KISAH MUSLIM PERTAMA YANG MASUK INGGRIS

160321060453_elizabethan_london_624x485_alamy

JIC – Abad keenam belas yang merupakan periode Elizabeth di Inggris selalu memiliki tempat khusus dalam pemahaman bangsa.

Namun hanya sedikit yang menyadari bahwa periode itu juga menjadi kali pertama bagi umat Muslim untuk mulai tinggal, bekerja dan menjalankan ajarannya secara terbuka di Inggris, tulis Jerry Brotton.

Kalangan Muslim dari berbagai lapisan masyarakat yang berasal dari tempat-tempat jauh seperti Afrika Utara, Timur Tengah dan Asia Tengah, datang ke London pada abad ke-16, bekerja sebagai diplomat, pedagang, penerjemah, musisi, pegawai dan bahkan pelacur.

Penyebab kehadiran umat Muslim di Inggris adalah pengucilan Ratu Elizabeth dari Katolik Eropa. Paus Pius V tahun secara resmi mengucilkan sang ratu pada tahun 1570, hal inilah yang memungkinkan Ratu bertindak di luar perintah Paus yang melarang perdagangan antara Kristen dengan kaum Muslimin.

Ratu Elizabeth pun menciptakan aliansi komersial dan politik dengan berbagai negara Islam, termasuk dinasti Saadi Maroko, kekhalifahan Usmaniyah dan kekaisaran Persia Syiah.

Sri Ratu mengirim para diplomatnya ke dunia Islam untuk memanfaatkan celah teologis itu, dan orang-orang Islam pun berdatangan ke London, yang secara berbeda-beda disebut orang Moor, India, Negro, dan Turki.

160321051556_lukisan_shah_624x351_alamy

Lukisan ini menunjukkan pengadilan Shah Tahmasp yang tengah menerima kaisar Mughal.

Sebelum Elizabeth memerintah, pemahaman kaum Kristen di Inggris tentang agama Islam didominasi oleh pengalaman Perang Salib yang berdarah-darah.

Bahkan, ada orang Kristen yang tidak mengetahui kata-kata “Islam” atau “Muslim,” yang baru dimasukkan ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-17.

Sebaliknya, mereka memanggil orang-orang ini sebutan “Saracen,” nama yang diambil dari salah satu keturunan Nabi Ibrahim yang diyakini mendirikan dua belas suku asli Arab.

Umat Kristen tidak bisa begitu saja menerima Islam sebagai sebuah keyakinan agama yang masuk akal. Mereka malah menolaknya dan menyebut sebagai politeisme kafir atau penyimpangan sesat dari agama Kristen.

Banyak teolog Muslim yang tidak berani pergi ke tanah-tanah Kristen, atau “Rumah Peperangan,” yang dianggap sebagai musuh abadi dari “Rumah Islam”.

Tapi ketika Elizabeth naik tahta, situasinya mulai berubah. Pada tahun 1562 para pedagang Ratu Elizabeth bergaul dengan kalangan istana Shah Tahmasp di Persia di mana mereka belajar tentang perbedaan teologis antara keyakinan Sunni dan Syiah.

Mereka kembali ke London untuk menyampaikan hadiah kepada sang ratu, berupa seorang gadis yang merupakan budak Muslim Tatar bernama Aura Soltana.

Ia menjadi pelayan ratu yang “disayangi dan dicintai,” ia mengenakan gaun yang terbuat dari sutra Granada dan memperkenalkan fesyen penggunaan sepatu kulit Spanyol kepada Ratu Elizabeth.

160321050725_perang_salib_624x351_alamy

Orang-orang Inggris dari abad pertengahan, memandang Islam lewat pengalaman berdarah Perang Salib.

Ratusan orang lainnya tiba dari wilayah-wilayah Islam dan meskipun tidak ada catatan mereka yang terselamatkan, namun kehidupan sekilas mereka di era Elizabethan masih bisa ditelusuri dari catatan-catatan paroki di London.

Pada tahun1586 Francis Drake kembali ke Inggris dari Kolombia dengan seratus orang Turki yang ditangkap oleh pasukan Spanyol di Laut Tengah dan dipaksa menjadi budak di Benua Amerika.

Salah satu dari mereka, dikenal sebagai Chinano, adalah Muslim pertama yang diketahui berpindah keyakinan menjadi Protestan Inggris.

Ia dibaptis di Gereja St Katherine dekat Menara London, lalu ganti nama menjadi William Hawkins, dan bersikeras dengan keyakinan bahwa, “jika tidak ada Tuhan di Inggris, maka tak ada Tuhan di mana pun.

Mungkin ia sungguh-sungguh dan menghayati benar jati dirinya yang baru sebagai Anglikan, atau bisa jadi juga ia tahu apa yang harus dikatakan kepada para tuannya yang baru di Inggris.

Apa pun kebenarannya, seperti kebanyakan rekannya yang berasal dari Turki, ia tenggelam ke dalam hiruk pikuk kota London, bersama keyakinan agamanya yang sebenarnya.

