MELAWAN COVID-19 DENGAN KEKUATAN STORYTELLING RAMADHAN

Nugroho Agung Prasetyo, S.Sos, MSi., Praktisi Public Relations, Pengurus ISKI Pusat & BPP Perhumas Indonesia                                                                                                Foto: Tangkapan Layar

Storytelling sangat tergantung 3 faktor: rasionalitas narasi, probabilitas, narasi.

JIC, — Ketika khalifah Umar bin Khattab radhiallahu anhu melakukan perjalanan ke Syam (Suriah) pada tahun 18 hijriah, terjadi serangan wabah besar di sebuah perkampungan bernama Amawas yang terletak antara Ramallah dan Baitul Maqdis. Wabah membuat puluhan ribu orang meninggal, termasuk beberapa sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Situasi tersebut membuat Umar bin Khattab radhiallahu anhu bermusyawarah dengan panglimanya dan kemudian mengurungkan niatnya masuk ke daerah Syam.

Hadits Riwayat Bukhori menyampaikan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam pernah mengatakan, “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada maka jangan tinggalkan tempat itu”. Warga diminta untuk melakukan isolasi mandiri untuk menekan penularan wabah penyakit tersebut. Sejarah Islam kemudian mengenal tempat tersebut dengan istilah Thaun Amawas (wabah Amawas).

Sesungguhnya banyak cerita menarik (storytelling) Ramadhan yang dihadirkan untuk membantu masyarakat melewati pandemi covid-19 yang melanda dunia saat ini, termasuk Indonesia. Storytelling adalah seni komunikasi paling efektif  yang dilakukan dengan menggunakan narasi atau tindakan lainnya untuk memberikan gambaran makna lewat sebuah cerita peristiwa sehingga mendorong imajinasi audiensnya memahami ide narasinya.

Dalam buku Communication Theories in Action, Walter Fisher mengistilahkan manusia sebagai homo Narran, atau makhluk pencerita. Pemikiran pakar teori naratif dalam ilmu komunikasi ini tak lepas dari teori moral Alasdair MacIntyre yang mengungkapkan kecenderungan manusia dalam tindakan identik sebagai makhluk pencerita. Cerita yang memiliki pengaruh kuat tak sekedar mengandalkan kekuatan kata-kata, tapi juga realita, logika, dan cara berpikir yang terhubung dengan audiensnya.

Walter Fisher juga memberikan gambaran keberhasilan storytelling sangat tergantung tiga faktor penting: rasionalitas narasi, probabilitas, dan kesetiaan narasi. Rasionalitas narasi berarti tingkat kepercayaan audiens, probabilitas melihat peluang cerita berdampak positif diterima audiensnya, dan kesetiaan terhadap narasi yang memperlihatkan kedekatan cerita dengan peristiwa atau pengalaman audiensnya.

Narasi storytelling dikembangkan dengan menggunakan imajinasi dan kecerdasannya untuk memahami orang lain dan dirinya sendiri. Sebagai bagian dari strategi komunikasi, storytelling dapat digunakan untuk mengatur dan menafsirkan fenomena kolektif ataupun individu, serta untuk memberikan pemahaman atas pengalaman pribadi kepada orang lain melalui sebuah proses berbagi kisah dan dialog.

Storytelling yang baik dikumpulkan melalui dengan fakta, data, ataupun peristiwa untuk dibagikan kepada orang lain sesuai kebutuhannya. Sebuah cerita ditafsirkan “baik” atau “buruk” oleh audiens tergantung sejauhmana narasinya masuk akal dan terkoneksi dengan apa yang ketahui atau dialami audiensnya. Konten apa pun saat tindak komunikasi hanya dapat efektif bila tingkat pembuatan narasinya terkorelasi dan masuk di akal audiensnya.

Bentuk dan minat manusia terhadap storytelling dapat dilihat dari narasi komunikasi, argumentasi, pemberitaan, hingga seni pertunjukan, baik secara langsung maupun melalui media. Salah satunya juga terlihat dari meningkatnya kecenderungan minat masyarakat dalam menjadikan televisi sebagai teman di bulan suci Ramadhan saat covid-19 mendera.

