MASJID NABI MUHAMMAD, NABAWI, DI MADINAH, TEMPAT SUCI YANG DIBANGUN 1441 TAHUN LALU (3)

GETTY IMAGES
Image captionDekorasi dan lampu Masjid Nabawi, Madinah.

Perluasan masjid

JIC, MADINAH — Ukuran awal masjid ketika dibangun oleh Nabi Muhammad di tahun pertama Hijriah adalah 1.050 meter persegi, dan diperluas hingga 1.452 meter persegi atas perintah Nabi ketika beliau baru kembali dari Khaybar, pada tahun 7 Hijriah.

Renovasi dan pengembangan terus dilakukan sejak masa Umar bin Khattab, kemudian ke khalifah Usman, pemerintahan Bani Umayyah, Abbasiah, hingga masa kekhalifahan Usmani dan era Arab Saudi.

Selain peningkatan populasi di Madinah, landasan asli masjid dipertahankan sebagai sumbu dalam perluasan ke berbagai arah.

Menurut Dr. Zarewa, keutamaan masjid ini bagi Muslim adalah salat yang dilaksanakan di sini pahalanya 1.000 kali lipat daripada di masjid lain, kecuali di Masjidil Haram.

Tambahan lagi, Masjid Nabawi adalah satu dari tiga masjid yang dianjurkan dikunjungi oleh Muslim dengan menempur perjalanan jauh. Jutaan Muslim mengunjungi masjid ini dalam kesempatan menunaikan ibadah Haji dan Umrah.

Dr. Zarewa mencatat bahwa Khalifah Umar pernah mengatakan tak apa memperluas masjid ini bahkan hingga sampai Suriah, selagi masih di atas fondasi awalnya.

Dalam makalah berjudul “Nabi Muhammad SAW dan urbanisasi Madinah”, Dr. Spahic Omer mengatakan masjid ini kini luasnya 100 kali lipat ukuran aslinya dan tersebar hingga hampir menutupi kota tua Madinah.

Profesor Omer menjelaskan bahwa pagar luar masjid kini merupakan batas Janatul Baqi, pemakaman yang pada masa Nabi terletak di kawasan luar kota Madinah.

Perluasan pertama dilakukan di era khalifah Umar, dengan membeli lahan di kawasan barat, selatan dan utara masjid.

Penerus Umar, Usman, juga melakukan perluasan masjid setelah melakukan konsultasi dengan para sahabat pada 29 H atau pada tahun 650.

Perluasan terus dilakukan di era kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah yang membuat luas masjid bertambah menjadi 8.890 meter persegi dengan 60 jendela dan 24 pintu.

Di era Usmani, juga dilakukan renovasi dan perluasan.

Pada era Saudi, Raja Abdulazeez Al-saud pada 1950 memerluas masjid menjadi 16.327 meter persegi, dengan 706 tiang dan 170 kubah.

Terus bertambahnya pengunjung mendorong Raja Faisal pada 1973 mengalokasikan area seluas 35.000 meter persegi di barat masjid untuk mendukung kegiatan di masjid tersebut.

Perluasan terbesar dilakukan pada 2012 atas perintah mendiang Raja Abdullah agar masjid bisa menampung sekitar dua juta jemaah.

Menteri Keuangan Arab Saudi, Ibrahim Al-Assaf, menyatakan gabungan luas masjid dan plaza nantinya 1.020.500 meter persegi, dengan rincian kapasitas masjid dan plaza masing-masing satu juta dan 800.000 jemaah.

Menurut juru bicara Badan Pengelola Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Sheikh Abdulwahed Al-hattab, Raja Abdullah memerintahkan pemasangan 250 payung besar yang melindungi area seluas 143.000 meter persegi.

Kanopi otomatis ini melindungi jemaah dari terpaan matahari dan hujan. Menurut Sheikh Hattab, ada 3.200 pekerja yang membersihkan masjid itu.

Fase ketiga pengembangan masjid sedang dilakukan dan pada tahun 2040 diharapkan bisa menampung tambahan 1,2 juta jemaah.

Monumen

Mimbar Nabi, tempat Nabi Muhammad menyampaikan khotbah, merupakan salah satu tempat paling dianggap berharga di Masjid Nabawi.

Mimar pertama di masijd dibuat dari kayu kurma dan punya tiga anak tangga, menurut Al-mubarakfuri.

Khalifah penerus Nabi juga menggunakan mimbar saat menyampaikan khotbah. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar, mereka menyampaikan khotbah dari anak tangga kedua.

Khalifah Usman sempat menyampaikan khotbah dari anak tangga pertama, namun kemudian ia melakukannya dari tangga ketiga, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad.

Mimbar Nabi hancur ketika terjadi kebakaran pada 886 H. Kemudian mimbar dibuat dengan bata, lalu pada Sultan Qaitbay dari dinasti Mamluk mengirimkan marmer putih untuk menggantinya.

Mihrab

Masjid Nabawi punya beberapa mihrab, tempat imam memimpin salat.