Seberapa tulus Chinano dalam berpindah agama mungkin tidak akan pernah diketahui, tetapi ia tidak sendirian, dan orang lain yang seperti dirinya jelas tertarik untuk mencari nafkah di kota dengan berbagai pekerjaan urban itu.

Mereka bekerja sebagai penenun, penjahit, penyuling bir dan pandai besi.

Catatan lain menunjukkan kaum perempuan Muslim yang dibaptis, antara lain Mary Fillis, seorang “Moor hitam” putri seorang pembuat keranjang asal Maroko.

Orang tuanya sudah bekerja di London sebagai penjahit selama 13 tahun dan “sekarang menggenggam keyakinan kepada Yesus Kristus berkeinginan untuk memeluk agama Kristen “.

Ia dibaptis di Whitechapel pada tahun 1597 yang dianggap merupakan tempatnya menghabiskan sisa hidupnya. Keyakinan orang-orang lainnya lebih tak bisa dipastikan, seperti seorang Maroko yang tidak disebutkan namanya yang pada tahun yang sama dimakamkan “tanpa ada sahabat yang menemani dan tanpa upacara,” karena pihak gereja “tidak tahu apakah ia adalah seorang Kristen atau bukan.”

Tetapi pindah agama tidak terjadi hanya satu arah.

Ratusan pria dan wanita dari era Elizabethan bepergian ke negara-negara Muslim untuk mencari keberuntungan mereka, dan banyak yang berpindah ke agama Islam.

Beberapa orang melakukannya lantaran terpaksa, tetapi yang lainnya pindah agama dengan sukarela. Misalnya Samson Rowlie, seorang pedagang dari Norfolk, yang ditangkap oleh bajak laut Turki di lepas pantai Aljazair tahun 1577, di mana ia dipenjarakan, dikebiri dan masuk Islam.

Ia lalu mengubah namanya menjadi Hassan Aga dan bangkit menjadi Kepala Kasim dan Bendahara Aljir serta menjadi salah satu penasihat paling terpercaya bagi gubernur kekalifahan Usmaniyah. Ia tidak pernah pulang ke Inggris atau kembali memeluk agama Kristen.

Kerjasama Elizabeth dengan kekalifahan Usmaniyah, Persia dan Maroko juga memuat lebih banyak lagi umat Muslim elit masuk ke London. Catatan-catatan menunjukkan bahwa para diplomat Turki diutus sekitar tahun 1580-an ke sana, kendati tidak ada jejak dari mereka yang bisa ditelusuri.

Namun, informasi lebih rinci tentang kedutaan Maroko dekade itu masih ada. Tahun 1589 duta besar Maroko Ahmed Bilqasim masuk London, dikelilingi oleh para pedagang dari Barbary Company, mengusulkan sebuah prakarsa militer Anglo-Maroko melawan “musuh bersama yakni Raja Spanyol.”

Meski usulan anti-Spanyol ini tidak brlanjut, duta besar Maroko turut berlayar dalam armada Inggris yang menyerang Lisbon dengan dukungan dari penguasa Maroko, Maulana Ahmed al-Mansur pada akhir tahun itu.

Lebih dari 10 tahun kemudian, duta besar Maroko lainnya yang bernama Muhammad al-Annuri tiba di London, dengan rombongan besar yang terdiri dari para pedagang, penerjemah, para ulama dan pelayan yang tinggal selama enam bulan di sebuah rumah. Dan warga London mengamati gerak-gerik mereka dalam mengamalkan ajaran Islam dan beribadah.

Seorang warga melaporkan, bahwa kaum Muslimin itu ‘memotong hewan peliharaan mereka di dalam rumah, seperti domba, domba, unggas’ dan ‘megarahkan wajah mereka ke arah timur ketika mereka membunuh hewan apapun. Mereka mengenakan manik-manik, dan berdoa kepada yang Suci.’

Al-Annuri adalah seorang yang sosoknya dibuatkan lukisannya, dua kali bertemu Ratu Elizabeth dan penasihatnya dan bahkan mengusulkan invasi Protestan-Islam terhadap Spanyol dan usulan melancarkan serangan angkatan laut terhadap jajahannya di benua Amerika. Rencana ini tampaknya tidak dijalankan lebih karena bahwa Elizabeth takut akan membuat kekhalifahan Usmaniyah marah, yang pada saat itu merupakan seteru Ahmad al-Mansur, penguasa Maroko.

Persekutuan ini berakhir mendadak akibat kematian Elizabeth dan keputusan penggantinya, yaitu James I untuk berdamai dengan Spanyol Katolik. Namun keberadaan umat Islam seperti al-Annuri, Ahmed Bin Qasim dan figur-figur yang lebih tidak menonjol seperti Chinano dan Mary Fillis tetap merupakan aspek penting, kendati diabaikan dalam sejarah Inggris era Elizabeth.

Hal ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah menjadi bagian dari Inggris dan sejarahnya jauh lebih lama ketimbang yang selama ini dibayangkan.

Sumber ; Tribunnews.com

Write a Reply or Comment

eighteen − fourteen =