MADRASAH RAMADHAN HASILKAN KEBEBASAN ROHANI

Ustaz Dr Sutrisno Muslimin.                               Foto: Dok MASK

Indikator kebebasan rohani adalah sensitivitas terhadap kebenaran.

JIC, JAKARTA – Ramadhan 1440 H baru saja usai. Ramadhan merupakan madrasah (sarana pendidikan) yang sangat penting dan srategis bagi kaum Muslimin.

“Kita telah melalui perjalanan panjang madrasah Ramadhan selama 30 hari. Kita berpuasa dan mencoba menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Mudah-mudahan  puasa kita adalah puasa orang-orang  saleh yang penuh keikhlasan.  Dan semoga ibadah Ramadhan yang kita lakukan selama sebulan penuh menghasilkan kebebasan rohani bagi kita,” kata Dewan Pengurus Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Ustaz Dr Sutrisno Muslimin saat menjadi penceramah penutup Kuliah Ramadhan di MASK Menteng, Jakarta Pusat, pada malam ke-30 Ramadhan 1440 H, Senin (3/6).

Ia menambahkan, kalau  seorang Muslim  bisa menjalankan puasa sesuai sunnah Rasul,  menahan segala yang membatalkan puasa,  maka pada saat itu terjadi kenaikan batin. “Kalau tidak bisa mengedalikan hawa nafsu, maka kita terjerumus. Sebaliknya, kalau kita sungguh-sungguh memaksimalkan amal ibadah di bulan Ramadhan, maka kita akan terbebas dari  jajahan jasmaniah atau fisik. Kita akan meraih kebebasan rohani,” ujar dai yang juga pakar pendidikan.

Sutrisno menegaskan, indikator kebebasan rohani itu adalah sensitivitas kebenaran. “Seseorang yang meraih kebebasan rohani, dia mempunyai sensitivitas terhadap kebenaran.  Sebab, kebenaran itu datangnya dari Allah,” kata Sutrisno seperti dikutip dalam rilis yang diterima Republika.co.id.

Ia mengutip salah satu ayat Alquran yang menegaskan, “Katakanlah kebenaran itu, walaupun pahit.”

“Teruslah kampanyekan kebenaran.  Sebab, di dalam salah satu ayat Alquran, Allah menegaskan, bahwa umat Islam adalah umat terbaik, yang mengeluarkan umat manusia dari kegelapan kepada cahaya, menyeru kepada kebaikan, dan mencegah kemunkaran,” paparnya.

Sutrisno mengemukakan, kalau seorang Muslim ingin masuk golongan umat terbaik, maka ia harus mau berjuang menyerukan kebenaran dan mencegah kemunkaran.

“Nabi menegaskan, kalau kita lihat kemunkaran,  maka ubahlah dengan tangan; kalau tidak mampu dengan tangan,  maka ubahlah dengan lisan (ucapan). Kalau tidak bisa dengan  lisan,  maka ubahlah dengan doaka, dan itu termasuk selemah- lemah  iman,” tuturnya.

Sutrisno mengatakan, madrasah Ramadhan diharapkan menjadi bekal bagi umat Islam untuk “pulang kampung” menjadi lebih baik.   “Setelah Idul Fitri,  kita pulang kampung,  kembali kepada kefitrahan kita. Sebab,  kita rohani kita di-drive di jalan yang benar, dan bagaimana sesuatu yang keluar dari diri  kita adalah sesuatu yang benar.  Semoga Ramadhan kita tahun ini lebih baik dari Ramadhan sebelumnya, dan semoga kita bisa berjumpa kembali pada Ramadhan berikutnya,” ujar Sutrisno Muslimin.

 

 

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

7 + nine =