MEMBLUDAKNYA HIJRAH FEST: MILENIAL TAK PEDULI ISLAM? ( 2 )

JIC, JAKARTA- Di dekat pintu masuk, terlihat berderet booth sponsor utama gelaran ini. Mereka membagikan goodie bag yang dikemas dalam tas yang bisa digunakan untuk menyimpan alas kaki. Jangan bayangkan sepatu dan sandal ditenteng dengan tas kresek hitam. Tas sandal yang dibagikan keren-keren bertulis logo acara dan brand mereka.

Kejutan berikutnya, hampir separuh hall JCC yang begitu luas itu ditutup karpet berwarna abu-abu. Main event ini adalah kajian dakwah, sehingga separuh venue dialokasikan untuk kegiatan itu. Bazar yang dihadirkan hanyalah pelengkap.

Sekalipun sebagai pelengkap, namun semuanya menarik. Ada booth yang menjual produk-produk bersertifikasi halal dari jaringan global dunia. Ramen dan beras instan dari Jepang, cokelat dan biscuit dari Inggris, hingga kudapan manis khas Turki.

Saya membeli sekotak kurma madjol kualitas grade A yang diimpor langsung dari Palestine. Tak hanya kurma, booth ini juga menghadirkan beragam produk unggulan dari Palestine lainnya, seperti olive oil yang sangat sedap.

Ada juga Warung Waqaf, sebuah jaringan waralaba convenience store dengan konsep waqaf. Dan tentu saja, berderet brand fashion dan distro muslim.

Saya tersenyum melihat pemandangan ini. Seperti ada kupu-kupu beterbangan di hati. Perempuan-perempuan muda dalam balutan hijab berwarna-warni, tak sedikit yang berniqab rapat, hilir mudik sambil asyik mendengarkan kajian.

Anak-anak muda mengenakan celana jogger dan koko keluaran distro-distro muslim ternama dengan desain dan tulisan dakwah yang atraktif berada di area yang berbatas penghalang besi dengan area akhwat.

Saya membaca tulisan di salah satu kaus yang dikenakan: Generasi Salahudin Al Ayyubi. Si pemilik yang sepertinya berusia awal 20-an terlihat asyik membaca buku kecil “Dzikir Pagi & Petang” sambil duduk bersimpuh mendengarkan kajian.

photo

Suasana stand busana muslim dalam acara Hijrah Fest 2018 yang diselanggarakan di Jakarta Covention Center, Jakarta, Jumat (9/11).

Fenomena seperti ini tak ada di zaman saya seumur mereka. Saya ingat, sewaktu SMP dan SMA saya membuat kajian perempuan di rumah bersama teman-teman. Beberapa mahasiswi UNS bergantian menjadi mentor kita setiap akhir pekan. Teman-teman yang ikut dalam kajian ini adalah mereka yang betul-betul ingin belajar agama, istilah mudahnya anak-anak Rohis.

Tidak ada suasana seperti yang saya lihat sore ini. Di zaman itu mindsetnya belajar agama harus serius. Tidak ada suasana yang fun dan menyenangkan seperti ini. Gelombang hijrah generasi ini memang luar biasa. Sudut mata saya terasa hangat.

Parade kesalehan itu makin terlihat. Menjelang Maghrib, antrean wudhu peermpuan mengular rapi. Tidak ada yang saling serobot. Semua berbaris satu per satu dengan tertib. Saya belum pernah melihat antrean setertib ini dalam banyak event yang digelar di JCC.

Sepuluh menit menjelang adzan, panitia di panggung utama memberi pengumuman bagi semua booth untuk segera menutup gerainya. Bila sampai waktu shalat masih ada yang melakukan transaksi, maka gerainya akan kena sanksi tidak boleh berjualan lagi esok hari.

Suasana yang semula riuh tiba-tiba senyap manakala adzan mulai berkumandang. Panggilan shalat yang disuarakan dengan langgam khas Madinah itu terasa menggetarkan hati. Wajah-wajah belia yang terlihat basah oleh siraman air wudhu tertunduk khusuk mendengar seruan ilahi.

Suara sang imam Muzammil Hasballah, hafidz muda lulusan ITB yang bersuara indah, mulai terdengar saat meminta jamaah meluruskan dan merapatkan shaf shalat. “Jadikan shalat ini seakan shalat terakhir kita,” katanya lembut, namun tak urung membuat bulu kuduk saya meremang. Ya Rabb, seandainya ini Maghrib terakhir saya, jadikan ini sebagai jalan ke surgaMu.

Setelah Alfatihah, lalu terdengar bacaan surat Ar-Rahman yang sangat indah… Fabi-ayyi ala-i rabbikuma tukazziban [Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?]

photo

Suasana acara Hijrah Festival 2018 yang digelar di Hall A JCC Senayan, Jakarta. Acara yang akan menampilkan sejumlah ustadz dan artis yang sudah berhijrah ini berlangsung pada 9-11 November 2018.

Allah tidak akan menyiakan-nyiakan hambanya yang memilih jalan hijrah. Seperti Allah mengganti hijrahnya Nabi Musa dari Mesir dengan tanah Palestine yang diberkahi. Seperti hijrahnya Nabi Ibrahim dan wanita mulia Ibunda Hajar dan Ismail dari Palestine dan menggantinya dengan Tanah Suci Mekkah. Seperti hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke negeri yang penuh berkah Madinah.

Mari bersama-sama meneguhkan hati: ini saatnya berhijrah, sembari terus memohon, semoga Allah izinkan untuk tetap istiqamah.

Sementara itu, Kepala Keamanan Hijrah Fest 2018 Steven Indra Wibowo mengatakan antusiasme masyarakat salah satunya disebabkan karena kegiatan itu diinisiasi oleh publik figur yang hijrah. Hal itu yang menarik minat masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan. Dia mencontohkan magnet paling menarik masyarakat yakni kehadiran Ustaz Abdul Somad.

Melihat antusiasme masyarakat, Steven optimistis acara Hijrah Fest 2019 mampu menarik 15 ribu hingga 20 ribu peserta per hari. Dia mengatakan panitia berencana menyelenggarakan Hijrah fest 2019 selama lima hari di seluruh kawasan Senayan pada Ramadhan tahun depan.

 

 

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

three × 5 =