Lima Mitos Tentang Muslim di Amerika

Ada lima mitos di balik keyakinan bahwa kaum Muslim tidak memiliki tempat di Amerika Serikat dan bahwa mereka mengancam keamanan negara tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Ada lima mitos di balik keyakinan bahwa kaum Muslim tidak memiliki tempat di Amerika Serikat dan bahwa mereka mengancam keamanan negara tersebut, antara lain adalah sebagai berikut:

1.     Muslim Amerika adalah orang asing.

Islam sudah ada di Amerika bahkan sebelum Amerika Serikat berdiri. Tapi kaum Muslim tidak beremigrasi dengan damai. Para pedagang membawa mereka ke negara itu.

Sejarawan memperkirakan 30% budak kulit hitam di Amerika saat itu adalah Muslim. Di Amerika periode awal, nama-nama Muslim bisa ditemukan dalam laporan budak yang melarikan diri serta di antara para prajurit dalam Perang Revolusioner. Kaum Muslim berperang untuk menjaga kemerdekaan Amerika dalam Perang 1812 dan untuk Serikat dalam Perang Sipil. Dan lebih dari satu abad kemudian, ribuan warga Afrika Amerika, termasuk Muhammad Ali dan Malcolm Little, masuk agama Islam.

2.     Muslim Amerika secara etnis, budaya, dan politik bersifat monolitik.

Faktanya, komunitas Muslim Amerika adalah komunitas Muslim paling beragam di dunia.

Muslim meyakini hal-hal yang berbeda dan menghormati keyakinan mereka dalam berbagai cara. Terkait dengan politik, penelitian Pew tahun 2007 menemukan bahwa 63% Muslim Amerika cenderung Demokrat, 11% cenderung Republik, dan 26% cenderung independen. Secara etnis, mayoritas Muslim di AS (dan di seluruh dunia) bukan orang Arab – sekitar 88% mencentang kotak yang berbeda pada formulir sensus AS mereka. Setidaknya seperempat dari mereka adalah Afrika Amerika. Muslim Amerika juga beragam dalam afiliasi sektarian mereka. Tergantung kehadiran mereka pada kegiatan ibadah juga berbeda-beda. Menurut publikasi Departemen Luar Negeri, “Muslim di Amerika – Sebuah Potret Statistik,” Muslim Amerika beragam mulai dari yang sangat konservatif sampai moderat dan sekuler dalam beragama mereka, seperti anggota komunitas agama lainnya. Dengan pendapatan tiap rumah tangga di atas rata-rata, mereka juga menjadi bagian tak terpisahkan dalam perekonomian AS.

3.     Muslim Amerika menindas kaum wanita.

Menurut studi Gallup tahun 2009, wanita Muslim Amerika tidak hanya lebih terdidik daripada wanita Muslim di Eropa Barat, tapi juga lebih terdidik daripada rata-rata warga Amerika. Laporan pendapatan wanita Muslim Amerika lebih dekat dengan kolega pria mereka daripada wanita Amerika dari berbagai agama lain. Mereka berada di posisi atas organisasi agama dan sipil, seperti misalnya Arab-American Family Support Center, majalah Azizah, Karamah, Turning Point, Islamic Networks Group dan American Society for Muslim Advancement. Seperti yang terdokumentasi dalam the Women’s Islamic Initiative in Spirituality and Equality, wanita Muslim memimpin perjuangan untuk perubahan melalui beasiswa, keterlibatan sipil, pendidikan, advokasi, dan keaktifan di AS dan di seluruh dunia.

4.     Muslim Amerika sering menjadi teroris yang tumbuh di dalam negeri.

Menurut Triangle Center on Terrorism and Homeland Security, lebih banyak non-Muslim daripada Muslim yang terlibat dalam plot teroris di tanah AS pada tahun 2010. Di tahun itu, Triangle Center juga menemukan bahwa sumber tunggal terbesar dari informasi awal tentang rencana serangan teroris oleh kaum Muslim di AS adalah komunitas Muslim Amerika.

5.     Muslim Amerika ingin mendatangkan hukum Syariah ke AS.

Dalam Islam, Syariah adalah ideal Ilahi tentang keadilan dan kasih sayang, serupa dengan konsep hukum alam dalam tradisi Barat. Sebagian besar ahli hukum Syariah sepakat pada tujuan-tujuan obyektif dari Syariah, antara lain: perlindungan dan peningkatan kehidupan, agama, kecerdasan, properti, keluarga, dan martabat. Tidak satupun dari tujuan itu yang termasuk mengubah AS menjadi kekhalifahan. (rin/it) www.suaramedia.com

Write a Reply or Comment

9 + twenty =