MENAG BERHARAP MUKTAMAR PEMIKIRAN SANTRI DIGELAR TIAP TAHUN

Tantangan ke depan sangat dinamis dan itu perlu direspons secara cepat dan tepat.

JIC, JAKARTA — Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meminta agar Muktamar Pemikiran Santri Nusantara bisa berkesinambungan. Hal ini disampaikan usai membuka Muktamar Pemikiran Santri dengan harapan forum aktualisasi para santri ini bisa digelar tiap tahun.

“Harapannya ini menjadi forum tahunan dan bisa menghasilkan rekomendasi yang bisa ditindaklanjuti. Bukan saja bagi Kemenag, tapi juga untuk berbagai kalangan,” ucap Menag dalam keterangan tertulis yang didapat Republika.co.id, Kamis (11/10).

Menag menilai muktamar ini sebagai program terobosan Kemenag agar ada forum tahunan bagi santri untuk mengaktualisasikan pemikirannya dalam merespons persoalan masyarakat. Kemenag berkomitmen membuat wadah dalam bentuk muktamar dan di situ akan dibahas beberapa tema keagamaan dan kemasyarakatan.

Salah satu contoh yaitu munculnya pandangan keagamaan yang ekstrem hingga melahirkan tindakan radikal, harus direspons dunia pesantren. Dia mengatakan, para ulama, kiai, dan santri punya otoritas untuk membicarakan ini dari perspektif keilmuan yang mereka kuasai.

“Tugas kami di Kemenag adalah memfasilitasi kaum santri dan pesantren untuk memiliki forum tahunan, tempat mengaktualisasikan pemikiran,” jelasnya.

Usulan Muktamar harus digelar setiap tahun menurut Menag karena tantangan ke depan sangat dinamis dan itu perlu direspons secara cepat dan tepat. Setidaknya setiap tahun ada ruang santri untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi umat.

Muktamar yang digelar di Krapyak, Semarang, Jawa Tengah ini akan berlangsung hingga 12 Oktober mendatang. Muktamar dilaksanakan dalam dua bentuk kegiatan, yaitu Special Panel dan Panel Session.

Kegiatan pertama akan disampaikan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri, di antaranya KH Afifuddin Muhajir (Majelis Masyayikh), KH Husein Muhammad, Muazzam Malik (Duta Besar Inggris), Malik Ballen (Director Official, Leiden University), Syaikh Bilal Mahmud Afifi Ghanim (al-Azhar University), dan Dr Syaikh Salim Alwan al-Husayny (Darul Fatwa Australia).

Bentuk kegiatan kedua atau Panel Session diikuti 175 peserta yang telah dinyatakan lolos seleksi call for paper sesuai tema yang akan dibahas di muktamar. Event ini digelar sebagai bagian dari rangkian peringatan Hari Santri Nasional (HSN). Puncak peringatan HSN sendiri akan digelar di Bandung pada 21 Oktober 2018.

 

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

five + nine =