MAJLIS ALBAHTSI WATTAHQIQ ASSALAM

Majelis taklim ini memiliki kekhasan, yaitu ia merupakan pengajian keliling dari Masjid ke Masjid, setiap 2 minggu sekali, yaitu hari Sabtu, waktunya subuh berjamaah. Sejak tahun 1993 Sampai saat ini pengajian sudah diadakan sebanyak 377 kali pengajian dengan jumlah lebih kurang sebanyak 21 kali pengajian tiap tahunnya dengan tiga kali pergantian guru. Guru perintis adalah Almarhum Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi lalu dilanjutkan oleh Guru penerus pertama Almarhum KH. Abd. Mu’thi, Lc. dan kemudian oleh guru penerus kedua dan masih mengajar sampai saat ini, yaitu KH. A. Kazruny Ishak, MA. Kitab yang dibaca tetap kitab Imam Syafi’i fi Mazhabaihi, Al-Qadim wal Jadid

Pada tahun 2008, Lembaga Jakarta Islamic Centre (JIC) bekerjasama dengan penerbit Hikmah menerbitkan satu buku yang penting dalam khazanah Islam, bukan saja di Indonesia, tapi juga di dunia. Buku tersebut adalah buku terjemahan yang berjudul Ensiklopedia Imam Syafi’i . Judul aslinya adalah Al-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid. Buku ini merupakan desertasi seorang ulama Betawi, Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi dalam meraih gelar Doktor Perbandingan Mazhab Universitas Al-Azhar, Kairo. Menurut Prof. Syaikh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar di universitas tersebut, desertasi itu merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat karena membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi’i.Karena isinya yang berharga, sebuah penerbitan di Malaysia mengajukan permohonan kepada JIC untuk menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Malaysia.

Namun, sedikit yang tahu bahwa buku aslinya ini sebelum diterbitkan oleh JIC telah menjadi kitab yang dikaji oleh banyak ulama di Betawi yang juga dihadiri oleh para pejabat, khususnya pejabat di Pemprov. DKI Jakarta sejak tahun 1993. Pengkajian kitab ini melalui sebuah majlis taklim, yaitu Majlis Al-Bahtsi Wattahqiq Assalam yang jika diterjemahkan bisa diartikan sebagai majelis pembahasan dan penjelasan ‘Assalaam’. Namun, pengertian tahqiq atau penjelasan dari majelis ini adalah mendalami kitab dengan seksama, memperjelas hal-hal yg kurang jelas dari kitab. Kitab yang dimaksud adalah tentu saja kitab Imam Syafi’i fi Mazhabaihi, Al-Qadim wal Jadid sehingga nama majelis taklim ini sangat erat dengan penulis kitab tersebut. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Ustadz Imam Syarifuddin, salah seorang pengurusnya, bahwa nama majelis taklim ini terbentuk melalui musyawarah yang dihadiri ulama dan dipimpin oleh Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi yang sekaligus sebagai penggagas dan pendirinya. Peserta musyawarah sepakat untuk mengambil nama majelis ini dari nama akhir pendirinya (salam).

Majelis taklim ini memiliki kekhasan, yaitu ia merupakan pengajian keliling dari Masjid ke Masjid, setiap 2 minggu sekali, yaitu hari Sabtu, waktunya subuh berjamaah. Sejak tahun 1993 Sampai saat ini pengajian sudah diadakan sebanyak 377 kali pengajian dengan jumlah lebih kurang sebanyak 21 kali pengajian tiap tahunnya dengan tiga kali pergantian guru. Guru perintis adalah Almarhum Syaikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi lalu dilanjutkan oleh Guru penerus pertama Almarhum KH. Abd. Mu’thi, Lc. dan kemudian oleh guru penerus kedua dan masih mengajar sampai saat ini, yaitu KH. A. Kazruny Ishak, MA. Kitab yang dibaca tetap kitab Imam Syafi’i fi Mazhabaihi, Al-Qadim wal Jadid.

