MELAWAN INDOKTRINASI

Orang-orang yang telah tercuci otaknya melalui indoktrinasi oleh kelompok NII menjadi berita populer belakangan ini. Persoalan indoktrinasi juga meresahkan para orang tua di wilayah Jakarta Utara, terutama yang tinggal di Kecamatan Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing. Mereka resah melihat anak-anaknya yang belum berinjak remaja atau sudah remaja setiap malam Jum`at dengan peci putih, koko putih dan bersarung tanpa rasa takut menaiki truk-truk kontener untuk mendatangi pengajian Makam Mbah Priok yang berlangsung sampai lewat tengah malam.

Orang-orang yang telah tercuci otaknya melalui indoktrinasi oleh kelompok NII menjadi berita populer belakangan ini. Persoalan indoktrinasi juga meresahkan para orang tua di wilayah Jakarta Utara, terutama yang tinggal di Kecamatan Koja, Tanjung Priok, dan Cilincing. Mereka resah melihat anak-anaknya yang belum berinjak remaja atau sudah remaja setiap malam Jum`at dengan peci putih, koko putih dan bersarung tanpa rasa takut menaiki truk-truk kontener untuk mendatangi pengajian Makam Mbah Priok yang berlangsung sampai lewat tengah malam. Di pengajian tersebut mereka mendapat indoktrinasi sehingga semakin mantap untuk selalu mengaji ke makam, daripada sekolah, membela keberadaan makam mati-matian bahkan lebih dari itu.

Indoktrinasi sendiri bermakna memberikan pemberian ajaran secara mendalam (tanpa kritik) atau penggemblengan mengenai suatu paham atau doktrin tertentu dengan melihat suatu kebenaran dari arah tertentu saja. Persoalan indoktrinasi anak-anak dan remaja Makam Mbah Priok bahkan menjadi salah satu sesi pembahasan yang dibahas terakhir menjelang penutupan pada Rapat Kerja Tahun 2011 Pengurus MUI Kecamatan dan Kelurahan Se-Kota Administrasi Jakarta Utara yang berlangsung selama dua hari di Jambu Luwuk, Bogor.

Pada sesi tersebut dijelaskan bahwa memulihkan anak-anak dan remaja korban indoktrinasi lebih tepat dengan menggunakan pelatihan model fasilitasi, bukan dengan pendidikan atau pembinaan. Dengan pendekatan fasilitasi, peserta tidak merasa digurui, tidak antipati dan tidak memunculkan penolakan karena mereka adalah ”gelas penuh” yang diubah warnanya dari dalam, bukan mengisi dengan isian dari luar.

Fasilitasi sendiri, menurut Wahyudin Supeno, merupakan salah satu kegiatan penting yang dilakukan oleh pendamping dalam upaya memberdayakan masyarakat. Istilah fasilitasi banyak digunakan dikalangan praktisi dan aktivis LSM, ORNOP, dan NGO untuk menyatakan suatu bentuk ‘intervensi’ atau dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas individu, kelompok atau kelembagaan dalam masyarakat. Dikalangan bisnis, konsep fasilitasi seringkali digunakan untuk memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam mengenal kebutuhannya. Dengan ungkapan lain, fasilitasi menjadi bagian penting dalam suatu kegiatan, program, atau organisasi untuk mempermudah proses belajar.

Dalam konteks fasilitasi anak-anak dan remaja korban indoktrinasi, tidak hanya untuk kasus Mbah Priok, istilah fasilitasi biasa dikaitkan dengan pola pendampingan, pedukungan atau bantuan oleh masyarakat sebagai ‘upaya untuk memberikan memberikan kemudahan’, kepada anak-anak dan remaja tersebut agar mampu mengerahkan potensi dan sumber daya untuk menghilangkan pengaruh indoktrinasi yang diterima mereka selama ini. Biasanya tindakan ini diikuti dengan pengadaan personil, tenaga pendamping, relawan atau pihak lain yang berperan memberikan penyuluhan, penerangan, bimbingan, terapi psikologis, penyadaran agar para korban yang ‘tidak tahu’ini menjadi ‘tahu dan sadar untuk berubah’.

Untuk terapi psikologis dalam model fasilitasi ini, Jakarta Islamic Centre (JIC) melalui bidang Pengkajian dan Diklat tengah mengembangkan Qolbu Linguistic Programming yang merupakan pengembangan NeuroLinguistic Programming (NLP) yang diperkenalkan oleh KH.Wahfiudin Sakam, mubaligh nasional yang kini memimpin Bidang Pengkajian dan Diklat JIC. Berbeda dengan NLP, teknik-teknik dalam QLP menggunakan pendekatan dzikir.

Dalam kajian yang dilakukan oleh JIC, QLP sangat tepat untuk anak-anak dan remaja korban indoktrinasi karena pada hakekatnya mereka sedang mengalami gangguan psikologis. Kejiwaan mereka tidak seperti kejiwaan layaknya anak-anak dan remaja pada umumnya. Terapi psikologis harus dilakukan dalam keadaan rileks dimana gelombang otak berada dalam gelombang Alpha-Theta yang salah satunya dapat dicapai dengan dzikir. Relaksasi dzikir ini merupakan bentuk sikap pasif atau pasrah dengan menggunakan kata yang diulang-ulang sehingga menimbulkan respon relaksasi yaitu tenang. Respon relaksasi yang digabungkan keyakinan ini sudah dikembangkan oleh Benson (2000), dimana dengan mengulang kata yang dipilih dapat membangkitkan kondisi relaks. Menurutnya metode penggabungan ini lebih efektif bila dibandingkan dengan relaksasi yang tidak melibatkan faktor keyakinan (tentunya hal juga didukung oleh penelitian).

Relaksasi dzikir tidak hanya bermanfaat bagi anak-anak dan remaja yang mengalami gangguan psikologis, tetapi juga bagi yang tidak mengalaminya. Untuk itu, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada hari Senin, 2 Mei 2011, JIC mengajak kepada seluruh pelajar untuk menghadiri acara dzikir yang akan dipimpin oleh Syekh KH. Saifudin Amsir yang dihadiri oleh Wakil Menteri Pendidikan RI, Prof. Dr. Fasli Jalal. PhD, dan Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Dr. Ing H.Fauzi Bowo. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

“Pengganggu Bising”, Israel Segera Larang Adzan di Al-Quds

Read Next

Dikepung Demostran, Rapat Umum Anti-Islam di AS Terhenti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − twelve =