Warning: getimagesize(http://islamic-center.or.id/wpmigrate/wp-content/uploads/2012/09/FMN 7.gif): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/islamicc/public_html/wp-content/plugins/wp-open-graph/output.class.php on line 306

LURUSKAN SEJARAH, AKTUALKAN CINTA!

Dalam rangka Festival Maulid Nabi (FMN) ke-7 yang diselenggarakan di Jakarta Islamic Centre (JIC) dari tanggal 11 s/d 14 Oktober 2012, JIC akan menyelenggarakan Seminar Nasional Nabi Muhammad SAW dengan tema “Meluruskan Sejarah, Mengaktualkan Cinta” dengan nara sumber Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, KH. Wahfiudin Sakam, SE, MBA, dan lain-lain. Seminar ini akan mengupas lebih mendalam tentang pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah ra., praktik poligami yang beliau lakukan, dan aktualisasi cinta kepada Rasulullah SAW melalui kecintaan umat Islam kepada ulama sebagai pewarisnya di bumi nusantara dan kupasan lainnya yang terkait

Tiada bulan, tiada minggu, bahkan sepertinya tiada hari yang dilewati para pembenci Islam, khususnya kepada sosok Nabi Muhammad SAW, untuk melancarkan aksi-aksinya terutama di Amerika Serikat dan di Eropa. Belum usai kontroversi film Innocence of Muslims, muncul aksi kebencian melalui penggambaran kartun Nabi Muhammad SAW oleh oleh salah satu media Prancis, Charlie Hebdo.

Para pembenci ini memang tiada pernah hilang, mereka akan selalu muncul karenanya kita harus pandai dalam menyikapi aksi-aksi mereka. Motif mereka memang beragam, namun secara umum, mereka tidak suka dengan perkembangan Islam yang begitu pesat di hampir seluruh negeri di dunia ini. Kebencian dan ketakutkan yang justru akan membuat orang lain atau mereka sendiri yang menjadi simpatik dan jatuh cinta kepada Islam. Tidak sedikit orang yang membenci Islam habis-habisan kemudian sangat membenci Islam. Hadits Rasulullah SAW inilah yang cocok untuk disampaikan kepada para pembenci Islam,” “cintailah sesuatu itu dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu benci, dan bencilah sesuatu yang tidak kamu ketahui dengan biasa-biasa saja, karena boleh jadi suatu saat nanti dia akan menjadi sesuatu yang kamu cintai (H.R. Bukhari, Abu Daud, Tirmizi, dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah).

Sedangkan hadits di atas tidak berlaku bagi umat Islam karena mencintai Nabi Muhammad SAW tidak boleh biasa-biasa saja, tetapi harus dengan luar biasa. Seorang muslim mencintai manusia paripurna ini harus mengalahkan cintanya kepada keluarga, anak, istri dan dirinya sendiri. Ada dua hadits yang mewakili tentang hal ini. Hadits pertama, Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari). Hadits kedua, Rasulullah SAW bersabada, “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam perspektif sufistik, jika para pembenci akan menjadi para pencinta; dan jika para pencinta makin besar cintanya kepada Rasulullah SAW; maka sesungguhnya tiada kebencian kepada sosok manusia paripurna ini, yang ada hanyalah cinta dan semakin cinta. Lalu, apa yang harus dilakukan oleh umat Islam agar para pembenci ini menjadi pencinta Nabi Muhammad SAW? Jawabannya, minimal ada dua sikap, yaitu: Pertama, tirulah sikap Nabi Muhammad SAW ketika dirinya dihina dan dibenci jika kita benar-benar menganggap beliau sebagai uswah hasanah, teladan yang paling layak untuk ditiru; dan kedua, introspeksi. Jangan-jangan sikap dan perbuatan umat Islam sendiri yang membuat Rasulullah SAW begitu jelek gambarannya di mata non muslim. Umat Islam telah gagal memberikan penjelasan yang benar tentang praktik-praktik kehidupan Rasulullah SAW yang selama ini dikritisi oleh non muslim dengan pendekatan humanisme, kesetaraan, atau HAM sehingga perlu dilakukan kajian yang mampu meluruskan sejarah yang salah tentang beliau.

