KETIKA KEBEBASAN BERIBADAH DI MASJID AL-AQSA TERANCAM

JIC – Umat Muslim di seluruh dunia tentu memahami, bahwa hari Jumat adalah hari terbaik dalam sepekan. Pada hari itu, doa-doa dikabulkan, dosa-dosa dihapuskan. Nabi Muhammad SAW bahkan bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, “Sebaik-baiknya hari yang matahari terbit padanya (hari cerah) adalah hari Jumat, (karena) pada hari itu Adam diciptakan, hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan dikeluarkan darinya, dan tidaklah akan datang hari kiamat kecuali pada hari Jumat.”

Namun, keberkahan hari Jumat tak seutuhnya dapat dinikmati umat Muslim dunia.

Seperti yang terjadi Jumat (14/7) lalu di kompleks Al Haram Al Syarif yang menjadi rumah bagi Masjid Al Aqsa. Salat Jumat yang khidmat tak dapat ditunaikan di tempat tersuci ketiga bagi umat Muslim dunia ini. Polisi serta militer Israel secara sepihak menutup seluruh area kompleks masji. Tak ada satu pun kegiatan peribadahan yang diizinkan, termasuk ibadah salat Jumat. Alasannya satu: dua tentara Israel tewas tertembak oleh oknum yang diduga warga Israel keturunan Arab.

Pembatalan salat Jumat ini adalah kejadian yang pertama kali dalam setengah abad terakhir. Tak ada satu pun warga Muslim Palestina yang boleh bersujud di dalam Al-Aqsa. Selama dua hari berikutnya, situs Al Haram Al Syarif ditutup dan dipasangi detektor metal.

Baru Ahad lalu (16/7), Masjid Al Aqsa kembali dibuka. Namun demikian, perangkat detektor metal dan tambahan kamera memantau gerak-gerik pengunjung terpasang si berbagai sisi kompleks masjid. Tindakan pemerintah Israel memancing ketegangan baru. Sebelumnya, untuk memonitor kontrol yang netral atas Masjid Al Aqsa, ditunjuklah organisasi Jordanian Waqf Authority sebagai administrator. Tidak pernah ada kamera atau detektor metal.

Penutupan Masjid Al-Aqsa jelas memicu protes dari Yordania dan ribuan warga Palestina yang bermukim di sekitar Masjid Al-Aqsa. Argumen mereka serupa, bahwa tindakan Israel tersebut telah mengganggu status quo atau kondisi netral yang telah susah payah dibangun di kawasan tersebut. Masyarakat Palestina menolak salat di dalam masjid Al-Aqsa, sebagai salah satu bentuk protes atas kebijakan keamanan Israel tersebut.

Bentrok dalam rangkaian aksi protes pun tak terelakkan. Malam Selasa (17/7) pasca salat Maghrib, bentrokan terjadi di sekitar situs. Kemarin, tepat satu hari setelahnya, media lokal setempat menuliskan jumlah korban luka yang berasal dari masyarakat Palestina kurang lebih 50 orang. Tidak hanya masyarakat Palestina, empat orang paramedis pun ikut terluka.

Mahmoud Abbas, leader dari Palestinian Authority menyerukan “Hari Kemarahan” atau “Day of Rage” untuk memprotes tindakan Israel yang semena-mena mengatur kebebasan untuk bersujud di dalam Al-Aqsa.

Dilakukan oleh siapapun, untuk alasan apapun, penyerangan yang dilakukan di tempat ibadah tidak bisa dijustifikasi. Manusia, siapapun dia, tidak berhak mengambil nyawa manusia lain. Namun, manusia pun tidak berhak merintangi manusia lain dari ibadahnya, menjauhkan mereka dari Tuhannya.

Apakah negeri yang damai merupakan suatu angan? Apakah pemandangan di mana manusia hidup berdampingan, tanpa konflik atau peperangan, terlalu sulit untuk diwujudkan? Kita sendiri yang menentukan jawabannya.

Pertanyaan lainnya, perlukah kita menunggu sampai korban atas konflik di Jerussalem Palestina, juga di Gaza, termasuk di Suriah dan Yaman semakin banyak yang meregang nyawa, sampai kita memutuskan untuk menghentikannya? Jawabannya, lagi-lagi, kita yang tentukan.

Dari Tanah Al-Quds, dari dalam Masjid Al-Aqsa, seruan itu menggema. Seruan untuk membela hak-hak agar bisa bersujud dan beribadah tanpa ada halangan apapun.

Sumber : act.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MENGENAL MASJID AL-AQSHA (BAGIAN 1)

Read Next

MENAG: PERSIAPAN HAJI HAMPIR FINAL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 5 =