MENAG NILAI LITERASI JADI VAKSIN HADAPI INTOLERANSI DAN DISKRIMINASI

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan pemaparan saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi VIII DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (31/5/2021). Rapat kerja tersebut membahas tindak lanjut persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1442 H dan isu-isu aktual lainnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak 

JAKARTA, JIC – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, salah satu solusi dari masalah intoleransi dan diskriminasi di Indonesia adalah peningkatan literasi publik.

Hal itu ia katakan saat menerima Audiensi Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap (Komnas) Perempuan, di kantor Kementerian Agama (Kemenag), Jakarta. “Ini (peningkatan literasi) menjadi vaksin bagi kita untuk menghadapi paham-paham yang keras, khususnya diskriminasi dan intoleransi keagamaan,” kata Yaqut dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (15/10/2021).

 

Adapun audiensi dengan Komnas HAM ini membahas tentang hak perempuan pada keyakinan minoritas yang dihadir, para Staf Khusus dan Staf Ahli Menag, serta Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Nifasri. Sementara dari Komnas Perempuan, hadir Ketua Komnas, Andy Yentriyani, bersama Olivia Salampessy, Dewi Kanti, Alimatul Qibtiyah, Veryanto Sitohang, Nahe’i Rahi, Dahlia dan Triana Komalasari.

Dalam pertemuan itu, Yaqut mengajak Komnas Perempuan bersinergi dalam peningkatan literasi publik karena yang dibutuhkan saat ini adalah aksi bersama dalam mencerahkan masyarakat.

“Kita sama-sama tahu persoalan yang ada. Mari sama-sama kita cari solusinya dengan baik dan bijaksana,” ujarnya. “Mari kita perbanyak forum, untuk meningkatkan literasi atas persoalan yang kita rasakan. Literasi pengetahuan adalah kunci toleransi,” kata Yaqut.

Sementara itu, Ketua Komnas Perempuan Andy Yentriyani menyampaikan keinginan sejumlah pemeluk agama di luar enam agama yang banyak dianut di Indonesia. Terutama, terkait pemenuhan hak-hak adminsitrasi kependudukan. Andy juga menyampaikan persoalan Ahmadiyah di Sintang.

“Dari pada terjebak pada penyeragaman, kita mencoba melihat dari Budaya, bahwa Bangsa Indonesia beragam, busana itu bukan identitas politik beragama,” kata Andy. Andy juga mengaku pihaknya terus berupaya menggelorakan semangat pengelolaan keragaman Indonesia dengan baik, utamanya keragaman pandangan dalam dunia pendidikan.

 

Sumber : Kompas.com,

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

UMMU AIMAN PENGASUH RASULULLAH

Read Next

FPI HINGGA RIZIEQ SHIHAB MASUK DAFTAR HITAM, BEGINI PENJELASAN FACEBOOK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + seventeen =