Sejumlah pembatasan sosial untuk menghentikan penyebaran virus covid-19, membuat masyarakat lebih aman dan nyaman berada di rumah. Sehingga berdampak pada meningkatnya durasi pemanfaatan media elektronik dan media online.

Studi Nielsen hingga awal April 2020 menunjukkan pola peningkatan jumlah penonton dan durasi menonton televisi belakangan ini. Selain tumbuhnya penonton televisi anak yang terpaksa harus belajar di rumah, masyarakat kelas atas (upper class) yang biasa sibuk bekerja di kantor juga terlihat mengalami peningkatan tertinggi dalam menjadikan televisi sebagai teman Work From Home (WFH)-nya. Dari Januari ke April 2020 misalnya, durasi menonton televisi kelompok target pemirsa upperclass 2 mengalami pertumbuhan dari 4 jam 57 menit menjadi 5 jam 30 menit.

Parameter kekuatan storytelling di televisi yang diterima masyarakat di tengah Covid19 memasuki Ramadhan juga terefleksi dari kecenderungan minat masyarakat terhadap program televisi yang ditawarkan. Hasil riset kepemirsaan Nielsen setidaknya memberikan gambaran 10 besar teratas tayangan televisi yang diminati pemirsa yang tak dapat lepas dari storytelling/cerita.

Besarnya penonton anak yang harus belajar di rumah ditunjukkan dengan hadirnya kekuatan storytelling dua dari tiga animasi anak di 10 besar program televisi yang berhasil menempati posisi teratas persaingan program televisi di awal Ramadhan dengan share/rating sebesar  4.8/17.6 dan 4.7/17.7 pada periode 24 April – 1 Mei 2020. Disusul dengan storytelling Ramadhan yang dimunculkan lembaga penyiaran lewat cerita-cerita drama religi yang dibalut dengan sentuhan komedi ringan. Sebanyak 7 cerita drama religi berhasil menguasai 10 besar persaingan kepemirsaan program televisi pada periode awal Ramadhan tersebut.

Cerita renyah Preman Pensiun dengan share rating 4.5/23.9, Amanah Wali (4.0/14.7), Insya Allah Surga (3.6/13/9), dan Kun Anta (3.5/13.1) paling tidak membuktikan begitu kuatnya storytelling Ramadhan bernuansa drama religi berbau komedi menemani pemirsa televisi melewati pandemi covid-19 di rumah. Data yang dirilis Nielsen ini seharusnya dapat menjadi gambaran besarnya tanggung jawab moral media di bulan Ramadhan kali ini dalam memberikan pengaruh positif masyarakat lewat storytelling di tengah kondisi krisis Kesehatan yang berpotensi pada tekanan sosial ekonomi saat ini.

Storytelling yang dihadirkan pejabat berwenang, KOL (tokoh masyarakat), maupun media sesungguhnya menjadi peta penting perjalanan kita melewati “badai” pandemi covid-19 saat ini. Dibutuhkan komitmen kuat, moralitas, dan pesan-pesan storytelling positif yang dibangun berdasarkan data fakta dan logika yang tepat untuk dapat menjadi pegangan masyarakat mengantisipasi kondisi saat ini.

Manajemen krisis yang baik membutuhkan storytelling yang dekat dengan masyarakatnya dan kebijakan-kebijakan terpadu dari para pemimpinnya, sehingga mampu membantu masyarakat lepas dari kebingungan dan keresahan, serta meredam kepanikan sosial ekonomi secara terintegrasi. Semoga kemenangan Ramadhan melewati covid-19 dapat diraih dengan semangat berbagi storytelling positif dalam kebersamaan menjadikan Indonesia lebih sehat.

Oleh: Nugroho Agung Prasetyo, S.Sos, MSi., Praktisi Public Relations, Pengurus ISKI Pusat & BPP Perhumas Indonesia

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

DEWAN SOROTI PENGHAPUSAN TUNJANGAN ASN PEMPROV DKI MULAI MEI

Read Next

MUDIK DILONGGARKAN, MUI MINTA MASYARAKAT PIKIRKAN MASLAHAT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

five − three =