MASJID BERSEJARAH DI BOSNIA DIBUKA LAGI SETELAH 23 TAHUN PERANG USAI

160507160147_bosnia_ferhadija_mosque_624x351_epa

JIC – Sabtu (7/5/2016) menjadi hari berjarah bagi masyarakat di Banja Luka, kota terbesar kedua setelah Sarajevo di Bosnia-Herzegovina.

Ribuan warga bersuka cita atas beroperasinya kembali Masjid Ferhadija bersejarah di Banja Luka, ibu kota wilayah otonomi Republik Serbia, Bosnia, yang hancur akibat perang 23 tahun silam.

Acara pembukaan kembali masjid tua dari abad ke-16 Masehi itu dihadiri tidak saja dari kalangan Muslim, tetapi juga Ortodoks, Katolik, dan Yahudi.

Pada acara pembukaan, Presiden Serbia Bosnia, Milorad Dodik, menyatakan, perwakilan komunitas Islam, Ortodoks, Katolik dan Yahudi  “berkumpul di sini dan mengirim pesan perdamaian.”

Pembukaan kembali masjid itu dilihat sebagai usaha untuk mendorong toleransi beragama yang yang sempat terkoyak akibat perang antarkelompok agama.

Antusiasme warga untuk menghadiri pembukaan Masjid Ferhadija secara simbolis berarti lahirnya kembali harapan akan perubahan dan toleransi antarumat beragama.

Menurut Reuters, setidaknya 1.000 polisi dikerahkan untuk mengamankan ruas jalan yang dilalui oleh rombongan Muslim dari berbagai penjuru daerah.

Lalu lintas dari dan ke pusat kota diawasi ketat. Polisi juga melarang penggunakan atau konsumsi alkohol selama acara pembukaan kembali masjid tua itu.

Masjid itu dibangun pada abad ke-16 dan oleh UNESCO ditetapkan sebagai salah satu peninggalan bangunan zaman Ottoman. Namun, hancur pada saat perang sekitar 23 tahun lalu.

Perpecahan etnis masih menghantui Bosnia sejak perang antara umat Muslim Bosnia, Ortodoks Serbia dan Katolik Kroasia.

Luka perang dan potensi perpecahan etnis masih menjadi penghambat rekonsiliasi dan reformasi yang diperlukan untuk negara itu untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Ahmet Davutoglu, mantan Perdana Menteri Turki, memaparkan bahwa pembukaan Masjid Ferhidja mengirimkan pesan perdamaian. Renovasi masjid juga dibiayai oleh Turki.

“Bosnia-Herzegovina, dengan warga Muslim, Katolik, Ortodoks, dan Yahudi, adalah satu tubuh, satu hati. Jika ada upaya untuk memisahkannya, itu berarti hati ini akan dibagi,” katanya, mengacu pada ancaman pemisahan diri yang diluncurkan oleh warga Serbia Bosnia.

Ketua Komunitas Islam Bosnia, Efendi Husein Kavazovic, menyebutkan, pembukaan kembali Masjid Ferhadija  ibarat ‘kemenangan cahaya atas kegelapan’. Ia  sebelumnya ragu kalau rekonsiliasi bisa terlaksana dengan cepat.

Ketua Muslim Bosnia, Bakir Izetbegovic, menyatakan pembangun masjid itu memberikan tanda bahwa Muslim Bosnia dapat kembali ke wilayah itu.

Beberapa warga pesimis.  Apalagi, banyak warga Serbia di Banja Luka yang nampaknya tak turut menghadiri pembukaan kembali masjid ini.

“Saya hanya ingin pembukaan masjid ini berjalan damai dan tanpa insiden apapun, ketegangan masih sangat tinggi,” kata Tatjana Kecman, seorang warga Serbia dari Banja Luka.

Bayang-bayang perang masih menghantui kawasan ini, utamanya setelah pemimpin Serbia Bosnia, Radovan Karadzic, dipenjara karena dinilai melakukan genosida pada Maret.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan, dukungan warga Serbia Bosnia untuk memisahkan diri dari negara Bosnia yang rapuh merupakan tantangan untuk menegakkan kesepakatan damai pada 1995.

Sumber ; kompas.com

Write a Reply or Comment

18 − 15 =