MASJID SEBAGAI PUSAT PERDAMAIAN

Seminar buku Masjid dan Pembangunan Perdamaian yang diselenggarakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) pada hari Rabu, 26 Januari 2011 di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan memiliki arti penting bagi peserta yang hadir yang merupakan utusan dari masjid raya dari berbagai propinsi (terutama dari Ambon, Ternate, Poso dan Papua yang menjadi obyek penelitiannya), kampus, dan lembaga penelitian. Seminar buku Masjid dan Pembangunan Perdamaian yang diselenggarakan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) pada hari Rabu, 26 Januari 2011 di Hotel Ambhara, Jakarta Selatan memiliki arti penting bagi peserta yang hadir yang merupakan utusan dari masjid raya dari berbagai propinsi (terutama dari Ambon, Ternate, Poso dan Papua yang menjadi obyek penelitiannya), kampus, dan lembaga penelitian.

Paling tidak ada tiga arti penting, yaitu : pertama, isi buku yang diseminarkan ini, seperti yang dijelaskan di dalam editorial, merupakan olahan dari riset tentang “Radikalisme Islam di Masjid pada Wilayah Paska dan Potensial Konflik di Indonesia: Poso (Sulawesi Tengah), Ambon (Maluku), Ternate (Maluku Utara) dan Jayapura (Papua). Riset ini adalah pengembangan wacana dan perluasan wilayah penelitian CSRC UIN Jakarta tentang pemetaan ideologi Islam di masjid yang telah dilaksanakan di dua kota, yaitu Jakarta dan Solo. Walhasil, dari buku hasil riset ini kita memperoleh banyak informasi yang dapat diuji kebenarannya mengenai akar persoalan radikalisme yang terjadi di bekas daerah-daerah konflik atau berpotensi konflik tersebut, proses radikalisasi yang sedang terjadi di dalam dan di lingkungan masjid di daerah-daerah konflik tersebut khususnya yang menjadikan remaja dan anak-anak sebagai obyeknya, dan peran masjid di daerah-daerah bekas konflik tersebut dalam membangun perdamaian; kedua, memberikan sumbangan yang sangat berharga kepada para peneliti, akademisi dan pemerhati Islam di Indonesia karena seperti yang disampaikan oleh Chaider S. Bamualim selaku pembahas bahwa kajian tentang masjid sangat kurang dibaandingkan kajian tentang madrasah dan pesantren apalagi menempatkan masjid, radikalisme dan konflik dalam satu kajian. Masjid saja sudah merupakan persoalan tersendiri, apalagi kemudian dikaitkan dengan radikalisme dan konflik; dan ketiga, menjadi sumber refleksi, inspirasi dan refrensi bagi para penggiat perdamaian yang ingin menjadikan masjid sebagai pusat gerakannya.

Selain tiga arti penting tersebut, yang paling menggembirakan dan memberikan optimisme adalah masjid dapat menjadi pusat perdamaian sebagaimana kesimpulan dari riset tersebut yang dipaparkan oleh Ridwan Al-Makassary, yaitu: pertama, masjid raya atau agung yang dijadikan obyek penelitian telah berhasil memainkan peranannya sebagai masjid pemersatu atau perekat umat Islam, namun belum berhasil menjadi perekat antar warga yang berbeda agama dan keyakinan; kedua, masjid raya atau agung telah memfasilitasi konsolidasi internal umat Islam untuk membela umat terutama di masa konflik; ketiga, masjid raya atau agung telah berperan dalam mendukung perdamaian dengan kapasitasnya masing-masing, baik pada masa konflik dan pasca konflik.

Hasil seminar ini menjadi bahan penting bagi Jakarta Islamic Centre (JIC) yang diundang pada seminar ini karena sejak akhir tahun 2010, JIC mulai mengembangkan modul dan up-grading wawasan Islam rahmatan lil `alamin untuk menangkal radikalisme. Pengertian radikalisme yang digunakan adalah tindak kekerasan dan sikap intoleran terhadap sesama umat Islam atau terhadap pengikut agama lain. Bukan itu saja, JIC juga akan terus meningkatkan peranannya sebagai masjid yang menjadi pusat perdamaian karena radikalisme yang mengatasnamakan Islam dengan membajak masjid sebagai tempat penyemaian bibit-bibit radikalisme tersebut masih saja terjadi di berbagai tempat di DKI Jakarta. Terlebih yang menjadi korban adalah pemuda dan remaja masjid. Sebagai contoh, ketika JIC mengadakan try out Up-Grading “Meningkatkan Wawasan Islam Rahmatan Lil `Alamin untuk Remaja Masjid” di JIC pada Rabu, 29 Desember 2010( terlaksana pada Kamis, 30 Desember 2010) dengan model fasilitasi, pada sesi role play ditemukan kenyataan bahwa mayoritas peserta memilki paham radikal. Juga Masih terlalu kuat ingatan kita untuk melupakan kasus tragedi Mbah Priok yang mempertontonkan ratusan anak-anak di bawah umur dan remaja dengan baju koko, sarung dan peci putih yang seharusnya berkhidmat di masjid Al-Fudhola atau di dalam kompleks Makam Habib Hasan Al-Hadad untuk ibadah dan belajar agama yang pemandangan ini menyejukan mata siapapun yang melihatnya dan menentramkan suasana, menjadi beringas dengan tangan menjinjing senjata apa adanya memukul dan melakukan kekerasan yang menimbulkan kerusakan, korban luka bahkan jiwa dan tidak sedikit dari mereka juga banyak yang menjadi korban.

Sekali lagi, hasil penelitian ini yang mengkaitkan hubungan masjid, radikalisme dan konflik menjadi relevan untuk digunakan sebagai refleksi dan refrensi untuk memberdayakan masjid sebagai pusat perdamaian, bukan sebagai tempat bersemainya bibit-bibit radikalisme. Apalagi di tengah persoalan ekonomi dan politik yang makin kencang mendera bangsa ini yang dapat dengan mudah disulut menjadi konflik antar umat beragama untuk kepentingan-kepentingan tertentu. **

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Write a Reply or Comment

four × 2 =