KISAH DISKRIMINASI MUSLIM XINJIANG OLEH PEMERINTAH CINA

muslim-xian-jiang-cina-melakukan-shalat-berjamaah-_120928113932-200

JIC – Ramadhan adalah waktu sensitif bagi Muslim di Xinjiang. Ini karena beberapa tahun silam di wilayah itu  terjadi serangan mematikan yang  menewaskan ratusan orang. Dan pada Ramadhan tahun ini perasaan was-was muncul kembali. Hal ini terjadi karena pihak pemerintah Cina semakin gencar melakukan tindakan pengawasan kepada warga Xinjiang dengan menerbitka aneka aturan baru yang represif.

Polisi di wilayah utara-barat Cina, seperti diberitakan laman BBC News meminta beberapa warga Xinjiang memberikan sampel DNA dan data biologis lainnya ketika mengajukan dokumen perjalanan atau paspor. Orang-orang di daerah multi-etnis Yili, yang tinffal di perbatasan Kazakhstan misalnya harus memberikan identifikasi tambahan sebelum diizinkan pergi ke luar negeri terutama ke wilayah Cina, Hong Kong, Makau, serta Taiwan.

Banyak umat Islam di Xinjiang mengatakan pemerintah Cina melakukan didiskriminasi. Mereka mengatakan, pihak berwenang Cina sering menolak mengeluarkan dokumen yang memungkinkan mereka melakukan perjalanan.

Seperti diberitakan surat kabar Yili Daily, orang-orang yang ingin melamar perjalanan ke luar negeri harus menyediakan sampel darah, sidik jari, rekaman suar,a dan gambar tiga dimensi.

Kebijakan ini efektif berlaku sejak 1 Juni. Yili Daily tidak memberikan alasan langsung untuk aturan baru ini. Tapi, surat kabar tersebut mengatakan dua penyederhanaan proses aplikasi tahun lalu membuat terjadinya peningkatan besar jumlah pelamar.

Ibu kota prefektur Yili, Gulja yang juga dikenal di Cina sebagai Yining adalah tempat terjadinya kerusuhan etnis mematikan pada 1997 yang menewaskan 10 orang.

seorang-muslim-uighur-berada-di-depan-militer-yang-patroli-_150706215535-400

Pemerintah Cina Klaim tak Ada Diskriminasi Agama

Sebagian besar etnis minoritas Uighur yang meningkat sekitar 45 persen dari populasi Xinjiang menjalankan agama Islam. Ratusan orang telah tewas selama beberapa tahun terakhir dalam serangkaian serangan di Xinjiang. Beijing menyalahkan militan Islam lah yang melakukan serangan tersebut untuk membentuk sebuah negara merdeka yang disebut Turkestan Timur.

Cina menyebut mereka terinspirasi atau dibantu oleh kelompok-kelompok teror di luar negeri. Namun para pemimpin Uighur telah membantah pihaknya berada di balik kekerasan yang terjadi.

Pihak berwenang di Xinjiang di masa lalu telah meningkatkan pengawasan, termasuk pada praktik Islam yang dijalankan etnis minoritas Uighur selama Ramadhan. Pegawan Negeri Sipil (PNS) dan anak-anak dilarang berpuasa. Padahal pekan lalu, Cina mengatakan tidak ada diskriminasi agama di wilayah Xinjiang dan tidak akan ada gangguan pada Ramadhan ini.

Tahun lalu, Cina menggelar festival minuman berlakohol di Xinjiang selama Ramadhan. Partai Komunis Cina mengaku melindungi kebebasan beragama namun mempertahankan cengkeraman eratnya pada kegiatan keagamaan. Pemerintah hanya memungkinkan lembaga yang diakui secara resmi saja yang dapat beroperasi.

Warga Xinjiang Berjilab Dilarang Naik Bus

Dalam beberapa tahun terakhir, seperti dilansir Reuters parlemen Xiniang telah menyetujui larangan penggunaan cadar di wilayah Urumqi. Selain itu pemerintah juga meminta umat Islam untuk tidak berpuasa pada bulan suci Ramadhan. Selain itu, di beberapa kota di Xinjiang, mereka yang memakai jilbab dan jenggot bahkan dilarang untuk naik bus.

Cina memiliki sekitar 20 juta Muslim yang tersebar di seluruh negeri. Hanya sebagian dari mereka yang merupakan Uighur, kelompok minoritas yang berbicara bahasa Turki dan tinggal di Xinjiang, perbatasan Cina- Asia Tengah.

Sumber ; republika.co.id

Write a Reply or Comment

nineteen − one =