Laporan dari Xinjiang : GELIAT ISLAM DI XINJIANG (BAGIAN 3. HABIS)

Masjid Institut Islam Xinjiang di Urumqi. (M. Irfan Ilmie)

“Saya Uighur, lahir dan besar di sini. Tapi saya bukan Muslim. Kedua orang tua dan kakek-nenek saya juga bukan Muslim”
JIC, JAKARTA- Masjid Etigar di Kota Kashgar merupakan salah satu masjid tertua di Xinjiang. Masjid yang dibangun pada 1486 Masehi itu tidak hanya menjadi sarana ibadah bagi etnis Muslim Uighur, melainkan juga objek wisata karena lokasinya berada di tengah kota.

Sejak pertama kali dibangun sampai saat ini Masjid Etigar sudah mengalami tujuh kali pemugaran yang terakhir dilakukan pada 2011-2012 dengan biaya pemerintah sebesar 11 juta RMB.

Pada musim panas, masjid kuno yang berdiri di atas lahan seluas 5.000 meter persegi itu dikunjungi sedikitnya 1.000 orang per hari, sedangkan musim panas 80 sampai 100 orang per hari.

Masjid Etigar tidak jauh dari kawasan Kota Tua Kashgar sebagai salah satu objek wisata favorit di Xinjiang. Sisi luar kompleks masjid terdapat lapak-lapak para pedagang yang menjual beragam jenis cendera mata.

“Jamaah shalat harian, jumlahnya tidak pasti. Tapi kalau Jumat, ada sekitar 400 sampai 500 orang,” kata Mehmed Zuma, imam Masjid Etigar, melalui seorang penerjemah berbahasa Mandarin, Jumat (5/1/2019).

Kontras dengan kondisi bangunannya yang terkelupas pada beberapa bagian dinding dan pintu gerbang, kompleks masjid tersebut dilengkapi beberapa kamera pemantau (CCTV).

“Bapak saya meninggal ditikam orang tidak dikenal di sini,” katanya mengenang peristiwa yang terjadi di Masjid Etigar pada 23 April 2013 yang merenggut nyawa ayahnya yang berusia 70 tahun lebih itu.

Menurut dia, pemasangan kamera-kamera itu sebagai upaya preventif dari pemerintah agar peristiwa maut tersebut tidak terulang, bukan sebagai upaya pengawasan yang melekat terhadap individu-individu yang ditengarai menyebarluaskan ekstremisme di kota terbesar kedua di Xinjiang itu.

Bahkan sampai saat ini, Imam Zuma tidak mengetahui motif di balik penyerangan yang menewaskan ayahnya  enam tahun silam itu.

Namun menurut rekam jejak di Gedung Pameran Konflik Xinjiang di Urumqi tertera catatan dan gambar seorang imam di Masjid Etigar tewas dibunuh kelompok pegaris keras. Sejumlah bentrokan berdarah memang mewarnai sejarah Xinjiang dalam setidaknya satu dasawarsa terakhir dimana ratusan orang kehilangan nyawa dan irbuan yang lain ditahan.

Bagi China dan dunia internasional Xinjiang merupakan topik yang tak kunjung usai. Baru-baru ini sorotan mengarah pada keberadaan “kamp” pendidikan vokasi sebagaimana yang diklain pemerintah China atau “kamp konsentrasi” apabila merujuk istilah yang digunakan oleh media internasional dan para pegiat Hak Asasi Manusia.

Berbagai peraturan yang diberlakukan oleh Pemerintah China terhadap etnis Uigur di Xinjiang juga menuai kritik dunia internasional, terutama terkait larangan-larangan untuk menjalankan tradisi dan keyakinannya. Sesuatu yang dibantah oleh Pemerintah China.

Fasilitas Imam

Kebutuhan dasar para imam dan takmir masjid di  Daerah Otonomi Xinjiang sudah dicukupi oleh pemerintah setempat.

“Setiap bulan imam dan pengurus masjid di sini dapat bantuan biaya hidup dari pemerintah,” kata Imam Masjid Jamik Kota Hotan, Abdul Hasan, Sabtu (5/1/2019).

