Kemenkominfo: Uang Rakyat Indonesia Untuk RIM

“Haruskah kita merunduk runduk pada asing,” kata Menteri Tifatul. Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dalam akun Twitter-nya, Selasa (11/1/) kemarin, mengatakan Research in Motion (RIM), penyedia layanan BlackBerry, mengeruk pendapatan sekitar Rp 2,268 triliun setiap tahun. <Hidayatullah.com> “Haruskah kita merunduk runduk pada asing,” kata Menteri Tifatul. Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dalam akun Twitter-nya, Selasa (11/1/) kemarin, mengatakan Research in Motion (RIM), penyedia layanan BlackBerry, mengeruk pendapatan sekitar Rp 2,268 triliun setiap tahun. <Hidayatullah.com>


Menteri Tifatul yang melempar 11 “kicauan” pandangannya dalam akunnya kemarin,  menjelaskan beberapa hal terkait kontroversi peringatan pemerintah kepada RIM mengenai layanannya di Indonesia.

Menurut Tifatul, selain tidak membayar pajak, RIM memperoleh pendapatan sebesar itu tanpa membangun infrastruktur jaringan apa pun di Indonesia. Seluruh jaringan yang digunakan RIM adalah milik enam operator seluler di Indonesia.

“Haruskah kita merunduk runduk pada asing?. Arogankah kalau mengingatkan asing agar menghormati hukum dan UU di Indonesia,” tulis Menteri Komunikasi dan Informasi Tifatul Sembiring dalam akun Twitter-nya.

Dengan rata-rata menagih 7 dollar Amerika per orang per bulan, lanjut Tifatul, RIM menangguk pemasukan bersih Rp 189 miliar per bulan atau Rp 2,268 triliun per tahun. Uang rakyat Indonesia untuk RIM.

“Salahkah kita memintah ‘jatah’ untuk Indonesia seperti tenaga kerja, konten lokal, menghormati dan mematuhi ketentuan hukum dan undang-undang di Indonesia yang berdaulat ini,” terangnya lagi.

Semua operator di Indonesia, lanjut Tifatul, sudah menjalankan dan mematuhi undang-undang dan peraturan, seperti membayar biaya hak penggunaan frekuensi, pajak, merekrut tenaga kerja (Indonesia), menjalankan corporate social responsibility, membantu korban Merapi, Mentawai, Wasior, dan bencana-bencana lainnya.

“Kelirukah kita jika meminta RIM menjalankan undang-undang dan aturan yang sama? Apakah RIM perlu diberi keistimewaan dan perkecualian? Arogankah kalau mengingatkan asing agar menghormati hukum dan undang-undang di Indonesia,” ujarnya.

“Ini untuk kepentingan yang lebih luas. Diberi sepotong ‘kue kecil’ lantas mati-matian bela asing. Minta hak yang besar untuk bangsa yang terhormat ini,” tegas Tifatul. [ain/hidayatullah.com]

Write a Reply or Comment

ten + fourteen =