat Raya Jakarta Utara ini berdiri sejak 2002. Berdaya tampung lebih dari 20 ribu jamaah, masjid dengan luas bangunan 14.625 meter persegi ini menjadi simbol syiar Islam dan pencerahan dari kelamnya masa lalu kawasan itu. Asal tahu saja, lahan tempat Masjid JIC dan kompleks JIC ber diri dulu merupakan area lokalisasi ternama di Indonesia, Kramat Tunggak.

Ketika melihat eksterior masjid ini secara lebih dekat, rupanya kubah sebagai bagian klimaks tempat ibadah ini tak menyatu dengan bangunan kubus di bawahnya. Kubah yang menjadi ciri khas arsitektur Islam, khususnya pada masjid-masjid di Arab dan Timur Tengah, ini berdiri di atas dudukan kubah. Peletakan kubah pada bagian dudukan atau “leher” ini bertujuan agar proporsi dan skala masjid menjadi lebih anggun.

Dudukan kubah ini mengawin kan antara bentuk-bentuk dasar limas dan kubus yang kemudian mewujudkan bentuk baru. Paduan kaca patri muncul pada bagian ini. Selain menjadi unsur dekoratif, permainan cantik kaca patri juga menyumbang pencahayaan ke dalam masjid.

Mengapa dipilih warna hijau untuk kubah? Rupanya, hal ini terinspirasi dari warna hijau pada kubah makam Rasulullah SAW. Warna hijau itu sendiri muncul secara alami dari lapisan tembaga yang menjadi bahan dasar kubah. Setelah lima tahun berdiri, kubah yang tadinya berwarna merah tembaga berubah menjadi hijau tua.

Di bagian puncak kubah terdapat makara yang terbuat dari tembaga. Pada makara yang berbentuk batang vertikal ini terdapat lima piringan sebagai simbol dari lima rukun Islam. Makara yang juga berfungsi sebagai penangkal petir ini berketinggian 12 meter.

Ciri khas arsitektur Islam terlihat pula pada menara. Menara yang menjadi salah satu sarana untuk mengumandangkan azan terletak di sisi timur laut masjid. Bangunan menara ini sengaja dibuat dengan ketinggian 114 meter sesuai dengan jumlah surah dalam Alquran.

Agak berbeda dari menara masjid lainnya, menara yang berdiri di atas kolam ini tampil dengan sentuhan warna merah muda pada bagian bawahnya. Sentuhan warna merah muda ini tampak kontras dengan warna-warna lain yang diaplikasinya pada masjid ini. Tentang dipilihnya warna merah muda pada menara, Kepala Subbagian Humas JIC Paiman A Karim mengatakan, warna ini terinspirasi oleh warna jubah kesukaan Rasulullah SAW.

Masjid JIC dirancang oleh arsitek ternama Indonesia, Ahmad Noe’man. Adalah Soetiyoso, gubernur DKI pada masa itu, yang me minta Noe’man untuk mendesain masjid ini. Pilihan Soetiyoso tepat adanya. Sebab, Noe’man adalah maestro arsitektur masjid yang karyanya tersebar di banyak tempat, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sebut saja, di antaranya, Masjid Salman ITB, Masjid At-Tin Jakarta, dan Masjid Indonesia di Bosnia Herzegovina.

Noe’man pernah mengatakan, bentuk bangunan Masjid JIC memanifestasikan sifat-sifat keper kasaan (al-Jabbaru), kemegahan (al-Mukabbiru), keindahan (al- Jamil), dan kelembutan (al-Lathiif). Keperkasaan dilambangkan oleh bangunan yang tinggi menjulang, kemegahan diinterpretasikan oleh bentangan kubah se panjang 68 me ter tanpa tiang— yang merupakan bentangan tanpa tiang terbesar se- Asia Tenggara—dan keindahan diperoleh dari visual keseluruhan bangunan.

Masjid ini memiliki dua lantai. Lantai dasar digunakan untuk ruang fungsional, seperti kantorkantor dan perpustakaan, sedang kan lantai atas yang merupakan ruang shalat terdiri atas mezanin dan ruang utama. Siapa pun yang memasuki ruang utama masjid, perhatian pertama akan terfokus pada kubah yang sangat besar de ngan ornamen 12 lampu gantung berbentuk kipas Betawi memutari ruang shalat utama. Sebuah kombinasi dekorasi yang amat indah.

Sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment