MEDIA SOSIAL SARANA PALING MUDAH UNTUK BERDAKWAH

Seminar nasional di Unisnu Jepara, Jawa Tengah
Jepara, JIC — Media sosial (Medsos) merupakan salah satu media yang paling mudah bagi pemula untuk berdakwah (mengajak kebaikan) saat ini dan yang akan datang. Pasalnya, di samping murah, juga banyak masyarakat di semua lapisan dapat dipastikan memiliki yang namanya facebook, twitter, WA, dan instagram.
“Kemajuan teknologi semestinya dapat dimanfaatkan untuk berdakwah dengan biaya yang sangat murah dan praktis,” ujar Direktur NU Online, Savic Ali.
Hal itu diungkapkan dalam Seminar Nasional “Dakwah Melalui Media Alternatif” yang berlangsung di Ruang Seminar Pascasarjana Universitas islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara, Rabu (7/8) kemarin.
Dalam kegiatan yang diikuti mahasiswa dan pelajar SMA sederajat itu Savic mengatakan, untuk generasi milenial bisa memanfaatkan Instagram (IG) dengan membuat quote yang inspiratif dan yang baik-baik. “Quote adalah kalimat indah dan inspiratif untuk memengaruhi orang lain,” terang kader muda NU asal Pati, Jawa Tengah ini.
Dijelaskan, quote-quote itu bisa bersumber dari Al-Qur’an, Hadits, petuah ulama, buku maupun dari seumber yang lain. Dengan menulis kutipan-kutipan tersebut ia berharap untuk menuliskannya dengan benar.
“Sarana dan cara itu penting, tetapi yang lebih penting adalah tujuannya,” tandasnya.
Mengapa dengan medsos? Savic yang juga founder islami.co kesempatan itu bertanya kepada peserta tentang Gus Baha’. Secara serentak mereka  dengan kompak menjawab mengenal sosok Gus tersebut yakni dari IG maupun Youtube.
“Karena media sosial, medium yang lebih gampang berdakwah kepada khalayak,” lanjutnya.
Disampaikan, zaman dulu jika ingin mengaji maka harus datang ke lokasi pengajian. Sekarang, dakwah lewat video dan sebagainya paparnya bertujuan untuk menjangkau orang tidak bisa berjumpa secara langsung.
“Prinsip dakwah itu mengajak orang sebanyak mungkin. Karena dunia internet lebih mudah. Internet bisa menjangkau 1000 orang lebih mudah, apalagi instagram jangkauannya luas,“ lanjutnya lagi.
Karena itu kepada mahasiswa dakwah dan komunikasi pihaknya juga mengajak untuk mengembangkan audio visual. “Jurusan dakwah harus bisa dakwah dengan lisan dan tulisan. Kuliah di jurusan olahraga harus pandai olahraga. Anda kuliah di jurusan dakwah juga harus pandai dalam berdakwah,” sindirnya kepada peserta yang jadi mahasiswa dakwah.
Seminar yang digelar Fakultas Dakwah dan Komunikasi Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) itu Savic didampingi mantan presenter TV, Ninok Hariyani.
Kesempatan itu, Ninok Hariyani menambahkan televisi merupakan salah satu media efektif namun saat ini penonton tivi semakin berkurang. Mengapa? karena menurut banyak riset lebih masyarakat lebih suka menggunakan media sosial.
Tiga medsos yang menurut Ninok yang paling banyak diakses adalah facebook, youtube, dan IG. “Saat ini memang format video yang banyak ditonton. Karena sudah zamannya,” jelas perempuan yang mukim di Semarang ini. “
Meski diakui, medsos kian diminati SARA, hoaks, dan sejenisnya banyak bertebaran di media sosial tersebut,” tandasnya.
Makanya, founder Akademi Data itu mewanti-wanti agar generasi milenial bisa membentengi diri serta bisa membedakan info yang baik dan info yang tidak baik.
Terkait SARA dan hoaks, Savic Ali juga memaparkan pentingnya memahami literasi media.
“Jangan percaya info yang hanya satu sumbernya. Hadits tingkatannya beda-beda ada mutawatir, dhaif, mursal, dan lain-lain. Santri punya informasi banyak tentang itu,” sebutnya.
Selain mengetahui sumber, yang patut diketahui adalah mengetahui dari sumber lain. “Ada narasumbernya tidak. Ada penulisnya tidak. Maka jika ada broadcast WA ada sebuah informasi tapi tidak ada penulisnya sama seperti hadits tanpa perawi,” tegasnya.
Seminar nasional yang berlangsung hingga siang hari itu menarik perhatian peserta karena dipimpin Anik Hikmawati, host dari mahasiswa KPI Unisnu Jepara. Selain kegiatan dilaksanakan sebagaimana talkshow juga meriahkan penampilan musik akustik mahasiswa Unisnu. (Mustaqim/Muiz)
sumber : nu.or.id

Write a Reply or Comment

17 − six =