Yang pertama adalah mihrab asli atau Mihrab Nabawi yang digunakan oleh Nabi Muhammad saat masjid ini masih dalam keadaan aslinya.

Letaknya dekat dengan mimbar Nabi, dan kini dekat dengan Al Raudah dan Mukabbariyya, tempat mengumandangkan azan.

Mihrab kedua adalah Mihrab Usmani, yang masih digunakan sekarang.

Mihrab ini dibangun saat perluasan masjid pada era khalifah Usman, terakhir kalinya dilakukan perluasan ke arah utara masjid.

Mihrab ketiga, menurut Dr. Akhter, disebut sebagai Mihrab Suleymaniyah atau Mihrab Ahnaf, yang dibuat atas perintah Sultan Sulaiman.

Imam dari mazhab Hanafi memimpin salat dari mihrab ini, sementara imam dari mazhab Maliki memimpin dari Mihrab Nabawi.

Al Raudah

Al Raudah ini adalah taman yang terletak di antara mimbar dan rumah Nabi Muhammad.

Nabi pernah bersabda — dicatat di Shahih Bukhari — diriwayatkan oleh Abu Hurairah “Antara rumahku dan mimbar, ada potongan taman dari Surga”.

Al Raudah terbuka bagi pengunjung dengan waktu terpisah untuk kunjungan laki-laki dan perempuan. Biasanya pengunjung melakukan salat sunah di sana, sebelum mengucapkan salam ke arah makam Nabi.

Dengan perluasan dan renovasi Masjid Nabawi, Al Raudah kini dihiasi dengan dekorasi seperti karpet dan berbagai ornamen.

Badan Pengelola menyatakan luas Al Raudah adalah 330 meter persegi, dengan panjang 22 meter dan lebar 15 meter.

Di area ini selalu ada petugas keamanan dan kebersihan.

Kubah Hijau

Kubah Hijau adalah salah satu monumen paling mencolok di Masjid Nabawi.

Kubah ini dibangun di atas ruang yang menjadi tempat makam Nabi Muhammad.

Al Samhudi dalam Wafa Al-Wafa mengatakan kubah pertama dibangun di situ sesudah 650 tahun, pertama kalinya pada tahun 1279 (678 H) oleh Sultan Qalawun, terbuat dari kayu.

“Kubah Hijau yang kita lihat sekarang ini sebetulnya adalah kubah bagian luar. Ada kubah bagian dalam yang lebih kecil, dan ada nama Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar terukir di dalamnya,” kata Dr. Akhter.

Kubah itu berbentuk persegi di dasar, dan persegi delapan dari atas serta direnovasi setelah terbakar beberapa kali.

Menurut Ensiklopedi Al Jazeera, Sultan Ghazi Mahmud pada masa kekhalifahan Usmani sempat membangun ulang kubah itu.

Perpustakaan

Badan Pengelola mengatakan perpustakaan dibangun di Masjid Nabawi pada tahun 1352 Hijriah atas usul Direktur Awkaf Madinah, Obaid Madani ketika itu.

Beberapa buku bertarikh sebelum perpustakaan dibangun seperti Maktabah Sheikh Mohammed Aziz Al-Wazir, tahun 1320 H. Buku ini termasuk yang dibawa ke sana sesudah perpustakaan dibangun.

Selain ruang baca, perpustakaan memiliki Ruang Audio (Seks i17), untuk menyimpan materi kuliah, khotbah dan salat.

Sedangkan Bagian Teknis (terletak di pintu 22) bertugas dalam penjilidan, restorasi dan sterilisasi naskah-naskah tua.

Seksi Buku Langka menyimpan buku langka dari segi usia pencetakan, dekorasi, bentuk, gambar dan sebagainya.

Seksi lain termasuk juga Seksi Naskah, Perpustakaan Digital, Riset dan Penerjemahan, Keamanan dan Keselamatan, Hadiah dan Penukaran serta Seksi Sirkulasi dan seksi-seksi lain.

Perpustakaan ini memiliki ruang baca untuk pria, perempuan dan anak-anak.

Terletak di dalam masjid, di lingkaran kedua Bab Usman, bisa digunakan oleh semua pengunjung.

Masjid Nawabi, salah satu masjid terbesar di dunia, dihias dengan dekorasi menakjubkan dan teknoogi yang penuh presisi yang memakan biaya miliaran riyal untuk rekonstruksi, pengembangan dan dekorasi.

Masjid ini menampung jutaan Muslim setiap tahunnya, terutama saat bulan Ramadan dan musim Haji.

Penjaga masjid, raja Arab Saudi, terus berupaya memperindah dan mempernyaman masjid ini.

Kunjungan ke masjid tidak menjadi bagian dari ibadah haji dan umrah, tapi para jemaah umumnya tidak puas melakukan ibadah tersebut tanpa mengunjungi Masjid Nabawi, berada di dalamnya dan mengucapkan salam ke arah makam Nabi Muhammad.

 

 

 

sumber : bbcindonesia.com

Write a Reply or Comment

19 − seventeen =