MANFAAT MELALUI KEPEMIMPINAN

Pada hakikatnya, kepemimpinan adalah melayani

JIC, Jakarta

Pemilihan presiden (pilpres) tahun 2019 yang disebut sebagai grand finalmenuju puncak kepemimpinan nasional segera digelar.Harapannya, melalui pilpres, terpilih pemimpin yang dapat melayani, bukan minta dilayani.

Pada hakikatnya, kepemimpinan adalah melayani, bukan malah minta serba-dilayani, sebagaimana sabda Nabi SAW, Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka. (HR Ibnu Asakir dan Abu Nu’aim).

Pemimpin adalah pelayan bagi orang (rakyat) yang dipimpinnya. Menjadi pemimpin berarti mendapatkan mandat untuk melayani rakyat. Oleh karena itu, seorang pemimpin harus memiliki visi dan misi pelayanan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Kesuksesan seorang pemimpin tidak terletak pada kemampuannya duduk di singgasana kepemimpinan, tetapi pada kemampuannya duduk di hati orang yang dipimpinnya. Hal itu terwujud dalam kemampuannya melayani rakyat yang dipimpinnya.

Sehingga, antara yang memimpin dan yang dipimpin akan saling mencintai karena Allah SWT.Dalam hal ini, Nabi SAW bersabda, Sebaik-baiknya pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian mencintai mereka dan mereka pun mencintai kalian, juga yang kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Sedangkan, seburuk- buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” Lalu, Auf berkata, “Ya Rasulullah, bolehkah kita memberontak kepada mereka?”Rasulullah SAW bersabda, Jangan, selama mereka masih mendirikan shalat di tengah kalian. (HR Muslim).

Salah satu indikasi pemimpin dicintai oleh rakyatnya adalah dapat mengayomi rakyatnya, melayani, menyayangi, membela, dan tidak berbuat zalim kepada rakyat. Sabda Nabi SAW, Takutlah kamu akan doa seorang yang terzalimi (teraniaya) karena doa tersebut tidak ada hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah.(HR Bukhari dan Muslim).

Pemimpin yang mampu melayani adalah pemimpin yang memiliki kriteria sebagaimana disebutkan dalam surah Yusuf [12] ayat 55, yaitu hafidzun(pandai menjaga hablum minallah dan hablum minannas) dan ‘alimun (berpengetahuan luas).

Dalam ayat tersebut, Nabi Yusuf hendak menjadikan kepemimpinan sebagai sarana untuk ibadah, dengan memberikan manfaat yang lebih luas untuk kepentingan umat (masyarakat) dan menegakkan keadilan.

Dr Aidh al-Qarni dalam kitabnya, Tafsir Muyassar, memberikan penjelasan, ayat tersebut mengandung pesan bahwa meminta kedudukan itu diperbolehkan bagi orang yang memiliki kemampuan, tidak dipengaruhi nafsu, dipercaya, memiliki ilmu, teliti, dan bertanggung jawab.

Berarti, mengampanyekan diri agar dipilih sangat dianjurkan, bahkan sebuah keharusan selama memenuhi kriteria seperti yang disebutkan al-Qarni. Jika tidak, peluang orang lain yang tidak memiliki kemampuan dan tidak berpihak kepada rakyat akan memimpin.

Seperti itulah seharusnya seorang pemimpin sejati dalam kepemimpinannya, meniatkan diri (orientasinya)untuk ibadah dan memberikan manfaatkan seluas- luasnya untuk kemaslahatan rakyat (umat).

Melalui pilpres, terpilih pemimpin yang dapat melayani dan mengantarkan kehidupan masyarakat yang lebih baik dan penuh berkah. Amin.

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

2 + 7 =