Selain ulama dan para ustadz, Pejabat pemprov. DKI Jakarta yang sampai saat ini aktif mengikuti majelis taklim ini adalah Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Dr. Ing. H. Fauzi Bowo yang sekarang ini juga menjabat sebagai pembinanya . Ia aktif dalam pengajian ini sejak belum menjabat sebagai Wakil Gubernur. Lainnya adalah mantan Sekda DKI Jakarta yang sekarang menjabat sebagai Kepala Lembaga JIC, Drs. H. Muhayat. Sedangkan jamaahnya umumnya mereka datang dari daerah Jakarta Selatan, yaitu Mampang Prapatan dan sekitarnya. Namun tidak sedikit yang datang dari daerah Jakarta Timur dan lain sebagainya dengan jumlah sekitar seribu orang.

Alasan majelis ini diadakan keliling, dari masjid ke masjid, bertujuan untuk ta’mirul masajid dan agar syiar dan dakwah tidak hanya terfokus di satu tempat saja hingga manfaat dan faedah dari pengajian ini bisa dirasakan oleh orang banyak, dan tali silaturrahmi antara ummat Islam khususnya di Jakarta dapat terjalin lebih luas, tidak monoton di satu tempat saja. Karena kekhasan ini, maka Majelis ini tidak memiliki tempat atau bangunan. Alamat yang tertera dalam kop surat hanya alamat untuk koordinasi jadwal pengajian dan pembuatan undangan. Yaitu alamat kediaman pribadi pengurus harian dengan telepon dan mesin fax milik pribadi yang dapat digunakan sebagai alat koordinasi. Sedangkan masjid-masjid yang mau menerima pengajian didaftarkan oleh pengurus harian dan dijadwalkan sesuai dengan permintaan. Bahkan ada pula masjid yang memang sudah komitmen akan mengambil pengajian di tempatnya setiap tahun.

Majelis ini tidak terbatas untuk ulama dan asatidz saja, tapi untuk masyarakat secara umum. Siapa saja yang ingin mendalami mazhab Imam Syafi’i boleh mengikuti pengajian ini. Satu minggu sebelum pengajian, pengurus harian dari majelis ini mencetak undangan kurang lebih sebanyak 630 lembar dan disebarkan ke Masjid-masjid dan Musholla agar diumumkan kepada para jamaahnya. Adapula undangan yang ditujukan kepada pribadi, yaitu alim ulama dan asatidz dan tokoh masyarakat.

Masih menurut Ustadz Imam Syarifuddin, alasan dikajinya terus menerus kitab Al-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid karena mayoritas ummat Islam di Indonesia, khususnya di Jakarta adalah bermazhab Syafi’i. Maka, sudah sewajarnya Mazhab Syafi’i dikaji dan dipelajari lebih mendalam oleh masyarakat umum agar mereka tidak menjadi muqallid ‘amiy, yaitu pengikut yang buta – dalam fiqih diumpamakan seperti burung beo yang hanya bisa berucap tapi tidak tau maknanya – yang hanya ikut-ikutan bermazhab Syafi’i. Pengikut seperti ini sangat rentan ditipu dan dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yang menyimpang, aliran-aliran sesat atau bid’ah yang sesat dan menyesatkan.

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui dan mengikuti kajian kitab Al-Imam As-Syafi’i fi Madzabihi al-Qadim wal al-Jadid melalui Majlis Al-Bahtsi Wattahqiq Assalam pada sabtu ini, 19 Nopember 2011, dapat mengikutinya di Masjid Raya Provinsi JIC, Jl. Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara dengan datang sebelum Shalat Subuh dilaksanakan. Di pengajian ini, peserta juga dapat memiliki terjemahan dari kitab ini yang telah diterbitkan oleh JIC bekerjasama dengan Penerbit Hikmah, yaitu Ensiklopedia Imam Syafi’i. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Polisi Syariah Saudi: Wanita yang Matanya Menggoda Harus Ditutup

Read Next

Muslim Rusia Buat Alquran Raksasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

6 − 3 =