Contohnya, tentang sejarah pernikahan Nabi Muhammad SAW dengan Siti Aisyah ra. Pernikahan ini menjadi alat propaganda yang ampuh bagi para pembenci bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang penderita pedhopilia, penyimpangan seksual karena menyukai berhubungan seks dengan anak kecil. Jelas ini merupakan tuduhan yang keji. Namun jika ditelusuri secara mendalam, hal ini lebih disebabkan oleh kesalahan sebagian ulama kita yang memahami dan memberikan penjelasan bahwa Rasulullah SAW menikah Siti Aisyah ra. Memang ketika Siti Aisyah ra. dalam usia kanak-kanak. Sebagian ulama tersebut berpegang hadits ini Sayyidah Aisyah ra. Ummul Mukminin pernah bercerita tentang perkawinannya. “Aku dinikahkan dengan Rasulullah saat usiaku enam tahun. Dan aku memasuki gerbang rumah tangga pada usia Sembilan tahun”. Dalam hadis lain disebutkan, dinikahkan pada usia tujuh tahun. Padahal, seperti hasil kajian KH. Wahfiudin Sakam, SE, MBA, Kepala Bidang Pengkajian dan Diklat JIC, hadits-hadits “ Siti Aisyah ra. dinikahi umur 9 tahun” hanya diriwayatkan melalui jalur Hisham bin ‘Urwah. Sedangkan Malik ibn Anas ra. menolak semua kisah yang diriwayatkan oleh perawi-perawi dari Iraq seputar hadis-hadis Hisham bin `Urwah. Menurutnya, terdapat hadits yang kuat yang menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menikahi Siti Aisyah ra. ketika Siti Aisyah ra. berusia lima belas tahun.

Selain masalah tersebut, masih banyak lagi masalah yang perlu diluruskan dari kekeliruan umat Islam sendiri, terutama sebagian ulamanya, dalam memahami sejarah hidup dan perilaku kehidupan Nabi Muhammad SAW, seperti kehidupan poligami yang beliau jalani, dan lain-lain.

Akhirul kalam, dari penjelasan di atas dan dalam rangka Festival Maulid Nabi (FMN) ke-7 yang diselenggarakan di Jakarta Islamic Centre (JIC) dari tanggal 11 s/d 14 Oktober 2012, JIC akan menyelenggarakan Seminar Nasional Nabi Muhammad SAW dengan tema “Meluruskan Sejarah, Mengaktualkan Cinta” dengan nara sumber Prof. Dr. Ahmad Mansur Suryanegara, KH. Wahfiudin Sakam, SE, MBA, dan lain-lain. Seminar ini akan mengupas lebih mendalam tentang pernikahan Rasulullah SAW dengan Siti Aisyah ra., praktik poligami yang beliau lakukan, dan aktualisasi cinta kepada Rasulullah SAW melalui kecintaan umat Islam kepada ulama sebagai pewarisnya di bumi nusantara dan kupasan lainnya yang terkait. Seminar ini akan dilaksankan pada hari hari Kamis, 13 Oktober 2012 di Ruang Audio Visual JIC, Jl. Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara dari jam 13.00 s/d 17.00 WIB. Bagi yang berminat untuk mengikuti seminar ini dapat menghubungi panitia di nomor telepon (021) 4413069 via Hafiz/Lia setiap hari kerja pada jam kantor atau menghubungi ke nomor 081314165949. Seminar ini gratis, tidak ada pungutan biaya bagi peserta dengan fasilitas snack, makalah dan sertifikat. Selain seminar ini, di FMN ke-7 banyak ditampikan kegiatan seni budaya setiap harinya, yang utama adalah Prosesi Maulid Nabi dari berbagai provinsi di Indonesia, lomba-lomba untuk anak-anak, dan sebagainya. Untuk mengetahui berbagai kegiatan yang ada di FMN ke-7 ini, Anda dapat membacanya di situs internet JIC dengan alamat http://www.islamic-center.or.id. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Konsekuensi Cinta (Untukmu ya Rasulullah)

Read Next

Selebrasi Sujud Pemain Muslim Masuk Game FIFA 13

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fifteen − six =