Kurban untuk Kesalehan Sosial

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dalam.” (QS. At-Taubah [9]: 71) “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dalam.” (QS. At-Taubah [9]: 71)

Idul Adha tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Atmosfir kedukaan yang begitu melekat di bangsa ini akibat bencana yang beruntun terjadi, dari Wasior, Mentawai sampai Merapi, membuat umat Islam terpanggil untuk berkorban sebelum berkurban. Apa saja dikorbankan untuk menolong saudara-saudaranya sesama umat Islam dan sesama anak bangsa dengan  menyumbangkan tenaga, uang, pakaian, perlengkapan bayi dan lain-lain. Sebuah respon kemanusiaan yang tentu menjadi kebanggan dan modal dari bangsa ini untuk terus melangkah di tengah bencana dan kedukaan. Sebuah respon,  yang menandakan makin tumbuh berkembangnya kesaleahan sosial di tengah-tengah umat. 

Secara definisi kesalehan sosial dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengimplementasikan ajaran-ajaran agama dalam kehidupan sosial sehingga terwujud kualitas kehidupan sosial yang tinggi. Dengan kesalehan sosial yang tinggi, diharapkan akan tumbuh masyarakat yang tertib, taat hukum dan menghormati norma-norma sosial, serta memiliki jiwa kesetiakawanan sosial yang tinggi. Dengan kesalehan sosial motivasi dan landasan keimanan dan ketaqwaan tidak hanya mampu menggerakkan kesadaran, kemauan dan kemampuan seseorang untuk menjalankan kewajiban ritual semata, akan tetapi lebih jauh mampu menjalankan dimensi sosial dari pelaksanaan ibadah-ibadah, sehingga tumbuh ketertiban sosial, kesetiakawanan sosial dan kualitas kehidupan sosial yang lebih baik..

Kesalehan sosial inilah yang kemudian  menjadi tema sentral dari Khutbah `Idul Adha yang disampaikan oleh Drs. H. A. Muhaimin Iskandar, M.Si, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI,  di Jakarta Islamic Centre, Rabu, 17 November 2010. Di dalam khutbahnya, beliau menekankan pentingnya kesalehan sosial sebagai hikmah dari penyelenggaraan kurban karena  bangsa Indonesia ini  masih dihinggapi permasalahan besar, antara lain adalah masih tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. Menurut data statisik yang ada, sampai dengan bulan Februari 2010 saja jumlah penduduk yang menganggur masih mencapai 8,59 juta orang. Padahal mereka sangat membutuhkan penghasilan untuk menghidupi diri dan keluarganya. Oleh karenanya, pemerintah sudah dan tengah dan akan terus berupaya untuk mengatasi permasalahan pengangguran dan kemiskinan yang dihadapi oleh bangsa ini melalui berbagi kebijakan, program dan kegiatan seperti program Gerakan Penanggulangan Pengangguran (GPP) di setiap Provinsi dan Kabupaten/Kota, Pelatihan dan Penempatan Tenaga Kerja, Bursa Kerja, Proyek Padat Produktif, Pembinaan Kewirausahaan Bagi Para Pemuda & Remaja Putus Sekolah, Penempatan para Da’i di Kawasan Transmigrasi, dan pengembangan Program Transmigrasi serta pembangunan dan pengembangan di bidang ketenagakerjaan dan ketransmigrasian lainnya. Namun upaya-upaya pemerintah ini tentu tidak dapat berjalan tanpa peran serta masyarakat. Sebuah peran yang hanya bisa dilakoni oleh masyarakat yang memiliki kesalehan sosial.  Sehingga beliau menekankan agar kaum muslimin dan muslimat bersama-sama bersatu padu, menegakkan kesalehan sosial dengan berkurban sebagaimana dicontohkan nabi Ibrahim as. dan diajarkan junjungan kita Nabi Muhammad saw.

Terkait dengan kesalehan sosial yang lahir dari perayaan `Idul Adha ini, beliau selaku khatib mengutip pendapat Prof. Dr. Mushthafa Siba’i  yang pernah mengajukan pertanyaan menarik yang menggugah hati: “Akankah seorang muslim di hari raya ini menjadi sosok egois yang mencintai dirinya sendiri dan mementingkan kepentingan dirinya sendiri di atas kepentingan orang lain? Ataukah ia akan menjadi pribadi yang mementingkan orang lain di bandingkan dirinya, lalu mendahulukan kepentingan orang lain atas kepentingan dirinya tersebut? Memang secara fitrah, manusia cenderung bersikap egois dan mementingkan diri sendiri. Ia melihat kepentingan orang lain melalui kepentingan dirinya. Namun demikian, disamping itu semua, manusia pada dasarnya adalah makhluk zoon politicon, yang cenderung untuk saling bekerjasama, memilih untuk bermasyarakat dibandingkan menyendiri, dan pada gilirannya akan mendorong dirinya untuk merelakan sebagian haknya untuk orang lain, sehingga dari kerjasama tersebut ia dapat mengambil manfaat berupa perwujudan kehormatan dan kepentingannya. Oleh karena itu, beberapa macam pengorbanan dan pendahuluan kepentingan orang lain, menjadi bagian dari keharusan dalam bangunan masyarakat yang tanpa keberadaannya, masyarakat tidak akan dapat hidup dengan bahagia inilah makna dari kesolehan sosial, ujar sang Menteri. Wallaahu `alam bishowab.  * * *

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki
Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Write a Reply or Comment

18 − 11 =