Warning: getimagesize(http://www.108csr.com/uploads/1205-cover-budaya-betawi-dalam.jpg): failed to open stream: Connection timed out in /home/islamicc/public_html/wp-content/plugins/wp-open-graph/output.class.php on line 306

MARI JAGA TRADISI ISLAM DI BETAWI!

Kegiatan Kongres Kebudayaan Betawi yang berlangsung di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat dari hari Senin s/d Rabu, 5 s/d 7 Desember 2011 usai sudah. Sebelas rekomendasi dari aspek-aspek kebudayaan Betawi, yaitu kehidupan beragama, tradisi, kesenian, kesusastraan, perfilman, permuseuman, sejarah, kenaskahan, kebahasaan, kepurbakalaan, dan perpustakaan pun telah dihasilkan dan diharapkan dapat menjadi pendorong lahirnya Peraturan Daerah tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.

Kegiatan Kongres Kebudayaan Betawi yang berlangsung di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat dari hari Senin s/d Rabu, 5 s/d 7 Desember 2011 usai sudah. Sebelas rekomendasi dari aspek-aspek kebudayaan Betawi, yaitu kehidupan beragama, tradisi, kesenian, kesusastraan, perfilman, permuseuman, sejarah, kenaskahan, kebahasaan, kepurbakalaan, dan perpustakaan pun telah dihasilkan dan diharapkan dapat menjadi pendorong lahirnya Peraturan Daerah tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi.

Pekerjaan rumah mewujudkan perda ini sekarang tertumpu pada Pemprov. DKI Jakarta selaku penerima rekomendasi dari Badan Musyawarah Masyarakat Betawi (Bamus Betawi) yang mewakili seluruh peserta kongres. Tentu ini bukan pekerjaan mudah bagi pemprov. DKI Jakarta, bukan semudah membalikan telapak tangan. Butuh waktu dan butuh banyak sumber daya manusia (SDM) yang terlibat beserta segenap potensinya untuk terus mengawal proses dan mewujudkanya.

SDM yang terlibat disini bukan saja SDM dari masyarakat Betawi sendiri, tetapi umat Islam di DKI Jakarta menjadi wajib hukumnya untuk terlibat dalam mewujudkan perda tersebut. Pernyataan mewajibkan ini bukan tanpa sebab karena dalam diskusi di Komisi Kehidupan Beragama pada kongres tersebut, KH. Saifuddin Amsir selaku nara sumber menyatakan dalam makalahnya bahwa kehilangan tradisi Islam di Betawi sama artinya dengan kehilangan Islam di Jakarta. Apa sebab?

Pertama, dalam perda kebudayaan tersebut, aspek kehidupan beragama masyarakat Betawi dapat terlindungi, dikembangkan dan terus memberikan manfaat, bukan hanya untuk untuk masyarakat Betawi sendiri, tetapi bagi umat Islam dan kehidupan beragama di Ibukota. Ini dikarenakan masyarakat Betawi merupakan masyarakar religius yang identik dengan Islam sehingga masyarakat Betawi dalam melestarikan (khususnya mengembangkan) sepuluh aspek kebudayaan lainnya pasti menjadikan Islam sebagai ruh, referensi atau filter kebudayaan.

Kedua, sebagaimana yang diungkapkan oleh KH. Saifuddin Amsir bahwa Penduduk asli Jakarta adalah suku Betawi. Terlepas dari sekian banyak teori dan penelitian tentang apa dan siapa itu Betawi. Cepatnya laju pertumbuhan dan urbanisasi di Jakarta telah membuat orang Betawi sebagai penduduk asli meninggalkan kampung aslinya sendiri. Bahkan jumlah para pendatang di Jakarta kini melebihi jumlah orang Betawi sendiri yang kini hanya sekitar 27,65 % dari total penduduk Jakarta. Walaupun jumlah orang Betawi menurut sensus BPS tahun 2000 meningkat lima kali dari total jumlah sensus sebelumnya pada 1930, tetapi mayoritas orang Betawi saat ini kebanyakan tinggal di Banten dan Jawa Barat. Dan hanya sekitar 40 % yang tinggal di Jakarta.

Di sisin lain, pembangunan Jakarta membuat kota ini menjadi impian banyak orang, terutama pencari kerja yang membuat jumlah penduduknya berkembang sangat pesat yang membuatnya menjadi salah satu kota terpadat di dunia. Jumlah penduduk yang padat menimbulkan kompetisi hidup yang ketat sehingga banyak dari penduduknya tersingkir dan bertindak kriminal karena tidak ada pilihan yang baik untuk bisa bertahan hidup. Kejahatan pun menjadi momok di Jakarta. Selain itu, gempuran budaya pop dan liberalisme yang sangat kuat telah mempengaruhi masyarakat DKI Jakarta, terutama generasi mudanya. Kenakalan remaja yang sudah berbentuk kriminalitas merupakan berita yang harus ditelan sehari-hari. Namun, masyarakat DKI Jakarta masih dapat bernafas lega karena masyarakat Betawi yang berjumlah 40 persen dari total penduduk masih memegang teguh tradisi-tradisi yang bersumber dari ajaran Islam Karena jumlah 40 persen tersebut , tradisi-tradisi Islam masyarakat Betawi masih kuat mewaranai kehidupan Ibukota dan sedikit banyak berperan ampuh sebagai filter bahkan tameng agar masyarakat, khususnya generasi mudanya tetap berada dalam kebaikan dan memiliki nilai-nilai kemanusian yang utuh.

Seperti tradisi yang mencerminkan nilai persaudaraan, yaitu Akeke (Aqiqah), Sunatan, Khatam Qur’an, Menikah, Bikin dan pindahan Rumah, Nuju Bulan, Kaulan (Nazar), dan Hantaran menjelang Ramadhan, Kunjungan pada saat Idul Fithri, dan lain-lain. Kemudian tradisi yang menjadi pengingat dan penguat nilai-nilai kemanusiaaan, seperti Yasinan, Pengajian di Halaqah dan Majelis Takim, Dzikir Akbar, Maulid Nabi, Muharraman, Rajaban, dan lain-lain. Maka, bisa dibayangkan bagaimana jika berbagai macam tradisi yang sudah mendarah daging dengan masyarakat Betawi tersebut hilang. Adakah filter kebudayaan yang setangguh tradisi-tradisi Islam tersebut yang dapat menggantikannya?

Sehingga di akhir makalahnya, KH. Saifuddin Amsir berharap agar budaya Betawi masih bisa dilestarikan, tetapi tidak sebatas dilestarikan pada tataran seremonial saja, seperti pada acara abang-none Jakarta yang selalu diadakan setiap tahun. Tetapi dengan mempertahankan kultur Betawi yang penuh dengan nilai moral Islami oleh orang Betawi yang duduk dijajaran pemprov. DKI Jakarta dengan menjadi menjadikan kultur tersebut sebagai etos kerja dan kebijakan bagi daerah dan masyarakatnya. Jika ini dapat terwujud, maka Betawi akan terus eksis dan mengakar dimasyarakat,.tidak hanya terus menjadi ‘korban’ asimilasi dan akulturasi pendatang. Maka sekali lagi, kehilangan tradisi Islam di Betawi sama artinya dengan kehilangan Islam di Jakarta. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

India Luncurkan Ponsel Pintar Khusus Umat Islam

Read Next

Share | Ketakutan Kubu Sekuler Jika Kelompok Islam Kuasai Parlemen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three × four =