Selain itu, mereka masih mendapatkan tunjangan transportasi, asuransi kesehatan, subsidi rumah, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Para pelajar berbaur dengan masyarakat muslim lainnya melaksanakan shalat Ashar berjamaah di Masjid Institut Islam Xinjiang di Urumqi, Kamis (03/01/2019). (M. Irfan Ilmie)

Pemerintah daerah setempat juga mengalokasikan dana tahunan untuk biaya operasional dan kegiatan keagamaan umat Islam.

“Setiap bulan puasa Ramadhan, pemerintah juga menyediakan menu berbuka. Demikian dengan kegiatan pada hari besar lainnyan,” katanya melalui penerjemah berbahasa Mandarin.

Menurut Imam Hasan yang hanya bisa berkomunikasi dengan bahasa lokal etnis Uighur itu, kegiatan keagamaan di daerahnya dilindungi oleh undang-undang.

Pada Hari Raya Idul Adha, pemerintah pula yang menyumbangkan daging kurban. Idul Adha merupakan perayaan terbesar bagi etnis minoritas Uighur. Pertemuan Kurban Tulum (paman kurban) dengan pemimpin revolusi China Mao Zedong di Beijing pada 28 Juni 1958 diabadikan dalam sebuah monumen yang menjadi “tetenger” utama alun-alun Kota Hotan.
Pertemuan keduanya sangat monumental bagi Uighur dalam hubungannya dengan PKC. Ia pun diangkat sebagai delegasi dalam Kongres Rakyat Nasional China (NPC) yang kedua pada 1959 dan keempat pada 1975.

Kota di wilayah barat daratan Tiongkok yang berbatasan langsung dengan Pakistan dan India itu dihuni sekitar 2,52 juta jiwa.

Sekitar 94,17 persen penduduk kota yang banyak menghasilkan produk pertanian itu beretnis Uighur, sedangkan 5,97 beretnis Han.

Di Kota itu terdapat sekitar 1.600 masjid yang aktif dan terdaftar di pemerintah daerah setempat, masing-masing dengan jumlah jamaah pada shalat Jumat berkisar antara 400 hingga 1.000 orang.
Keberadaan masjid dan unsur pendukungnya, termasuk para imam tidak bisa lepas dari pengawasan pemerintah China yang berhaluan komunis.

“Tapi bukan berarti semua imam menjadi anggota atau deputi PKC di daerah masing-masing,” kata pengelola Institut Islam Xinjiang (XII) Imam Abdur Raqib di Urumqi, Kamis (3/1/2019).

Ia menyebutkan bahwa dari 1.423 imam di Xinjiang, beberapa di antaranya ada yang menjadi deputi Partai Komunis China (PKC) di berbagai tingkatan, termasuk dirinya yang diangkat partai penguasa tersebut sebagai anggota NPC mewakili Xinjiang.

Kaum perempuan dari etnis Uighur menawarkan barang dagangan di Kota Tua Kashgar, Xinjiang, Jumat (4/1/2019). (M. Irfan Ilmie)

Suku minoritas Uighur yang membentuk populasi utama Xinjiang tidak semuanya beragama Islam, meskipun mereka disatukan dalam budaya dan tradisi yang sama, seperti bemain musik, menyanyi, dan menari.

“Saya Uighur, lahir dan besar di sini. Tapi saya bukan Muslim. Kedua orang tua dan kakek-nenek saya juga bukan Muslim,” kata Gulbostan, perempuan berusia 25 tahun, yang berprofesi sebagai pemandu wisata di Kota Kashgar itu.

Akhir-akhir ini perempuan berambut panjang itu mengklaim jika kehidupan di kotanya, terutama antarmasyarakat etnis Uighur, sangat harmonis tanpa ada perbedaan latar belakang agama.

Sebagai anggota etnis minoritas Uighur, sudah barang tentu Gulbostan juga bercakap bahasa lokal yang mirip bahasa Turki itu dalam pergaulannya sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarganya.

“Banyak yang mengira etnis Uighur selalu muslim. Padahal tidak semuanya. Contohnya, ya saya ini dan keluarga. Banyak juga yang seperti keluarga saya,” ujar perempuan yang menguasai Bahasa Mandarin sejak masih duduk di bangku SMA di Kota Kashgar tanpa menyebutkan jumlah pasti etnis Uighur nonmuslim itu. (Habis)

sumber : antaranews.com

Write a Reply or Comment

3 × 5 =